SMAMDELAGRES — Di Ruang Ujian Hasil SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Selasa pagi (21/1/2026), sebuah lampu LED kecil menyala pelan.
Pukul 08.00–09.00 WIB, di hadapan penguji, cahaya itu menjadi penanda bahwa kincir angin mini yang dirakit Diesta Niken benar-benar bekerja. Bukan dari listrik utama, melainkan dari putaran angin yang menggerakkan dinamo sederhana.
Presentasi tersebut merupakan bagian dari ujian hasil Project Based Learning (PjBL) kelas XII, sebuah program pembelajaran yang secara rutin dilaksanakan SMA Muhammadiyah 8 Gresik untuk membekali siswa sebelum terjun ke dunia setelah lulus SMA.
Sebelumnya Niken telah melewati ujian proposal pada Desember 2025. Dia merancang papan bekas diubah menjadi kincir angin kecil yang menggerakkan dinamo listrik. Karya itu lantas dipresentasikan di hadapan guru penguji hari itu.
Niken menjelaskan, karya ini berangkat dari isu polusi udara dan pemanasan global. Lantas dia merancang kincir angin mini sebagai alternatif energi ramah lingkungan.
”Bahannya sederhanan berupa papan bekas, dinamo, dan komponen yang dirangkai menjadi pembangkit listrik skala kecil,” katanya.
Baginya, persoalan lingkungan bukan sekadar materi pelajaran, melainkan realitas yang menuntut sikap dan tindakan nyata.
Proyek ini bukan tugas akademik semata, ujarnya. Dalam skema PjBL, siswa dituntut mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus mengasah hard skill dan soft skill.
”Karya ini dari pembelajaran lintas mata pelajaran Fisika, Matematika, dan Biologi yang dipadukan dalam satu rangkaian,” ujarnya.
Dari Fisika, mempelajari prinsip perubahan energi angin menjadi energi listrik melalui putaran dinamo, yang kemudian dimanfaatkan untuk menyalakan lampu LED sebagai bukti fungsi alat.
Keterbatasan alat ukur justru menjadi ruang belajar tersendiri. Pengganti alat pengukur, Niken menggunakan stopwatch pada ponselnya untuk menghitung Revolutions Per Minute (RPM) secara manual selama 15 detik. Lalu mengonversinya dengan perhitungan matematis sederhana.
Proses ini melatih ketelitian, kejujuran data, sekaligus kemampuan berpikir analitis yakni kompetensi penting yang dibutuhkan setelah lulus sekolah.
Di tengah padatnya aktivitas sebagai panitia berbagai kegiatan sekolah, Niken tetap menyempatkan diri menyempurnakan alatnya.
Tantangan muncul saat pameran Synfest pada 27 Januari 2026 lalu, ketika kondisi angin tidak menentu membuat kincir sulit berputar stabil.
Lantas ia menambahkan baterai dan sakelar agar sistem tetap berfungsi saat dipresentasikan. Pengambilan keputusan ini mencerminkan kemampuan problem solving dan adaptasi, bagian dari soft skill yang menjadi tujuan utama PjBL.
Aspek Biologi menjadi landasan nilai dari proyek tersebut. Niken mengaitkan penggunaan energi terbarukan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca serta dampak energi fosil terhadap kesehatan lingkungan dan makhluk hidup.
”Dengan demikian, kincir angin mini ini tidak hanya berfungsi sebagai alat peraga sains, tetapi juga sebagai media edukasi kesadaran ekologis,” tuturnya.
Karya tersebut mendapat apresiasi dari Emi Faizatul Afifah, M.Si, penguji yang juga Kepala SMA Muhammadiyah 8 Gresik.
Menurut Emi, rangkaian PjBL yang dijalani siswa kelas XII menjadi bekal penting sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan tinggi maupun dunia kerja.
“Yang kami nilai bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses berpikirnya. Di tengah keterbatasan alat dan waktu, siswa tetap mampu melakukan analisis, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Inilah esensi pembelajaran abad ke-21,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa mengembangkan karakter, kreativitas, dan kepedulian sosial secara bersamaan.
“Inovasi tidak harus mahal atau rumit. Dari kesederhanaan seperti inilah kesiapan mental dan kompetensi siswa untuk menghadapi dunia pasca SMA mulai dibentuk,” tambahnya.
Meski menyadari masih terdapat keterbatasan, Niken merasa puas dengan hasil yang dicapai. “Walaupun alatnya sederhana dan penghitungan masih manual, setidaknya kincir ini bisa menyadarkan kita untuk mulai mencegah pemanasan global lewat energi alternatif,” ungkapnya. (#)
Jurnalis Fahri Zaidan | Sumber : Tagar.co
