Home / Berita / Siswi Smamdela Diajak Merawat Taman Hati Perempuan

Siswi Smamdela Diajak Merawat Taman Hati Perempuan

SMAMDELAGRES — Udara dini hari di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa sejuk dan menenangkan (31/10/2025). Lampu-lampu temaram masih menyala, menyoroti wajah-wajah siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) yang duduk melingkar dengan mata penuh rasa ingin tahu.

Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri yang mengusung tema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami” berlanjut dengan sesi yang paling siswi nantikan. Ialah materi Nurturing Diri bersama Siti Fatimah, S.Ag, Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme yang akrab dengan sapaan Bu Fat.

Begitu muncul, suasana langsung berubah hangat. Jarak antara pembicara dan peserta seolah sirna. Siti Fatimah memulai sesi dengan cara sederhana. Bukan ceramah panjang, melainkan obrolan ringan yang justru membuat para siswi merasa dekat.

Ia membahas hal-hal yang paling akrab dengan kehidupan remaja. Yaitu pertemanan yang kadang melelahkan, hubungan yang menuntut pembuktian, hingga bagaimana mencintai diri sendiri tanpa harus selalu terukur dari perhatian orang lain.

Topik-topik itu begitu dekat dengan keseharian mereka. Banyak siswi tampak mengangguk, bahkan tersenyum malu ketika Siti Fatimah menyinggung sikap remaja yang mudah merasa “tidak cukup” hanya karena perbandingan di media sosial. Di titik itulah, suasana menjadi hidup. Tawa kecil bersahutan, diselingi gumaman pelan, tanda banyak hati yang merasa terwakili.

Rawat Taman Hati Perempuan

Suasana semakin cair saat Siti Fatimah mengajak peserta merenung tentang nurturing hati. Ini tentang bagaimana menjaga sisi terdalam diri agar tetap lembut dan terarah. Ia menggambarkan hati perempuan seperti taman kecil yang perlu disiram setiap hari. Jika tidak, hati bisa layu karena lelah, kecewa, dan luka yang selama ini siswi simpan sendiri.

Perlahan, suasana lapangan yang tadinya riuh berubah menjadi teduh. Semua siswi mendengarkan dengan diam, seolah takut kehilangan satu kata pun. Siti Fatimah berbicara dengan gaya yang menenangkan, membiarkan pesan-pesan halusnya meresap perlahan di antara keheningan malam. Ia tidak menasihati, tapi menuntun. Ia tidak menggurui, tapi menemani.

Di sela sesi, beberapa siswi memberanikan diri untuk bertanya. Bukan satu atau dua, tetapi hampir setiap barisan mengangkat tangan. Mereka mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari cara menjaga pertemanan yang sehat hingga bagaimana menghadapi rasa sensitif sebagai seorang perempuan. Siti Fatimah menanggapi semuanya dengan sabar dan jenaka, membuat suasana terasa ringan tetapi penuh makna.

Greesha Snejanara, siswi kelas XII, mengaku kagum dengan cara Siti Fatimah menyampaikan materi. Menurutnya, gaya Siti Fatimah yang santai tetapi mengena membuat teman-temannya sampai berebut ingin bertanya. “Rasanya seperti ikut sesi pengajian di hotel berbintang, tapi lebih keren, karena yang berbicara benar-benar memahami dunia kami,” ujarnya sambil tertawa.

Pulang ke Ruang Penyembuhan Diri

Dari luar, mungkin sesi itu tampak seperti obrolan malam biasa. Namun bagi para siswi, sesi itu menjadi semacam ruang penyembuhan kecil. Menjadi tempat mereka bisa mengenali kembali diri, memahami emosi, dan belajar mencintai diri dengan cara yang lebih tenang.

Saat sesi berakhir, Siti Fatimah menutup dengan pesan lembut, “Kalau hatimu baik, hidupmu akan menemukan arah. Jagalah hatimu, karena dari situlah semua kebaikan tumbuh.”

Siswi menyambut ucapan itu dengan senyum dan tepuk tangan pelan. Tidak ada teriakan atau sorakan, hanya rasa hangat yang mengalir di udara dini hari itu. Banyak siswi menunduk, mungkin sedang memeluk pelajaran yang baru mereka temukan, bahwa menjadi perempuan beriman bukan sekadar kuat, tetapi juga mampu merawat hati agar tetap lembut.

Malam itu, lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga ruang pulang bagi banyak hati muda. Di bawah cahaya bulan yang samar, Mabit Putri Smamdela membuktikan satu hal: perjalanan menuju nurani sering kali dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mendengarkan, merenung, dan belajar kembali mencintai diri sendiri dengan iman. (#)

Jurnalis Liset Ayuni 

Sumber : Tagar.co

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bantuan

Pengaduan Layanan

Contact

smamuh8gresik@gmail.com

0812-3098-2066

(031) 7990357

© 2025 Copyright SMA MUHAMMADIYAH 8 GRESIK