SMAMDELAGRES — Sabtu pagi, 12 Juli 2025, halaman SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik berubah menjadi rimba tropis yang hidup. Bukan karena cuaca atau pepohonan, melainkan karena 93 Petualang (julukan istimewa bagi peserta Fortasi tahun ini) resmi memulai langkah pertama mereka dalam game of life bertajuk Jumanji: Jelajah Unggul Madani Jiwa dan Aksi.
Sejak pagi, rimba ini bukan sekadar tempat orientasi. Ia menjadi panggung awal bagi transformasi pelajar Muhammadiyah. Para Petualang dibagi ke dalam 9 squad (5 putri dan 4 putra). Masing-masing didampingi oleh Ranger (kakak pendamping) dan dipayungi oleh Navigator (fasilitator), menciptakan formasi ideal untuk menjelajah, bertumbuh, dan menyatu dengan lingkungan sekolah yang baru.
Acara dibuka secara semiformal dan dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Lukman Arif, S.Pd.I. Tak lama kemudian, panitia guru, OSIS, dan IPM diperkenalkan sebagai kru rimba yang siap mendampingi seluruh perjalanan. Suasana mulai mencair, dan rasa penasaran perlahan berubah jadi semangat.
Sesi utama hari itu adalah Sesi Identitas. Studio Motreight disulap menjadi portal dunia Jumanji. Petualang-petualang muda difoto secara profesional per squad, dengan latar penuh elemen rimba. Ini bukan sekadar dokumentasi. Ini adalah momen simbolik bahwa mereka kini sah menjadi bagian dari keluarga besar Smamdela.
Sambil menanti giliran foto, para Petualang diajak bermain game kolaboratif bersama para Navigator. Permainan ini bukan hanya menyegarkan tubuh, tapi juga mencairkan kecanggungan.
Dalam hitungan menit, interaksi yang awalnya kaku berubah menjadi tawa riuh dan semangat bekerja sama. Chemistry antaranggota squad mulai terbentuk sebagai modal penting untuk misi-misi mendatang.
Seluruh kegiatan dibungkus dengan istilah khas dunia Jumanji. Tak ada “sanksi”, yang ada hanya Tantangan Rimba. Tak sekadar “hadiah”, melainkan Power-Up. Bahkan sekolah pun disebut sebagai Rimba, ruang eksplorasi utama. Pendekatan ini membuat suasana terasa lebih segar, menyatu dengan imajinasi khas remaja, dan membangun ikatan emosional yang kuat. Tak hanya Petualang yang merasakan keseruan, para panitia pun ikut terbawa atmosfernya. “Seru sih, beda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita yang panitia jadi pengin ikut berpetualang bareng Petualang-Petualang muda ini. Terus sebutannya ‘Ranger’ ini unik, berasa vibes-nya beda banget amaaaanahnya. Xixixi… biasanya kan cuma ‘kakak pembimbing’ atau ‘kambing’, hehe,” ujar salah satu Ranger Fortasi 2025, Awalul Nanda.
Ketua Panitia Fortasi 2025 Ahmad Rizal Azdka, S.Pd., menegaskan Fortasi ini dirancang bukan hanya untuk pengenalan lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak merasa masuk ke dunia baru yang akan mereka jelajahi dengan cara yang menyenangkan, namun tetap sarat nilai dan makna. Mereka bukan sekadar siswa baru, mereka adalah Petualang yang akan menemukan versi terbaik dari dirinya,” ungkapnya.
Hari itu ditutup dengan pesan simbolik dari para Navigator, berdiri di tengah lingkaran Petualang yang mulai terasa seperti keluarga:
“Jelajah kalian baru saja dimulai. Rimba Smamdela luas dan penuh rahasia. Tapi selama kalian tetap bersama, tak ada tantangan yang tak bisa dilalui. Selamat berpetualang! Satu hari. Satu langkah. Satu petualangan yang akan mereka kenang lama,” tandas Navigator Nafkah Shoofiyah.
Sumber : Tagar.co
Jurnalis : Liset Ayuni
