Home / Berita / Kabar Baik untuk Perempuan: Pesan Surga di Mabit Putri Smamdela

Kabar Baik untuk Perempuan: Pesan Surga di Mabit Putri Smamdela

SMAMDELAGRES — Malam di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa berbeda. Langit yang baru saja menuntaskan senja diselimuti cahaya lembut lampu sorot, sementara angin membawa aroma tanah dan rumput yang lembap.

Di antara hamparan tikar dan sajadah yang tersusun rapi, ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) duduk dengan wajah penuh antusias. Malam itu, mereka bersiap menapaki perjalanan hati dalam Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami.”

Kegiatan yang bermula selepas salat Isya berjamaah membuka suasana teduh dan khusyuk, 30 Oktober 2025. Suara imam yang masih terngiang dari pengeras suara masjid sekolah seolah menjadi pengantar menuju malam yang penuh makna.

Deretan siswi menyampaikan kultum secara bergantian yang singkat, tetapi sarat pesan. Ada yang berbicara tentang sabar, tentang menjaga lisan, hingga tentang rasa syukur sederhana. Walaupun dengan suara bergetar, isi kultum mereka menyentuh, menjadi refleksi kecil bahwa iman juga tumbuh dari keberanian untuk berbagi kebaikan.

Selepas rangkaian kultum, seluruh peserta duduk lebih rapat, menatap ke arah depan di tengah lapangan. Angin berembus syahdu, menghadirkan suasana hangat meskipun malam makin larut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab, Lukman Arif, S.Pd.I, yang akrab dengan sapaan Pak Luk, maju memberi sambutan.

Anugerah Hati Lembut Pembuka Pintu Surga

Lukman Arif membuka sambutan dengan kalimat yang segera menarik perhatian, menggunakan suara yang lembut tetapi berwibawa. “Perempuan itu punya banyak kabar,” ujarnya, memandang lembut ke arah barisan siswi di depannya.

“Kabar bahagianya, Allah memuliakan perempuan dengan cinta dan kelembutan. Tetapi kabar buruknya, perempuan juga disebut paling banyak di neraka,” ungkapnya.

Sekejap suasana lapangan menjadi hening. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang terdengar. Banyak siswi yang tertegun, tetapi tak lama, Lukman Arif melanjutkan dengan senyum hangat.

“Namun kabar baiknya… perempuan juga paling banyak masuk surga. Karena Allah menganugerahkan hati yang lembut. Dan bila perempuan menjaga imannya, kesabarannya, serta lisannya, surga akan dekat dengannya,” imbuhnya.

Ucapan itu seperti menembus ruang hening malam. Beberapa siswi menunduk, sebagian tersenyum, dan ada pula yang menatap kosong ke depan, mungkin tengah merenungi kalimat demi kalimat yang menyentuh hati.

Dalam sambutannya, Lukman Arif berbicara bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan menggugah kesadaran. Ia menyinggung bagaimana perempuan muda di zaman kini kerap tertantang untuk menjaga nilai dan jati diri di tengah derasnya arus tren dan teknologi.

“Kalian hidup di masa yang serbacepat. Tetapi jangan sampai kehilangan arah. Menjadi Nurani itu berarti menumbuhkan iman dan nilai Islami di tengah kesibukan dunia yang sering melalaikan,” ucapnya.

Refleksi dan Komitmen Muslimah Beriman

Berikutnya, Lukman Arif menekankan, kegiatan Mabit bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan momen untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, membersihkan niat, dan memperbarui komitmen sebagai muslimah yang beriman.

“Jangan remehkan kebaikan kecilmu,” tambahnya di penghujung sambutan. “Kadang surga itu tidak jauh, ia tersembunyi di balik sabarmu, maafmu, dan doa yang kamu ucapkan diam-diam malam ini.”

Suasana lapangan mendadak terasa jauh lebih hangat. Beberapa siswi menatap teman di sebelahnya dengan senyum pelan, seolah mengamini pesan itu. Tepuk tangan kecil terdengar bukan karena seremonial, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas kata-kata yang menenangkan.

Pembukaan Mabit Putri Smamdela malam itu terasa lebih dari sekadar acara. Ia adalah ruang pulang bagi ratusan hati muda yang sedang belajar mengenal Allah lebih dekat. Tema “Menjadi Nurani” seolah hidup dalam suasana malam itu: lembut, reflektif, dan penuh makna.

Usai sambutan, suasana mencair dalam makan malam bersama. Celoteh dan tawa ringan terdengar di antara barisan siswi, menandai kehangatan yang tumbuh setelah perenungan. Malam itu bulan memancarkan kuningnya yang berpendar, berpadu dengan cahaya bintang yang malu-malu di langit Cerme disertai lantunan musik religi mengalun lembut.

Di antara gemerlap cahaya dan suara lantunan lirik itu, satu hal menjadi jelas, malam itu bukan sekadar kegiatan sekolah. Melainkan perjalanan spiritual yang menyapa hati, menumbuhkan nurani, dan menyalakan kembali cahaya iman dalam diri setiap siswi Smamdela.

Malam di Cerme itu menjadi bukti, iman bisa tumbuh dari suasana sederhana, dari kebersamaan, renungan, dan niat yang dijaga dengan nurani. Karena menjadi Nurani bukan sekadar tema, tetapi perjalanan agar setiap langkah dan niat selalu bertumbuh dari iman dan nilai Islami. (#)

Jurnalis Liset Ayuni

Sumber : Tagar.co

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bantuan

Pengaduan Layanan

Contact

smamuh8gresik@gmail.com

0812-3098-2066

(031) 7990357

© 2025 Copyright SMA MUHAMMADIYAH 8 GRESIK