SMAMDELAGRES — Langkah kaki terasa ringan pagi itu, Rabu (13/8/2025). Lapangan SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik Jatim sudah disulap menjadi rimba mini. Suara tawa bercampur obrolan riuh terdengar di setiap sudut. Dari kejauhan, warna-warni kostum guru dan siswa bergerak lincah, serasa masuk ke dunia The Jungle of Jumanji.
Hari itu kami menggelar D-Gugu (Unjuk Diri Guruku Guru Hebatku), tradisi tahunan di awal tahun pelajaran. Biasanya ini adalah ajang guru memamerkan media pembelajaran kreatif. Tahun ini kami mengemasnya seperti petualangan. Mengajak siswa berkeliling rimba D-Gugu untuk menemukan pengalaman belajar yang unik di setiap stan.
Saya berada di rumpun umum yang menyebutnya sebagai Multivers. Singkatan dari Multivariable Universe. Rumpun ini memuat mata pelajaran DKV, PKN, BK, Seni Budaya, dan PJOK. Untuk tampil kompak, kami mengenakan atasan army, bawahan cream, rompi cream, dan jilbab cream. Di kepala, topi berhias burung mainan yang bisa mengepakkan sayap menjadi ciri khas kami. Burung ini melambangkan kebebasan untuk belajar, tumbuh, dan berkembang.
Kenalan Sama Diri
Sebagai guru BK bersama Noviya Wahyu Nuriya, S.Pd., kami sepakat membuat stan bertema Pameran Seru, Kenalan Sama Diri Sendiri. Kami ingin mengajak siswa bukan hanya bermain, tetapi juga mengenal dirinya sendiri melalui self-discovery. Kami mendesain aktivitas di stan BK seperti sebuah rute petualangan, di mana setiap tahap saling terhubung.
Rute pertama, memancing ikan – menangkap kesadaran. Memulai perjalanan dari memancing ikan yang berisi pertanyaan reflektif. Ini adalah langkah awal untuk menangkap kesadaran siswa, tentang apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan alami. Ibarat memancing, kadang cepat mendapatkan jawaban, kadang butuh waktu dan kesabaran.
Salah satu siswa, Qirania Indira dari kelas XI IPA 2, menjawab lantang saat ditanya cara membagi waktu. “Harus bagi prioritas, Bu. Kalau tidak, semua terasa numpuk,” ujar Qirania. Dari kesadaran inilah, petualangan berlanjut ke tahap berikutnya.
Rute kedua, membuka kotak harta karun – menumbuhkan keyakinan diri. Setelah membawa hasil pancingan berupa kesadaran, selanjutnya mengajak siswa menuju kotak harta karun. Namun kuncinya bukan logam, melainkan mantra diri yang harus mereka ucapkan. Menariknya, mantra ini menggunakan bahasa Latin, seperti Ego in me credo yang berarti Aku percaya pada diriku.
Filosofinya sederhana tapi kuat, yakni kepercayaan diri adalah kunci membuka peluang dan potensi diri. Kayyisil fikri, siswa XII-1, sempat bertanya sambil tersenyum terbata-bata membaca. “Apa arti maknanya, Bu?” tanyanya polos yang membuat suasana semakin hangat.
Rute ketiga adalah tulis harapan di Papan I Wish – Tentukan Arah dan Tujuan. Setelah kesadaran muncul dan keyakinan diri tumbuh, saatnya menentukan arah. Di papan I Wish, siswa menuliskan harapan dan tujuan pribadi. Aktivitas ini melatih keterampilan goal setting, seperti dalam sesi konseling, agar dalam membuat target benar-benar spesifik, terukur, dan bermakna.
Bonus Lollypop
Rute keempat adalah Wordsearch Mengenal Diri – Asah Fokus dan Kesabaran. Selanjutnya, siswa menghadapi tantangan wordsearch berisi kata-kata positif tentangkepribadian dan potensi diri. Proses mencari kata ini mengasah fokus, sekaligus menjadi simbol bahwa menemukan jati diri adalah perjalanan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Dan terakhir, Lollypop – Penghargaan Proses Belajar. Menutup perjalanan dengan hadiah lollypop. Bukan sekadar permen, tapi simbol dopamine booster guna memancing rasa bahagia yang menjadi penutup manis dari proses belajar yang menyenangkan.
Selaras Deep Learning
Bagi saya, konsep ini sejalan dengan deep learning yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Deep learning mendorong siswa memahami materi secara mendalam. Mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman hidup, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta kesadaran diri.
Kalau hanya paham teori tanpa pernah merasakannya, siswa akan cepat lupa. Tapi kalau mereka mengalami sendiri prosesnya, merasakan, merenungkan, lalu menarik kesimpulan, maka ilmu itu akan menetap. Itu inti deep learning.
Lewat permainan ini, siswa bukan hanya menghafal teori self-awareness atau self-esteem, tetapi mempraktikkannya secara langsung, merasakannya, lalu membawa pulang pemahaman yang membekas.
Menjelang akhir kegiatan, kami melihat siswa-siswa kembali ke kelas sambil tersenyum, tangan mereka memegang seonggok lollypop. Saat itu saya sadar, D-Gugu bukan sekadar pameran guru, melainkan perjalanan belajar yang hidup, menyenangkan, dan membekas. Karena pada akhirnya, mengenal diri adalah petualangan yang tak pernah benar-benar selesai. (#)
Jurnalis Liset Ayuni.
Sumber : Tagar.co
