SMAMDELAGRES — Suasana haru dan semangat menyelimuti prosesi Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfizul Quran Ke-4 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik di Hall Sang Pencerah UMG, Sabtu (17/5/2025). Di hadapan para lulusan dan orang tua yang hadir, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Prof. Dr. Khoirul Anwar menyampaikan orasi ilmiah yang lebih dari sekadar seremonial—ia berbicara dari hati, penuh motivasi, dan menyentuh kesadaran terdalam tentang makna sukses.
“Mudah-mudahan wisuda hari ini menjadi tonggak kesuksesan untuk adik-adik semuanya,” ujarnya di awal orasi. Ia mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk meraih impian dan pengabdian dalam kehidupan nyata.
Sejak kecil, Yandi terbiasa mengumpulkan barang-barang bekas. Namun suatu hari, ia menyadari bahwa barang elektronik, khususnya bekas komputer, memiliki nilai jual lebih tinggi. Ia pun mulai fokus mengumpulkan limbah elektronik, hingga dipercaya menjadi pemasok tetap oleh pengepul.
Pada tahun 2010, Yandi mendirikan PT Sparta Komputindo Teknologi yang kini mempekerjakan lebih dari 40 orang dan menyuplai berbagai perangkat IT seperti monitor, printer, hingga server.
Kisah kedua datang dari Muhammad Andrian, seorang pemuda yang awalnya tidak mampu berbahasa Inggris namun bermimpi kuliah di Eropa. Selepas SMA, Andrian nekat ke Paris untuk belajar bahasa Inggris dari nol. Ia bertemu komunitas teman-teman seperjuangan, belajar bersama, dan berjuang tanpa kenal lelah. Hasilnya, Andrian berhasil mendapat beasiswa kuliah di Polandia—mulai dari jenjang S1 hingga S3.
“Dua kisah ini memberi kita pelajaran bahwa sukses itu bukan milik orang-orang kaya atau terkenal, tapi milik siapa pun yang punya tekad, mimpi, dan ketekunan,” tegas Prof. Khoirul Anwar.
Ia kemudian mengajak para wisudawan untuk merenungkan makna sukses dari berbagai perspektif. Menurut Abraham Maslow, sukses adalah ketika seseorang mampu mencapai aktualisasi diri—mengembangkan potensi diri secara maksimal.
Sementara Carol Dweck dalam teorinya growth mindset menekankan bahwa sukses hanya bisa diraih dengan proses belajar dan perbaikan diri yang terus menerus. Para pemimpin dunia bahkan memandang sukses sebagai sejauh mana seseorang mampu membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan dalam pandangan filsuf Jepang Ikigai, sukses terletak pada titik temu antara passion, mission, vocation, dan profession—dorongan batin, tujuan hidup, pekerjaan, dan panggilan jiwa.
Prof. Khoirul Anwar menyatakan, definisi terakhir itulah yang paling lengkap dan menyentuh. Menemukan ikigai berarti menemukan makna terdalam hidup yang menyatukan keinginan pribadi dan kontribusi sosial.
Namun, untuk bisa memulai perjalanan sukses itu, menurutnya, seseorang harus terlebih dahulu berani bermimpi. “Mimpi itu penting. Ia yang mengarahkan langkah kita,” ujarnya. Mimpi, kata dia, bisa berupa cita-cita akademik, profesi, maupun pengabdian sosial.
Setelah itu, mimpi harus dilengkapi dengan tujuan yang jelas dan batas waktu yang pasti, agar bisa diwujudkan secara nyata. Ia mencontohkan, jika ingin menyelesaikan kuliah S1, target waktu harus jelas: empat atau empat setengah tahun. Jika ingin lanjut S2 atau S3, harus dipikirkan sejak sekarang rutenya seperti apa.
Ia juga menekankan pentingnya ketahanan mental dan spiritual. Karena dalam hidup, seperti halnya iman, semangat bisa naik dan turun. Maka ketika gagal, jangan menyerah. “Anggap itu bagian dari proses belajar. Kita tumbuh karena ditempa,” ungkapnya.
Langkah berikutnya adalah menjaga semangat untuk terus belajar dalam kondisi apa pun. Belajar tak melulu dari kuliah atau pelatihan formal. Bisa dari buku, diskusi, pengalaman, bahkan dari orang-orang yang inspiratif. Ia mengutip falsafah Jawa, “kumpul karo wong sholeh”—berkumpul dengan orang-orang baik yang bisa menjaga visi dan semangat hidup.
Mengakhiri orasinya, Prof. Dr. Khoirul Anwar menyampaikan pantun penyemangat:
Pagi cerah, mentari bersinar
Indahnya alam penuh warna
Teruslah maju, janganlah gentar
Raih cita-cita dengan bangga
Pesan itu menutup orasi yang membekas di benak hadirin—bahwa sukses bukan sekadar gelar, tapi keberanian untuk bermimpi dan keteguhan untuk terus belajar serta bertumbuh bersama kebaikan.
Sumber: Tagar.co
