SMAMDELAGRES — Rabu pagi (13/8/2025), lapangan SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik terasa berbeda. Panggung dengan latar bertuliskan Edu-Culture Fest dan D-Gugu berdiri di sisi lapangan, dihiasi ornamen yang memberi kesan hangat dan bersahabat.
Deretan guru berdiri di depannya, mengenakan rompi krem dengan bawahan rok atau celana panjang warna senada. Beberapa guru tampak lebih mencuri perhatian dengan hiasan kepala bergaya Papua—lengkap dengan bulu-bulu dan ornamen lucu—yang membuat suasana jadi semakin meriah.
Sorot mata undangan dan siswa-siswi yang duduk rapi di pinggir lapangan tertuju pada para guru. Ada dua lagu yang ditampilkan, salah satunya Yamko Rambe Yamko. Begitu musik mengalun, suasana pun langsung hidup. Para guru bergerak kompak, menyanyi sambil menepuk tangan mengikuti irama.

Lagu daerah Papua yang riang itu memecah pagi, membuat hadirin ikut bernyanyi lirih atau sekadar menggoyangkan kepala. Ada yang sesekali tertawa melihat ekspresi para guru yang lepas dari kesan formal, tampil layaknya sahabat yang mengajak bermain.
Sorakan penonton dan tepuk tangan bergemuruh setiap lagu selesai. Beberapa siswa tampak mengangkat ponsel untuk merekam momen, sementara yang lain saling berkomentar. Di sela penampilan, terdengar tawa kecil yang menandakan betapa acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang membangun keakraban antara guru dan siswa.

Penampilan ini menjadi pembuka yang manis bagi Edu-Culture Fest dan D-Gugu tahun ini. Menariknya, acara ini sepenuhnya menjadi panggung bagi para guru untuk tampil, sementara siswa berperan sebagai penonton yang menikmati setiap momen. Sorot mata, tepuk tangan, dan senyum mereka menjadi energi tambahan bagi para guru di atas panggung.
Dalam balutan busana yang santai namun tetap sopan, ditambah atribut budaya yang unik, para guru Smamdela membuktikan bahwa mereka bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga bagian dari denyut kebudayaan sekolah. Keakraban yang terjalin pagi itu menciptakan suasana yang jarang ditemui di rutinitas belajar-mengajar.
Melalui lagu daerah, mereka menyampaikan pesan tentang pentingnya melestarikan warisan musik nusantara, sekaligus menumbuhkan rasa bangga akan keberagaman Indonesia. Semangat itu sejalan dengan ruh Edu-Culture Fest dan D-Gugu: merayakan kebersamaan dalam bingkai pendidikan dan budaya, dengan guru sebagai pelaku utama dan siswa sebagai penikmat setia di barisan penonton.
Jurnalis Mohammad Nurfatoni
Sumber : Tagar.co
