SMAMDELAGRES — Tiga tahun terasa singkat bagi Fahri Zaidan Maulana. Di hadapan guru, orang tua, dan ratusan siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik, siswa kelas XII itu berdiri membawa satu hal yang sama dirasakan teman-teman seangkatannya: kenangan tentang perjalanan yang perlahan sampai di titik perpisahan.
Dalam Haflah Akhirissanah XXXVI dan Tahfizul Qur’an V yang digelar di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Ahad, 10 Mei 2026, Fahri dipercaya mewakili siswa kelas akhir untuk menyampaikan kesan dan pesan angkatan ke-36 Smamdela.
Fahri melangkah menuju podium dengan tenang. Di hadapan guru, orang tua, dan ratusan siswa, ia berdiri bukan hanya sebagai perwakilan kelas XII, tetapi juga sebagai wajah dari perjalanan panjang angkatan yang akan segera meninggalkan bangku sekolah.
Sosok Fahri sendiri sudah cukup dikenal di lingkungan sekolah. Ia kerap menorehkan prestasi akademik maupun nonakademik untuk SMA Muhammadiyah 8 Gresik. Prestasi terbarunya adalah meraih Juara 3 Duta Genre 2026 Kabupaten Gresik.
Namun dalam momen perpisahan itu, Fahri hadir bukan untuk membicarakan pencapaian. Dengan suara yang tertata tenang, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada guru-guru yang selama ini mendampingi para siswa, bukan hanya dalam pelajaran, tetapi juga dalam membentuk karakter dan semangat untuk terus bertumbuh.
“Yang tidak terasa, ternyata tiga tahun berjalan secepat ini,” ucapnya di awal pidato.
Kalimat sederhana itu seakan mewakili perasaan banyak siswa yang hadir siang itu. Sebagian tersenyum, sebagian lain larut mengenang perjalanan mereka selama di bangku SMA.
Fahri tidak berbicara dengan kalimat-kalimat besar. Ia memilih menyampaikan hal-hal yang dekat dengan kehidupan para siswa: proses, kegagalan, perjuangan, dan mimpi yang perlahan tumbuh selama masa sekolah.
“Hari ini kita berdiri di akhir perjalanan sebagai siswa, sekaligus awal dari perjalanan baru yang lebih besar. Entah menjadi mahasiswa atau menjadi seorang pekerja,” katanya.

Bagi Fahri, perjalanan selama di SMA bukan sesuatu yang mudah. Ia mengingat bagaimana setiap siswa datang dengan latar belakang, persoalan, dan tantangan yang berbeda-beda. Namun dari cerita yang beragam itu, mereka tumbuh bersama sebagai satu angkatan.
Menurut Fahri, setiap cerita dan perjuangan yang dilalui bersama ikut membentuk perjalanan angkatan mereka selama di Smamdela.
“Segala proses, sekecil apa pun langkahnya, telah membawa kita sampai di titik ini,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Fahri juga mengenang berbagai fase yang pernah dihadapi siswa Smamdela, mulai dari tugas yang menumpuk, ujian sekolah, hingga tekanan menjelang kelulusan yang menguras tenaga dan pikiran.
Menurutnya, semua itu bukan sekadar proses akademik.
“Semua ini bukan sekadar ujian akademik, tetapi proses yang melatih dan mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya,” tuturnya.
Ia mengaku belajar bahwa menjadi siswa bukan hanya soal nilai, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu bertahan, bangkit, dan terus melangkah menjadi lebih baik setelah mengalami kegagalan.
“Saya belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang menguatkan kita,” katanya.
Sebagai siswa yang dikenal aktif dan berprestasi Fahri juga mengingatkan pesan K.H. Ahmad Dahlan kepada generasi muda Muhammadiyah agar terus menuntut ilmu di mana pun berada, menjadi pribadi profesional, lalu kembali mengabdi untuk Muhammadiyah dan masyarakat.

Dalam bagian akhir pidatonya, Fahri menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua dan guru-guru Smamdela yang selama ini mendampingi para siswa, bahkan ketika mereka masih mencari jati diri.
“Terima kasih kepada orang tua kami yang tidak lelah mendukung dan percaya kepada kami, bahkan di saat kami belum menemukan diri kami sendiri,” ucapnya.
Ia juga menyebut para guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi turut membentuk karakter dan arah masa depan siswa-siswanya.
“Setiap nasihat dan ilmu yang diberikan akan selalu kami ingat untuk menjadi versi terbaik diri kami masing-masing,” katanya.
Menjelang akhir pidato, Fahri memberi pesan kepada teman-temannya untuk terus bermimpi dan berjuang menghadapi masa depan.
“Dunia ke depannya tidak akan menuntut kita untuk menjadi sekadar cukup. Kita harus berani mencoba dan terus berkembang,” ujarnya.
Ia kemudian menutup pidatonya dengan pesan sederhana yang disambut tepuk tangan para hadirin.
“Ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar. Persiapkan kapal-kapal kalian untuk berlayar menuju impian kalian masing-masing,” tuturnya.
Di hari perpisahan itu, Fahri tidak sekadar menyampaikan sambutan mewakili angkatan. Ia meninggalkan potongan cerita tentang masa sekolah, tentang proses bertumbuh, dan tentang harapan bahwa generasi Smamdela akan terus melahirkan anak-anak muda yang berani melangkah lebih jauh. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah | Sumber Tagar.co
