SMAMDELAGRES — Malam kian larut di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme. Lampu-lampu yang sejak sore menerangi kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) masih menyala lembut (31/10/2025).
Cahaya hangat terpantul di wajah-wajah siswi yang duduk berkelompok di atas tikar. Suara lembut Siti Fatimah, S.Ag., Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme, yang beberapa jam lalu mengisi sesi Nurturing Diri masih terngiang di telinga mereka.
Namun kali ini, siswa-siswi mengambil giliran berekspresi dan menafsirkan. Panitia Mabit mengajak mereka menyelami makna ayat Al-Qur’an pilihan yang berkaitan dengan materi sebelumnya tentang pergaulan, hubungan pertemanan, dan menjaga hati di masa remaja.
Di tiap kelompok, selembar kertas karton besar terhampar di tengah lingkaran. Ada yang menggambar simbol hati dengan akar iman, ada pula yang menulis potongan ayat dengan warna-warni spidol. Beberapa kelompok terlihat berdiskusi serius, sementara kelompok lain tertawa pelan di sela perdebatan kecil tentang makna kata “qolbun salim” atau hati yang bersih.
Suasana malam terasa hidup dengan cara yang berbeda. Siswi tenang tetapi penuh makna. Mereka menyingkirkan layar ponsel atau musik keras. Hanya kalimat suci yang mereka urai menjadi refleksi tentang diri.
Refleksi Ayat, Merawat Hati Bersama
Pembimbing dari panitia Mabit mengelilingi tempat kegiatan, memantau tiap kelompok dengan lembut. Mereka membantu mengaitkan ayat yang dibahas dengan tema Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami). Di sinilah makna “nurturing” terasa nyata: bukan sekadar teori, tetapi proses belajar merawat hati bersama-sama.
Menjelang pukul sepuluh malam, tiap kelompok memajang hasil karya mereka di sisi lapangan. Warna-warna cerah menghiasi malam yang lembut. Ada kelompok yang menulis doa, ada pula yang menempelkan potongan kertas berbentuk bintang berisi kalimat reflektif. Dari jauh, lapangan itu tampak seperti taman pesan yang bercahaya.
Setelah sesi refleksi dan presentasi singkat, pembina mengajak semua peserta menutup kegiatan malam dengan doa kafarotul majelis. Lantunan doa bergema pelan di udara, seolah menjadi pengantar menuju istirahat.
Pukul 22.00, satu per satu siswi mulai membereskan alat tulis dan melipat selimut. Panitia mengingatkan agar mereka beristirahat cukup, karena pukul dua dini hari nanti panitia akan membangunkan mereka untuk salat lail berjemaah. Di antara mereka, mereka masih berbisik pelan, membicarakan ayat yang baru saja didiskusikan, seakan belum ingin melepas suasana.
Angin malam Cerme berembus lembut. Di langit, bulan menggantung cerah, seolah menjadi saksi perjalanan kecil ratusan siswi yang sedang belajar mengenal dirinya melalui ayat-ayat Tuhan.
Malam itu, Mabit Putri Smamdela berubah menjadi perjalanan spiritual yang sederhana namun dalam. Setiap kata dalam Al-Qur’an tidak hanya mereka baca, tetapi mereka rasakan, mereka renungi, dan mereka terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika akhirnya mata-mata muda itu terpejam dalam keheningan malam, mereka tahu, perjalanan menuju nurani baru saja dimulai: dari tafsir ayat, menuju tafsir diri.
Jurnalis Liset Ayuni
Sumber : Tagar.co
