Tangis, Tawa, dan Haru Warnai Ujian Tasmik Smamdela Gresik

SMAMDELAGRES — Aula SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik Jawa Timur disulap menjadi tampak hening namun penuh makna, saat siswa-siswi kelas X dan XI dengan lirih menghafal ayat-ayat suci-Nya. Mereka mengikuti Ujian Tasmik secara terjadwal yang dilaksanakan sejak Senin (2/6/2025) hingga Kamis, (12/6/2025). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini menghadirkan langsung orang tua atau wali siswa untuk menyaksikan proses penyetoran hafalan Al-Qur’an yang telah dipelajari anak-anak mereka. Pelaksanaan ujian berlangsung di aula dan ruang-ruang kelas yang ditata sederhana. Rasa haru menyelimuti ketika lantunan ayat suci menggema dari suara siswa. Tangis haru para orang tua, hingga bisikan murojaah di sela gugupnya ujian. Menyentuh Hati Orang Tua Dalam momen ini, siswa kelas X diwajibkan menyetorkan hafalan 20 surat dari Juz 30. Sementara itu, siswa kelas XI mendapat target 25 surat. Bagi siswa dari Kelas Tahfiz, target hafalan ditambah sesuai dengan capaian masing-masing. Misalnya, salah satu siswa tahfiz bernama Abi Abdillah berhasil menyetorkan hafalan hingga Juz 29 yang membuat guru penguji dan orang tua terdiam penuh takjub. Para penguji adalah beberapa guru yang concern di bidang tahfiz, antara lain: Abdillah Rosyid, S.Pd.I., Lukman Arif, S.Pd.I., Yuyun Minarti, S.E, Mely Tri, S.Pd., Ana Abidin, S.Pd, dan Abdul Arkham, M.Pd.I. Mereka tidak hanya menguji kelancaran, tetapi juga menyemangati siswa yang gugup di hadapan orang tua. Lebih dari sekadar hafalan, momen ini menjadi ruang refleksi mendalam. Beberapa orang tua tak kuasa membendung air mata saat mendengar anak mereka melantunkan ayat demi ayat. “Saya selama ini hanya bisa kerja, kerja, dan kerja. Hari ini saya dengar sendiri hafalan anak saya. Rasanya haru, bangga, tapi sedih juga karena saya jarang mendampingi,” ujar seorang ayah sambil menundukkan kepala dan mengusap air matanya. Namun bukan hanya tangis yang terdengar. Tawa hangat juga mewarnai ruangan, ketika beberapa siswa salah menyebut ayat atau gugup hingga mengulang surat yang sama. “Lucu sih, anak saya malah nyebut surat Al-Kautsar dua kali. Padahal udah latihan seminggu,” ucap seorang ibu sambil terkekeh dan memeluk anaknya. Wajib Hadir, Tak Bisa Diwakilkan Kehadiran orang tua ini bukan sekadar formalitas. Panitia menegaskan bahwa momen ini tidak bisa diwakilkan oleh guru atau wali lain. Ini sempat memunculkan dinamika tersendiri. “Ada siswa yang sampai menangis dan memohon agar guru mewakili orang tuanya karena ayah-ibunya tak bisa datang. Tapi kami tegaskan, inti kegiatan ini adalah mempertemukan anak dan orang tua dalam momen spiritual bersama. Ini bukan sekadar ujian hafalan, melainkan ruang untuk membangun kembali keterhubungan emosional,” jelas Diana Ekowati, S.Pd, Ketua Panitia. Dia menambahkan, situasi ini menyadarkan banyak pihak akan pentingnya peran keluarga dalam pembentukan karakter spiritual anak. “Kegiatan ini adalah pelaksanaan perdana. Tentu masih ada evaluasi. Dari sisi teknis, panitia mencatat perlunya penjadwalan yang lebih efisien, serta ruang tunggu yang lebih nyaman untuk orang tua,” imbuh Diana. Sementara dari sisi psikologis, menurutnya, sekolah juga mulai menyadari bahwa kegiatan ini menyentuh area psikososial siswa terutama mereka yang memiliki hubungan renggang dengan orang tua. “Kami ingin ke depan ada pendampingan lebih intens. Tidak hanya soal hafalan tapi juga kesiapan emosional siswa. Beberapa dari mereka bahkan menangis bukan karena gugup, tapi karena merasa rindu perhatian dari orang tua,” ungkap salah satu penguji, Lukman Arif. Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah, M.Si., memberi apresiasi tinggi pada para guru dan siswa yang terlibat. “Kami tidak hanya mencetak siswa akademis, tapi juga insan Qur’ani yang dekat dengan keluarganya. Ini bukan soal nilai hafalan semata, melainkan proses membangun kehangatan dan kebanggaan di dalam rumah. Saya harap kegiatan ini menjadi budaya baru yang terus tumbuh di Smamdela,” tuturnya. Sumber : Tagar.co

Penutupan PPL Unesa di Smamdela: Semoga Ada yang Kembali, Siapa Tahu Ada Jodoh di Sini

SMAMDELAGRES — Tiga bulan bukan waktu yang panjang. Namun bagi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), masa Februari hingga Mei 2025 di SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna. Mereka datang sebagai pembelajar, dan pulang sebagai keluarga. Rabu pagi ini (4/6/25), ruang pertemuan Smamdela terasa hangat oleh rasa syukur dan haru. Di sana berlangsung penutupan kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) bertajuk: Penutupan dan Penarikan PPL Mahasiswa Unesa di Smadela—sebuah penanda akhir masa pengabdian sekaligus awal kenangan yang tak mudah dilupakan. Ketua Kelompok PLP, M. Hafid Khusaini, menyampaikan refleksi mewakili rekan-rekannya. Ia berbicara dengan nada yang nyaris bergetar. ndi“Kami belajar banyak, terutama saat menangani siswa di kelas. Terima kasih atas kesabaran dan bimbingan para guru pamong selama tiga bulan ini. Ini bukan hanya tentang praktik mengajar, tapi juga tentang tumbuh menjadi pribadi yang lebih siap,” ungkapnya. Refleksi itu disambut hangat oleh Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah, M.Si. Ia menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan pendampingan karena padatnya aktivitas sekolah. Namun ia bersyukur karena para mahasiswa PLP cepat membaur dan menjadi bagian dari dinamika sekolah. “Kami sering makan bersama mereka, bukan hanya untuk menyuapi perut, tapi juga untuk menautkan hati. Kami ingin suasana sekolah terasa seperti rumah. Dan alhamdulillah, mereka bisa beradaptasi dengan cepat,” ujarnya sambil tersenyum. Dengan gaya khas yang bersahabat, Bu Emi, sapaannya, juga menyampaikan undangan terbuka bagi para mahasiswa untuk hadir kembali saat Open House Smamdela bertepatan dengan Iduladha, Sabtu (7/6/25) mendatang. Bahkan, ia tak segan menyelipkan harapan penuh keakraban: “Semoga nanti ada yang kembali, bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari Smamdela. Siapa tahu, ada yang jodoh di sini juga, kan?” tutur Bu Emi. Dari pihak Unesa, Dosen Pembimbing Lapangan, Aris Rudi Purnomo, S.Si., M.Pd., M.Sc., turut menyampaikan apresiasi. Ia mengaku bangga karena seluruh mahasiswa dapat menyelesaikan program dengan penuh tanggung jawab, tanpa keluhan yang berarti. “Ini tentu jadi tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi kami. Jika ada yang kurang berkenan, disengaja atau tidak, kami mohon maaf. Semoga semua yang dialami di sini menjadi bekal yang berarti di masa depan.” Selama tiga bulan, para mahasiswa dari empat program studi menjalani peran sebagai calon pendidik di bawah bimbingan guru pamong yang sabar dan berdedikasi. Mereka adalah: Pendidikan Luar Biasa (PLB): Yuyun Minarti, S.E., dan Liset Ayuni, S.Psi. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn): Vivin Kurnia Putri, S.Pd., dan Bambang Sumantri Teknologi Pendidikan: Uswatun Khasanah, S.Si. Bahasa Inggris: Ichda Sholikatun Nisa’, S.Pd., dan Ana Abidin, S.Pd. Acara penutupan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Setelah sambutan, mahasiswa menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak sekolah dan guru pamong menerima sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka. Suasana menjadi haru saat doa penutup dilantunkan, mengakhiri fase PLP yang penuh dinamika. Namun yang paling membekas adalah penayangan video dokumenter — sebuah aftermovie perjalanan mereka di Smamdela. Mulai dari momen-momen canggung di hari pertama, interaksi hangat di kelas, hingga tawa-tawa di ruang guru. Beberapa tampak menyeka air mata; bukan karena sedih, tetapi karena kenangan itu terasa terlalu indah untuk ditinggalkan begitu saja. Tiga bulan itu kini tinggal cerita. Tapi bukan sembarang cerita—ia telah tumbuh menjadi kenangan yang hidup dalam hati. Sebuah bekal untuk langkah berikutnya, dan siapa tahu, menjadi alasan untuk suatu hari kembali. Bukan lagi sebagai mahasiswa, tapi sebagai pendidik yang sebenarnya. Sumber : Tagar.co

Empat Belas Hafiz Smamdela Raih Predikat Mumtaz

SMAMDELAGRES — Suara merdu Muhammad Yusuf Siddiqi yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Sabtu (17/5/2025). Bacaannya yang fasih dan penuh penghayatan saat membaca Surah Ali Imran ayat 190–194 seolah menyihir hadirin. Ayat-ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir (ulul albab) itu menjadi pembuka yang menggetarkan hati pada sesi Wisuda Tahfizul Quran Ke-4 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik. Bersamaan dengan Haflah Akhirissanah Ke-35, Smamdela mewisuda 14 siswa-siswi kelas XII yang berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan dinyatakan lulus dengan predikat mumtaz oleh Badan Tajdied Center Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik. “Mewujudkan Generasi Tangguh dan Berkemajuan” menjadi tema besar yang mengikat seluruh rangkaian acara. Tidak sekadar seremoni pelepasan siswa, haflah tahun ini juga menjadi bukti komitmen sekolah dalam mencetak generasi Qurani. “Nama-nama yang dipanggil harap maju ke panggung, dan untuk wali siswa dimohon mendampingi putra-putrinya,” ucap Haysa, pembawa acara, dengan suara lantang namun penuh haru. Satu per satu para hafiz dipanggil naik ke panggung. Sorot mata orang tua yang mendampingi tak jarang berkaca-kaca. Di antara mereka, Yusuf Siddiqi tampil menonjol. Putra dari Zainal Alim ini tak hanya menyelesaikan hafalan lima juz, tetapi juga dipercaya sebagai pelantun gema wahyu ilahi pada momen penuh khidmat ini. 14 Hafiz Smamdela Peraih Predikat Mumtaz Alif Vanewza Rinjani Mounttana bin Anraham Wahyudi Andhysta Yuslardika Ananta bin Slamet Susilo Erwindo Nur Agdianto bin Agus Nuryanto Fajar Izzul Muslimin bin Purnomo Kevin Adam Firmansyah bin S. Jianto Muhammad Haikal Razzan bin M. Ismail Hajib Muhammad Yusuf Siddiqi bin Zainal Alim Fatimah Az Zahra binti Samsul Hadi Hilwa Fathiyya AnNafiisah binti Dwi Oetomo Iffah Prasdivta binti Surojo Naurah Fairus Salamah binti Choirul Mustofa Nova Oktavia binti Suwandi Rafeyfa Feyruz Chalisa binti Muh Ainur Rafiq Tyara Gadiz Noviska binti Kuspriyanto Prestasi ini menjadi peneguh bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai qurani bukan hanya slogan, tetapi nyata diterapkan di Smamdela. Selamat kepada para penghafal Al-Qur’an—langkah kalian hari ini adalah awal dari pengabdian yang lebih luas untuk umat dan bangsa. Sumber : Tagar.co

EO Smamdela, Tim di Balik Suksesnya Haflah Akhirissanah Ke-35

SMAMDELAGRES — Tak seperti sekolah lain yang menggandeng jasa EO profesional dari luar, SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme Gresik justru mempercayakan sepenuhnya perhelatan akbar Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfizul Quran Ke-4 kepada tangan-tangan muda siswa-siswinya sendiri. Bertempat di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Sabtu (17/5/2025), acara tersebut tampil megah, tertib, dan profesional. Di balik kesuksesan itu, ada kerja keras para siswa kelas X hingga XII yang tergabung dalam tim event organizer (EO) internal Smamdela. “Kami semua bekerja sama mulai dari merancang konsep acara, mendekorasi panggung, menyusun daftar pengisi acara, menjadi penerima tamu, hingga mengatur teknis di lapangan,” ungkap Muhammad Abi Abdillah Rusdianto, siswa kelas XI-4 yang dipercaya menjadi koordinator EO. Semua berjalan rapi sejak tamu undangan tiba. Dari area parkir, para tamu langsung disambut tim EO yang siap mendampingi menuju lokasi acara dengan lift. Sesampainya di ruang acara, mereka disambut hangat oleh petugas penerima tamu yang sigap dan ramah. Tamu-tamu juga disuguhi dokumentasi video kegiatan siswa yang ditayangkan di layar besar. Produksi video ini ditangani langsung oleh siswa dari kelas vokasi Desain Komunikasi Visual (DKV). “Mereka juga mengelola media sosial dan melakukan siaran langsung lewat kanal YouTube sekolah,” terang Abi. Pemilihan Hall Sang Pencerah UMG sebagai tempat pelaksanaan acara juga menjadi bagian dari strategi pendidikan Smamdela. Kepala Sekolah Emi Faizatul Afifah, M.Si., menjelaskan bahwa ini adalah tahun keempat Smamdela menggelar haflah di luar lingkungan sekolah. “Kami ingin mendekatkan siswa dengan dunia kampus. Harapannya, setelah melihat langsung suasana akademik UMG, akan tumbuh semangat mereka untuk melanjutkan kuliah,” ujar Emi. Dengan melibatkan langsung para siswa dalam manajemen acara, Smamdela tak hanya menyuguhkan perayaan yang berkesan, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang tanggung jawab, kolaborasi, dan profesionalisme kepada generasi mudanya. Sumber : Tagar.co 

Pelepasan Hangat Penuh Makna: Haflah Akhirissanah Smamdela Ke-35

SMAMDELAGRES — Kehangatan dan semangat kebersamaan terpancar sejak langkah pertama para tamu menginjakkan kaki di Hall Sang Pencerah, Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Sabtu (17/5/2025). SMA Muhammadiyah 8 Cerme Gresik (Smamdela) menggelar Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfidzul Qur’an Ke-4, sebuah momen sakral sekaligus meriah untuk melepas siswa-siswi kelas XII. Yang membuat acara ini istimewa bukan hanya rangkaian seremoni, tetapi juga bagaimana seluruh penyelenggaraan ditangani langsung oleh para siswa. Mulai dari penyambutan di area parkir, petugas lift, penerima tamu, hingga pengatur acara—semuanya dikomandoi oleh para event organizer (EO) dari siswa kelas X dan XI. “Sambutan hangat yang diberikan anak-anak sungguh luar biasa. Mereka ramah, sigap, dan penuh antusias,” ujar Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah. “EO terdiri dari para siswa kelas 10 dan 11 yang telah dibimbing untuk menjadi panitia yang profesional.” Suasana menjadi semakin mengharukan saat para siswa kelas XII memasuki ruangan secara resmi. Mereka disambut tarian tradisional bertajuk Puspa Lirih yang dibawakan Fitri Hafzah Yasmin, siswi kelas X. Gerakan yang anggun dan penuh makna mengiringi langkah-langkah para purna siswa menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Tak hanya itu, prosesi kedatangan jajaran struktural sekolah pun dikawal secara khidmat oleh “Pasukan Khusus”, yaitu barisan siswa dan siswi pilihan dari kelas X dan XI. Mereka tampil rapi dan terlatih, menambah kekhidmatan suasana. Haflah ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi juga wujud dari pendidikan karakter, kerja sama, dan kemandirian siswa Smamdela. Mereka bukan hanya tampil sebagai pelajar, tetapi juga sebagai penyelenggara acara yang tangguh, ramah, dan bertanggung jawab. “Prosesi ini luar biasa. Anak-anak kompak, sigap, dan bekerja dengan sempurna,” ujar salah satu guru pendamping yang tak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Acara ini menjadi penanda bahwa Smamdela tak hanya mendidik untuk lulus, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan hidup nyata—dari kepemimpinan, manajemen acara, hingga membangun relasi sosial yang hangat. Sumber: Tagar.co 

Sukses Itu Dimulai dari Mimpi: Rektor UMG Motivasi Lulusan Ke-35 Smamdela

SMAMDELAGRES — Suasana haru dan semangat menyelimuti prosesi Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfizul Quran Ke-4 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik di Hall Sang Pencerah UMG, Sabtu (17/5/2025). Di hadapan para lulusan dan orang tua yang hadir, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Prof. Dr. Khoirul Anwar menyampaikan orasi ilmiah yang lebih dari sekadar seremonial—ia berbicara dari hati, penuh motivasi, dan menyentuh kesadaran terdalam tentang makna sukses. “Mudah-mudahan wisuda hari ini menjadi tonggak kesuksesan untuk adik-adik semuanya,” ujarnya di awal orasi. Ia mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk meraih impian dan pengabdian dalam kehidupan nyata. Sejak kecil, Yandi terbiasa mengumpulkan barang-barang bekas. Namun suatu hari, ia menyadari bahwa barang elektronik, khususnya bekas komputer, memiliki nilai jual lebih tinggi. Ia pun mulai fokus mengumpulkan limbah elektronik, hingga dipercaya menjadi pemasok tetap oleh pengepul. Pada tahun 2010, Yandi mendirikan PT Sparta Komputindo Teknologi yang kini mempekerjakan lebih dari 40 orang dan menyuplai berbagai perangkat IT seperti monitor, printer, hingga server. Kisah kedua datang dari Muhammad Andrian, seorang pemuda yang awalnya tidak mampu berbahasa Inggris namun bermimpi kuliah di Eropa. Selepas SMA, Andrian nekat ke Paris untuk belajar bahasa Inggris dari nol. Ia bertemu komunitas teman-teman seperjuangan, belajar bersama, dan berjuang tanpa kenal lelah. Hasilnya, Andrian berhasil mendapat beasiswa kuliah di Polandia—mulai dari jenjang S1 hingga S3. “Dua kisah ini memberi kita pelajaran bahwa sukses itu bukan milik orang-orang kaya atau terkenal, tapi milik siapa pun yang punya tekad, mimpi, dan ketekunan,” tegas Prof. Khoirul Anwar. Ia kemudian mengajak para wisudawan untuk merenungkan makna sukses dari berbagai perspektif. Menurut Abraham Maslow, sukses adalah ketika seseorang mampu mencapai aktualisasi diri—mengembangkan potensi diri secara maksimal. Sementara Carol Dweck dalam teorinya growth mindset menekankan bahwa sukses hanya bisa diraih dengan proses belajar dan perbaikan diri yang terus menerus. Para pemimpin dunia bahkan memandang sukses sebagai sejauh mana seseorang mampu membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan dalam pandangan filsuf Jepang Ikigai, sukses terletak pada titik temu antara passion, mission, vocation, dan profession—dorongan batin, tujuan hidup, pekerjaan, dan panggilan jiwa. Prof. Khoirul Anwar menyatakan, definisi terakhir itulah yang paling lengkap dan menyentuh. Menemukan ikigai berarti menemukan makna terdalam hidup yang menyatukan keinginan pribadi dan kontribusi sosial. Namun, untuk bisa memulai perjalanan sukses itu, menurutnya, seseorang harus terlebih dahulu berani bermimpi. “Mimpi itu penting. Ia yang mengarahkan langkah kita,” ujarnya. Mimpi, kata dia, bisa berupa cita-cita akademik, profesi, maupun pengabdian sosial. Setelah itu, mimpi harus dilengkapi dengan tujuan yang jelas dan batas waktu yang pasti, agar bisa diwujudkan secara nyata. Ia mencontohkan, jika ingin menyelesaikan kuliah S1, target waktu harus jelas: empat atau empat setengah tahun. Jika ingin lanjut S2 atau S3, harus dipikirkan sejak sekarang rutenya seperti apa. Ia juga menekankan pentingnya ketahanan mental dan spiritual. Karena dalam hidup, seperti halnya iman, semangat bisa naik dan turun. Maka ketika gagal, jangan menyerah. “Anggap itu bagian dari proses belajar. Kita tumbuh karena ditempa,” ungkapnya. Langkah berikutnya adalah menjaga semangat untuk terus belajar dalam kondisi apa pun. Belajar tak melulu dari kuliah atau pelatihan formal. Bisa dari buku, diskusi, pengalaman, bahkan dari orang-orang yang inspiratif. Ia mengutip falsafah Jawa, “kumpul karo wong sholeh”—berkumpul dengan orang-orang baik yang bisa menjaga visi dan semangat hidup. Mengakhiri orasinya, Prof. Dr. Khoirul Anwar menyampaikan pantun penyemangat: Pagi cerah, mentari bersinarIndahnya alam penuh warnaTeruslah maju, janganlah gentarRaih cita-cita dengan bangga Pesan itu menutup orasi yang membekas di benak hadirin—bahwa sukses bukan sekadar gelar, tapi keberanian untuk bermimpi dan keteguhan untuk terus belajar serta bertumbuh bersama kebaikan. Sumber: Tagar.co

Tari Saman Guncang Panggung Haflah Akhirissanah Smamdela

SMAMDELAGRES — Panggung Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mendadak bergemuruh saat derap tangan dan hentakan tubuh mengalun serempak dalam irama Tari Saman. Penampilan energik dari tiga puluh siswi SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik, Jawa Timur, itu menjadi salah satu sorotan utama dalam Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfidzul Qur’an Ke-4 yang digelar Sabtu (17/5/25). Tari khas Aceh yang dikenal sarat nilai kebersamaan dan kekompakan itu disajikan oleh para siswi kelas X dan XI. Mereka tampil dengan duduk bersaf rapi, mengenakan busana hitam lengkap dengan hiasan kepala berwarna emas dan perak yang dikenakan berselang-seling. Gerakan lincah tangan, kepala, dan tubuh yang diselaraskan dengan nyanyian dan aba-aba menciptakan pertunjukan yang memukau dan memantik tepuk tangan riuh dari para hadirin. “Tarian ini khusus kami persembahkan untuk menghibur para undangan yang hadir,” ujar Icha Margareta Salsabila Rahayu, salah satu penari yang tampil anggun di atas panggung. Icha menuturkan, mereka berlatih selama satu bulan penuh. “Kami rutin latihan setiap pulang sekolah. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa,” tambahnya dengan senyum puas. Hal senada disampaikan Naflah Shoofiyah ‘Aatikah. Ia menjelaskan bahwa kostum yang mereka kenakan merupakan hasil pilihan bersama, mencerminkan kekompakan sekaligus semangat kreativitas tim. Ternyata, penampilan tari saman bukan hal baru bagi Smamdela. Tarian ini sudah menjadi bagian dari tradisi dalam setiap acara besar sekolah. Misalnya dalam pembukaan Festival Faqih Usman 2024—sebuah acara yang digelar olej Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik. Gerakan ritmis yang mengandalkan sinkronisasi gerak tangan, tubuh, dan kepala itu memang selalu berhasil menjadi magnet hiburan yang khas dan menggugah semangat. Tradisi ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dan kerja keras di kalangan siswa. Dan di tengah gegap gempita haflah akhir tahun ini, tari saman kembali membuktikan daya pikatnya sebagai ekspresi seni yang menyatukan. Sumber: Tagar.co

Seragam Lama, Sentuhan Baru: Dedikasi Guru Smamdela Menyambut Haflah Akhirissanah

SMAMDELAGRES— Sejak Rabu hingga Kamis (14-15 Mei 2025) sore, ruang guru SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik, Jawa Timur, dipenuhi kehangatan. Seusai mengajar, sejumlah ibu guru dengan seragan batik bernuansa biru serta rok dan jilbab merah marun berkumpul dalam suasana santai dan akrab. Alih-alih rapat formal, kali ini mereka duduk melingkar, menyulam benang dan manik-manik di atas kain brokat cokelat. Terlihat seorang guru, dengan penuh konsentrasi, menelusuri pola kain dengan jarum dan benang. Yang lain mengatur payet berdasarkan warna dan ukuran, sambil sesekali bertukar pendapat atau tertawa ringan saat manik-manik tak sengaja tumpah. Di tengah mereka, berbagai kotak kecil berisi payet emas, kristal bening, mutiara sintetis, dan benang jahit tersusun rapi di atas nampan plastik. Di tangan mereka, baju lama yang awalnya sederhana mulai bersinar oleh sentuhan tangan penuh cinta. Menariknya, busana yang sedang mereka hias bukanlah kostum baru. Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afiffah, M.Si., menjelaskan bahwa baju tersebut adalah seragam guru yang biasa dipakai setiap Jumat. “Itu seragam Jumat, gamis untuk ibu-ibu dan baju koko untuk bapak-bapak. Gamisnya kami beri outer berbahan tile, lalu outer-nya diberi payet supaya terlihat cantik dan pantas untuk menyambut siswa serta tamu undangan,” ujarnya, Jumat (16/5/24). “Ini memang bukan baju baru, tapi kami percantik bersama dengan payet agar tetap layak dan anggun untuk menyambut tamu. Ini bagian dari nilai kebersamaan yang kami tanamkan,” tambahnya. Busana yang telah dihias ini akan dikenakan guru-guru saat menyambut para tamu undangan, wali siswa, dan siswa kelas XII dalam prosesi Haflah Akhirissanah ke-35 yang akan digelar Sabtu, 17 Mei 2025, di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Bukan hanya hasil akhir yang penting, tapi juga prosesnya. Dari luar, kegiatan ini tampak sederhana. Tapi di baliknya tersimpan filosofi kuat: nilai kerja sama, kreativitas, dan cinta yang tak hanya tertulis di spanduk acara, tapi benar-benar dijahit di sela waktu dan kesibukan. Inilah wajah lain dari persiapan Haflah Akhirissanah Smamdela—penuh sentuhan, makna, dan semangat kekeluargaan. Seperti dilaporkan Tagar.co dalam artikel Smamdela Siapkan Haflah Akhirissanah dengan Sentuhan Berbeda, Haflah tahun ini memang dikemas secara lebih reflektif dan menyentuh. Tak sekadar seremoni perpisahan, tetapi menjadi panggung spiritualitas, penghargaan, dan harapan. Selain guru, para siswa juga turut terlibat penuh sebagai panitia, mulai dari dekorasi, penyambutan, hingga publikasi digital. Segala persiapan telah dilakukan, termasuk gladi bersih prosesi acara yang dilakukan hari Kamis (15/5/25) Sumber: Tagar.co

Pendidikan Bisa Mengubah Takdir: Prof. Biyanto dalam Haflah Akhirissanah Smamdela

SMAMDELAGRES — Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) tempat Haflah Akhirissanah Ke-35 dan Tahfizul Quran Ke-4 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Cerme, Gresik, digelar tampak semarak, Sabtu (17/5/25). Di tengah deretan lulusan Smadela yang rapi dan senyum bangga para orang tua, hadir seorang tamu istimewa yang memberi sentuhan intelektual sekaligus emosional pada perhelatan itu: Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur sekaligus Staf Ahli Bidang Regulasi dan Antar Lembaga di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Di atas podium, Prof. Biyanto membuka pidatonya dengan salam hangat dan sapaan akrab kepada para tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah Gresik, guru-guru, wali murid, hingga siswa yang hari itu dilepas. Namun bukan sekadar formalitas, kalimat-kalimat pembuka itu langsung disambung dengan refleksi tajam soal makna dan kontroversi seputar acara wisuda itu sendiri. Dengan nada bercanda yang khas namun sarat makna, ia mengungkap bahwa istilah “wisuda” akhir-akhir ini menjadi sensitif bagi sebagian kalangan. “Wisuda itu sekarang jadi istilah yang dihindari oleh banyak sekolah karena ada pemerintah kabupaten atau provinsi yang melarangnya,” ujarnya sembari tersenyum. Namun ia segera meluruskan bahwa dari perspektif kementerian tempat ia bertugas, tidak ada pelarangan resmi atas kegiatan seperti ini selama dilakukan secara sukarela, penuh rasa syukur, dan dimusyawarahkan dengan wali murid. Bahkan, menurutnya, kegiatan semacam ini bisa menjadi bagian dari syukuran pendidikan yang sangat layak diapresiasi. “Pak Menteri kami, Prof. Abdul Muti, dalam berbagai kesempatan menyampaikan: tidak ada paksaan soal ini, yang penting dilakukan dengan suka rela dan musyawarah,” ungkapnya. “Kementerian tidak pernah melarang wisuda, asalkan dilakukan dengan dasar kesukarelaan dan rasa syukur yang mendalam,” tambahnya. Ia juga menyoroti keragaman istilah untuk menghindari kata “wisuda”. “Sekarang itu macam-macam: ada yang bilang ‘inaugurasi’, ‘purnasiswa’, ‘akhirissanah’, pokoknya jangan disebut wisuda. Padahal substansinya sama saja: kita sedang mensyukuri nikmat kelulusan,” ujarnya sambil mengundang tawa hadirin. Dari pembukaannya itu, Prof. Biyanto ingin menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar soal kelulusan administratif, tapi tentang proses panjang yang patut dirayakan—dengan penuh kerendahan hati dan rasa syukur. Ia menyebut acara ini sebagai bentuk apresiasi sekolah terhadap perjuangan para siswa, sekaligus momentum refleksi bagi orang tua dan guru tentang arah pendidikan ke depan. Ia pun menyampaikan selamat kepada seluruh siswa yang diwisuda, seraya menyebut momen ini sebagai langkah awal menuju masa depan yang penuh tantangan dan peluang. Pendidikan Bisa Mengubah Takdir Prof. Biyanto mengangkat kisah pribadinya sebagai seseorang yang berasal dari keluarga sederhana di Lamongan, dari wilayah yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai “Banglades”—singkatan dari “bangsa Lamongan ndeso”. Sebutan itu bukan tanpa sebab. Banyak anak-anak dari kawasan ini yang tumbuh di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan dan ekonomi. Namun justru dari latar seperti itulah, Prof. Biyanto menegaskan keyakinannya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang bisa mengubah nasib, bahkan takdir seseorang. Ia berkisah, masa kecilnya diwarnai berbagai keterbatasan. Jalan hidupnya jauh dari kemewahan. Tapi perlahan, dengan kesungguhan dan kerja keras dalam menempuh pendidikan, satu demi satu pintu terbuka. Pendidikan menjadi jembatan yang mempertemukannya dengan dunia yang lebih luas, hingga kini ia dipercaya menjabat sebagai pejabat kementerian sekaligus pimpinan wilayah di Muhammadiyah. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya membentuk kompetensi, tetapi juga membangun kepercayaan diri, melatih mentalitas pantang menyerah, dan memperluas horizon berpikir. Pendidikan adalah bekal untuk menghadapi masa depan yang tak pasti. Ia menyebut bahwa salah satu peran penting pendidikan adalah membebaskan seseorang dari rasa rendah diri, dari sikap minder sebagai anak desa yang seolah tak punya peluang di dunia yang kompetitif. Ia pun menyinggung soal bagaimana akses pendidikan di daerah pinggiran bisa sangat menentukan masa depan seseorang. Bukan karena tempat itu terbelakang, tetapi karena dari tempat-tempat seperti itulah tumbuh mimpi-mimpi besar yang dibakar oleh semangat perubahan. Dalam kesempatan itu, ia juga menyebut nama Mohammad Nurfatoni, jurnalis senior yang juga berasal dari satu kecamatan dengannya di Lamongan. Mas Fatoni, demikian ia menyapanya, telah lama berkecimpung di dunia media digital dan menjadi bagian dari gelombang perubahan melalui kekuatan tulisan dan jurnalisme dakwah. Ia menyebut bahwa keduanya tumbuh dari akar budaya yang sama—daerah pelosok dengan fasilitas terbatas—tetapi karena memilih jalur pendidikan, mereka bisa membuktikan diri dan memberi manfaat bagi banyak orang. Ia juga mengutip kisah lain dari rekannya, Prof. Khoirul Anwar, yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik. Ia menyebut bahwa Khoirul Anam pun bukan berasal dari keluarga elite, tetapi karena gigih dalam menempuh pendidikan hingga mencapai gelar profesor, ia dipercaya memimpin perguruan tinggi ternama. “Kalau bukan karena pendidikan, mana mungkin bisa jadi rektor? Karena syaratnya jelas: harus doktor, dan harus berprestasi,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin. Karena itulah, Prof. Biyanto berpesan kepada seluruh siswa agar jangan minder, jangan merasa kecil hanya karena berasal dari desa atau keluarga biasa. Ia menegaskan bahwa siapa pun bisa sukses asalkan sungguh-sungguh menempuh jalan pendidikan. Ia menutup bagian ini dengan pesan tajam, “Jangan sampai kalian hanya menjadi penonton. Kalian harus menjadi pelaku sejarah. Bukan jadi tamu di negeri sendiri, tapi jadi tuan rumah. Bukan jadi jongos, tapi jadi pemimpin.” Pendidikan Harus Relevan dengan Zaman Dalam bagian paling mendalam pidatonya, Prof. Biyanto mengutip nasihat Sayidina Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dari zamanmu.” Pesan ini, menurutnya, menjadi relevan karena anak-anak yang diwisuda hari ini akan menghadapi tantangan 5, 10, bahkan 15 tahun ke depan yang sangat berbeda dari masa guru dan orang tuanya. Itulah sebabnya, Kementerian Pendidikan merancang kurikulum baru yang menambahkan pelajaran seperti artificial intelligence (AI) dan coding. Keduanya dimaksudkan agar siswa memiliki bekal kompetensi yang memadai di abad ke-21. Bahkan, pendekatan pembelajaran pun harus berubah, dari metode lama ke pendekatan baru yang disebut “pembelajaran mendalam”—alih bahasa dari istilah deep learning. Menurut Prof. Biyanto, pembelajaran pendalam memiliki tiga pilar. Pertama, disebut mindful learning, yaitu proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa bahwa belajar adalah kebutuhan, bukan beban. Ia mengajak semua pihak—termasuk orang tua—untuk menyadari bahwa warisan terbaik bukanlah harta benda, melainkan ilmu. “Kalau harta bisa hilang, tapi ilmu tidak akan pernah hilang,” katanya. Kedua, meaningful learning, yaitu bagaimana guru mampu mengaitkan materi pelajaran dengan realitas dunia nyata. Pembelajaran tidak boleh berhenti di teori, tetapi harus menyentuh konteks zaman dan tantangan yang akan dihadapi siswa di masa depan. Dan yang ketiga

Smamdela Siapkan Haflah Akhirissanah dengan Sentuhan Berbeda

SMAMDELAGRES—Sabtu lusa, 17 Mei 2025, SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik (Smamdela) akan menggelar Haflah Akhirissanah Ke-35 di Hall Sang Pencerah, Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Acara ini akan menjadi puncak perjalanan siswa kelas XII yang bersiap menanggalkan status pelajar dan melangkah ke fase kehidupan berikutnya. Namun, Haflah tahun ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia dirancang sebagai ruang yang memadukan spiritualitas, intelektualitas, dan emosi. Dalam satu panggung, akan terjalin penghormatan pada prestasi, penghargaan atas cinta orang tua, serta dorongan kuat untuk melanjutkan langkah ke masa depan. Bukan Wisuda, tapi Haflah Akhirissanah Alih-alih menggunakan istilah “wisuda” atau “purnasiswa” yang lazim dipakai dalam acara pelepasan siswa, pihak sekolah memilih menyebutnya Haflah Akhirissanah. Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afiffah, M.Si., menjelaskan bahwa penggunaan istilah ini bukan tanpa alasan. “Di awal, ada imbauan dari dinas agar sekolah tidak menggunakan istilah ‘wisuda’ atau ‘purnasiswa’. Maka kami gunakan istilah Haflah Akhirissanah yang tetap bermakna perpisahan, tapi tidak menyalahi aturan,” ungkapnya dalam wawancara daring, Kamis (15/5/2025). Lebih jauh, istilah “haflah akhirissanah” dari bahasa Arab yang bermakna perayaan akhir tahun juga mencerminkan karakter keislaman sekolah, sekaligus menjadi momen penuh doa dan refleksi. Mengapa di UMG? Sudah empat tahun ini, wisuda atau haflah digelar di Hall Sang Pencerah UMG, bukan di lingkungan sekolah. Menurut Emi, keputusan itu diambil karena dua alasan utama. Pertama, sekolah belum memiliki ruang representatif untuk menampung acara berskala besar. Kedua, dan yang lebih visioner, adalah untuk menanamkan atmosfer akademik ke dalam jiwa para siswa. “Kami ingin mendekatkan siswa dengan dunia kampus. Harapannya, mereka yang awalnya belum berencana kuliah bisa muncul keinginan melanjutkan pendidikan setelah melihat langsung suasana UMG,” jelas Emi. Kolaboratif, Inklusif, dan Digarap Siswa Sendiri Haflah ini juga istimewa karena, seperti tahun-tahun sebelumnya, acara sebagian besar dikelola langsung oleh siswa. Siswa kelas X dan XI menjadi tim event organizer (EO), mengurus penyambutan tamu, dekorasi, hingga make-up talent. Seluruh pengisi acara—penari, MC, pembaca ayat suci, hingga pembaca puisi—merupakan siswa aktif. Tak kalah menarik, tim publikasi dan dokumentasi acara ditangani siswa jKelas Vokasi Desain Komunikasi Visual (DKV). Mereka bertanggung jawab atas produksi video, media sosial, dan live streaming melalui kanal YouTube sekolah. Acara ini juga mengadopsi konsep wisuda sarjana secara simbolis. Saat prosesi pemanggilan nama siswa, prestasi akademik maupun nonakademik mereka akan disebutkan di hadapan publik. Masing-masing akan dikenakan selempang kelulusan sebagai bentuk apresiasi visual dan personal. Mengukuhkan Identitas lewat Nilai-Nilai Puncak Haflah akan diawali dengan pembacaan ayat suci, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya, serta sambutan dari kepala sekolah. Selanjutnya, digelar prosesi Haflah Akhirissanah oleh jajaran struktural, dilanjutkan Wisuda Tahfizul Quran IV yang menandai keberhasilan siswa penghafal Al-Qur’an. Dua tokoh penting juga akan hadir memberi wejangan: Prof. Biyanto, M.Ag, Sekretaris PWM Jawa Timur dan Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, dengan Pidato Iftitah. Prof. Dr. Khoirul Anwar, M.Pd, Rektor UMG, dengan motivational speech bertajuk “Menetapkan Tujuan untuk Sukses: Mengubah Impian Menjadi Tonggak Pencapaian”. Rangkaian acara akan semakin hangat dengan penampilan tari Saman, penghargaan Best Students, dan pesan kesan siswa yang akan disampaikan Fajar Izzul. Puncak Haru dalam Prosesi Sungkem Usai doa bersama oleh Ustaz Nur Syamsi, acara memasuki bagian paling emosional. Pemutaran video dokumenter angkatan akan mengajak hadirin menyusuri jejak langkah siswa selama tiga tahun. Tangis mulai pecah saat puisi untuk orang tua dibacakan oleh Rafeyfa, membuka jalan menuju prosesi sungkem. Dalam momen sakral ini, siswa bersimpuh di hadapan orang tua mereka, mencium tangan, memeluk, dan menyampaikan terima kasih yang tak sempat terucapkan selama ini. Tangis haru menjadi bukti: pendidikan tak hanya soal nilai, tapi juga tentang penghargaan dan cinta. Menyimpan Kenangan, Membuka Jalan Haflah akan ditutup dengan sesi hiburan, foto bersama wali kelas, dan ramah tamah. Tak hanya ditujukan untuk siswa dan guru, acara ini juga terbuka bagi orang tua, alumni, dan warga Muhammadiyah. “Kami ingin siswa-siswi membawa pulang bukan hanya ijazah, tapi nilai kehidupan dan pengalaman emosional yang akan dikenang seumur hidup,” tegas Emi. Dengan segala kolaborasi, nilai, dan atmosfer yang dibangun, Haflah Akhirissanah 2025 bukan hanya akhir dari masa SMA—melainkan awal dari langkah besar menuju kehidupan yang lebih bermakna. Sumber: Tagar.co

Bantuan

Pengaduan Layanan

Contact

smamuh8gresik@gmail.com

0812-3098-2066

(031) 7990357

© 2025 Copyright SMA MUHAMMADIYAH 8 GRESIK