Breaking News

Awalnya Takut Ketinggian, Begitu Sekali Meluncur Rappeling Jadi Ketagihan

Anggota Gempa dan Sispala latihan meluncur dari gedung di SMAM 8 Gresik. (Al Ibhaam/PWMU.CO)




PWMU.CO –Tak kalah dengan Spiderman, keseruan aksi meluncur dari atas gedung dipraktikkan Generasi Muda Pecinta Alam (Gempa) SMA Muhammadiyah 8 Cerme Gresik ketika latihan bersama Siswa Pecinta Alam (Sispala Muda) SMK Muhammadiyah 2 Gresik, Ahad (22/9/2019).
Kegiatan bertempat di SMA Muhammadiyah 8 diawali dengan pengenalan alat (safety set). Dilanjutkan dengan demo rappeling dipandu Faulam, anggota Gempa.
”Rappelling salah satu cara mendobrak diri mengatasi rasa takut dan meningkatkan rasa percaya diri. Banyak yang awalnya takut belakangan malah jadi ketagihan,” ujar Faulam.
Kemudian dikenalkan peralatan rappelling. Seperti tali Kernmantle yang terdiri dua bagian inti dan jaket. Kekuatan tali terletak pada inti, sementara jaket sebagai penahan gesekan.
Ada  carabiners atau  cincin kait salah satu alat pengaman yang  multifungsi sebagai cara mengikat atau mengait yang praktis.  Ada lagi hearnes,  alat pengaman menahan dan mengikat badan.
Webbing  atau  tali pita. Disebut juga sling bisa dipakai sebagai seat hearnes, tali pengaman, atau kebutuhan lain.
Lain lagi alat descender. Bentuknya semacam angka 8. Dimasukkan ke tali berfungsi untuk rem waktu turun meniti tali karmantel. Menjaga tubuh tidak tergesek tali, dan tidak sampai meluncur bebas.
Terakhir anchor atau jangkar untuk mengikat ujung tali. Anchor bisa memakai benda yang tersedia seperti tonggak, batu, pohon, tiang.
Faulam menjelaskan, ketika meluncur turun dengan melangkah mundur posisi telapak kaki dipijakkan ke dinding. Posisi badan doyong ke belakang sekitar 60 derajat.
”Tangan kiri memegang tali di depan, tangan kanan memegang tali di belakang. Kontrol ada di tangan kanan. Agar kita bisa bergerak mundur. Jangan ragu melontarkan badan ke belakang karena dengan begitulah tali bisa bergerak ke bawah,” kata Faulam.
Supaya gerakan ke bawah tidak terlalu cepat, sambung dia, tali yang digenggam dengan tangan kanan harus diletakkan di belakang pinggang. Berfungsi untuk menahan agar tidak meluncur.
Posisi kaki juga tidak boleh terlalu ditekuk. Idealnya kaki lurus agar badan kita tidak goyah ke kanan dan kiri, dengan demikian posisi kita akan stabil.  
”Jangan takut kalau merasa tidak kuat menahan laju tali, karena ada pemandu yang melakukan belaying di bawah. Kalau sampai kita terlalu meluncur, pemandu di bawah sigap menahan,” katanya.
Setelah penjelasan teknis rappeling, peserta menuju lantai 3 gedung sekolah untuk latihan meluncur secara bergantian. Diawali oleh anggota Gempa disusul oleh anggota SIspala.
Peserta  bersemangat mengikuti olahraga menantang ini. Malah ada yang berlagak sok berani. Begitu alat terpasang  lalu waktunya meluncur tiba-tiba nyali menciut.
 “Kok tinggi juga ya… Sereem,” ujar seorang peserta. Ada rasa takut. Tapi setelah mengumpulkan keberanian dan pemandu mengingatkan tekniknya maka meluncurlah dia. ”Asyik….,” katanya setelah kaki menginjak tanah dengan lega dan tertawa lebar.
Para pemula bergantian mencoba. Berkali-kali karena adrenalinnya mengalir deras menjadi ketagihan tantangan ini. Sesudah para pemula puas, giliran anggota Gempa dan Sispala yang berpengalaman meluncur dengan berbagai teknik. Ada yang meluncur dengan posisi terbalik. Kepala di bawah kaki di atas. (*)
Penulis Chintia Rizki Editor Sugeng Purwanto
sumber : https://pwmu.co/111532/10/01/awalnya-takut-ketinggian-begitu-sekali-meluncur-rappeling-jadi-ketagihan/

No comments