SMAMDELAGRES — Suasana berbeda tampak di meja Seni Budaya dalam pameran D-Gugu (Unjuk Diri Guruku Guru Hebatku) SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Rabu (13/8/2025).
Tidak hanya siswa yang antusias, juga juri Lomba Lingkungan Sekolah Madrasah Sehat (LLSMS) dari PDM Gresik ikut larut dalam aktivitas membatik dari potongan-potongan kertas.
Alih-alih menggambar pola dari awal, para siswa diajak menempel potongan batik menjadi karya baru yang unik.
Aktivitas sederhana namun kreatif. Hasilnya menggambarkan bahwa keindahan bisa lahir dari perbedaan. Sama seperti budaya Indonesia yang beragam tetapi tetap berpadu dalam harmoni.
“Tujuan kami menghadirkan batik potongan ini, agar anak-anak belajar bahwa seni tidak harus rumit. Dari sesuatu yang sudah ada, kita bisa menciptakan makna baru. Sama halnya dengan budaya, berbeda tapi tetap satu,” ujar Ahmad Rizal Azdka, guru Seni Budaya Smamdela, sebutan populer SMA Muhammadiyah 8 Gresik.
Kehadiran juri LLSMS membuat suasana semakin hidup. Mereka juga bergembira ikut menempel potongan kertas batik dengan hati-hati.
Bahkan memberi komentar kagum pada hasil karya buatannya. Sorak kecil pun terdengar ketika motif yang ditempel perlahan membentuk pola batik yang indah.
Aktivitas membatik ini merupakan bagian dari rumpun Multivers, yang menaungi mata pelajaran Seni Budaya, PJOK, BK, PKN, dan DKV. Multivers singkatan dari Multivariable Universe.
Tahun ini, D-Gugu mengusung tema The Jungle of Jumanji, di mana setiap rumpun menjadi jalur petualangan yang mengajak siswa belajar lewat pengalaman nyata.

Shooting Basket
Setelah itu riuh tepuk tangan terdengar di stan basket mini Smamdela. Di situ, siswa-siswi menjajal ketangkasan shooting bola basket yang menjadi bagian dari pameran D-Gugu (Demonstrasi Gugus Guru) bertema The Jungle of Jumanji.
Siswa berbaris menunggu giliran. Lalu dengan penuh semangat melempar bola ke ring. Suasana terasa tegang sekaligus menyenangkan setiap kali bola hampir masuk.
Ricky Maulana, S.Pd, guru PJOK, mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar permainan. “Shooting basket melatih fokus, koordinasi, dan konsistensi gerakan. Anak-anak belajar bahwa ketepatan tidak datang tiba-tiba, tapi dari latihan terus-menerus,” jelasnya.
Di tengah rimba D-Gugu, stan PJOK menjadi tempat favorit. Keringat, tawa, dan semangat yang terpancar dari wajah siswa menunjukkan bahwa belajar bisa seseru ini ; seperti permainan, tapi penuh makna. (#)
Jurnalis Liset Ayuni
Sumber : Tagar.co
