Tanpa AI: Kader IPM Smamdela Belajar Problem Solving dengan AI dan Ansos

SMAMDELAGRES — Riuh diskusi terdengar dari sebuah villa di Pacet. Siswa-siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela)duduk berkelompok, serius mengerjakan case study tanpa bantuan gawai, tanpa mesin pencari, apalagi AI. Semua ide mereka lahir dari hasil berpikir bersama, diiringi semangat khas pelajar Muhammadiyah yang sedang ditempa. Kegiatan ini merupakan bagian dari Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) PR IPM Smamdela yang rutin digelar setiap tahun. Dari 47 siswa yang lolos seleksi dua tahap sejak Agustus, sebanyak 37 akhirnya mengikuti rangkaian LDKS (25–27/9/2025). Jika sebelumnya LDKS lebih sering mengandalkan analisis SWOT untuk melatih kepemimpinan, tahun ini ada terobosan baru yakni peserta diperkenalkan pada teknik berpikir Appreciative Inquiry (AI) dan Analisis Sosial (Ansos). Materi problem solving ini dibawakan oleh guru BK sekaligus guru Sosiologi Smamdela, Liset Ayuni, S.Psi. Baginya, kesempatan ini bukan hanya menyampaikan teori, melainkan juga mendampingi murid-muridnya mengasah logika berpikir kritis. “Dengan AI, siswa belajar menggali kekuatan untuk mencari solusi. Sedangkan Ansos membantu mereka memahami akar masalah sebelum mengambil keputusan,” jelasnya. Diskusi berjalan dinamis. Setiap kelompok diminta menuntaskan case study tanpa HP. Hasilnya, mereka lebih banyak bertukar pikiran, menyusun argumen, dan berlatih mendengarkan. Beberapa kelompok memilih menelusuri masalah dengan Ansos, sementara lainnya lebih tertarik menggunakan AI karena menawarkan cara pandang yang optimis. Bunga Revelian Nurjannah, salah satu peserta, menceritakan pengalamannya. “Kelompok kami cenderung menganalisis case dengan AI karena lebih mudah menemukan kekuatan yang bisa dijadikan pijakan untuk solusi. Rasanya lebih semangat dan positif,” ungkapnya. Hal senada disampaikan panitia LDKS, Diesta Niken. Ia menilai tahun ini peserta lebih beruntung karena mendapat bekal problem solving secara formal. “Di LDKS sebelumnya, teknik logika berpikir belum pernah diajarkan. Mereka hanya tahu SWOT secara otodidak. Baru tahun ini langsung belajar AI dan Ansos, dan itu jadi nilai tambah besar,” ujarnya. Dari villa di lereng Pacet, pengalaman sederhana ini meninggalkan kesan mendalam. Tanpa bergantung pada teknologi, para kader IPM Smamdela berlatih memimpin dengan cara baru, yakni berpikir kritis, solutif, sekaligus visioner, sebuah bekal penting untuk mengemban amanah organisasi di masa depan. Penulis : Naflah Shoofiyah Sumber : pwmu.co
Filosofi “5ER” Jadi Bekal Etika Kader IPM di LDKS Smamdela

SMAMDELAGRES — Kamis (25/9/2025) siang, aula Villa Asia Jaya, Pacet, Mojokerto, kembali ramai. Setelah rangkaian aktivitas fisik pagi hari, 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) duduk berderet rapi, siap mengikuti salah satu sesi paling dinanti: Etika IPM. Sesi yang dimulai pukul 13.00 WIB ini diampu Wakil Kepala Sekolah Urusan ISMUBA, Lukman Arif SPdI. Tanpa PowerPoint, tanpa slide berwarna-warni, Lukman memilih pendekatan interaktif. Ia berbicara lepas, mengajak peserta terlibat dalam percakapan yang mengalir. “Etika itu bukan sekadar teori untuk dihafal, tetapi kebiasaan yang terus kita latih,” ucapnya membuka sesi. Lima Kata, Satu Karakter Lukman memperkenalkan filosofi “5ER,” yaitu lima kata sederhana yang menjadi panduan etika kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah: pinter, kober, bener, banter, dan seger. Pinter berarti cerdas dalam mengelola gagasan serta strategi gerakan. “Kecerdasan tidak hanya diukur dari nilai rapor. Kader IPM harus peka membaca situasi dan mampu mencari solusi,” tegasnya. Kober dimaknai sebagai kesiapan kapan pun organisasi membutuhkan, baik secara fisik maupun mental. Bener menekankan pentingnya integritas dan kejujuran. “Percuma kita pintar kalau tidak bener. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan,” sambungnya. Banter diartikan sebagai keberanian menyuarakan kebenaran di ruang publik dengan cara yang santun. Sementara itu, seger merujuk pada semangat muda yang selalu segar menghadapi tantangan zaman. “Seger bukan hanya badan yang bugar, tapi pikiran yang jernih dan hati yang bersih,” tutur Lukman. Kelima kata ini, menurutnya, bukan sekadar jargon. “5ER adalah karakter. Jika kalian mengamalkan ini, insyaallah akan menjadi kader yang beretika dan berkarakter,” pesannya. Antusias Gen Z Selama satu jam, suasana tetap cair. Pertanyaan mengalir, tawa kerap pecah saat Lukman mencontohkan perilaku sehari-hari yang akrab di telinga pelajar. Tanpa visual pendukung, peserta justru lebih fokus pada dialog yang hidup. Fachri Ilham, salah satu peserta, mengaku mendapat pemahaman baru tentang makna etika berorganisasi. “5ER ini gampang diingat dan bisa dipakai sehari-hari, bukan cuma di IPM. Misalnya, pinter itu bukan hanya nilai bagus, tapi pintar membawa diri,” ujarnya usai sesi. Bagi Aril (sapaan akrab Fachri Ilham), metode penyampaian Lukman menjadikan topik serius terasa menyenangkan. “Karena tidak pakai slide, kita jadi lebih fokus ke pembicaraan dan diskusi,” tambahnya. Ice Breaking yang Menyegarkan Di tengah pemaparan, Lukman menyelipkan ice breaking berupa tepuk tangan berirama. Suara tepukan peserta menggema, membuat aula kembali hidup setelah aktivitas padat sejak pagi. “Kadang kita perlu jeda supaya pikiran tetap segar. Itu juga bagian dari menjaga ‘seger’ dalam 5ER,” canda Lukman, disambut tawa peserta. Interaksi yang hangat ini menambah kesan mendalam. “Seru, kita jadi ikut aktif,” komentar beberapa peserta lain sambil tersenyum puas. Sejalan dengan Tema LDKS 2025 LDKS Smamdela tahun ini mengusung tema Grow Together, Lead with Character. Materi Etika IPM menjadi bagian penting untuk mewujudkan cita-cita tema itu: tumbuh bersama dalam kebersamaan, sekaligus memupuk kepemimpinan yang berkarakter. “Kalau pinter, kober, bener, banter, dan seger sudah tertanam, kalian akan tumbuh menjadi pemimpin muda yang berkarakter. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di masyarakat,” tegas Lukman menutup sesi. Peserta tampak masih mendiskusikan makna 5ER dengan teman-temannya selepas materi. Beberapa bahkan mengulang kelima kata itu sambil bercanda. Antusiasme ini menandakan bahwa pesan etika yang disampaikan tidak berhenti di ruang aula. Di tengah derasnya budaya instan dan tantangan generasi Z, 5ER hadir sebagai pengingat bahwa nilai dasar organisasi adalah fondasi kepemimpinan sejati. Bagi 37 peserta LDKS Smamdela, siang itu bukan sekadar belajar teori, melainkan menanamkan sikap yang akan mewarnai perjalanan sebagai kader dan pemimpin muda Muhammadiyah sejalan dengan semangat Grow Together, Lead with Character yang menjadi ruh LDKS 2025. (*) Penulis : Jovan Sumber : pwmu.co
LDKS IPM Smamdela: Jangan Benarkan yang Biasa, Biasakan yang Benar!

SMAMDELAGRES — Pesan tegas menggaung di tengah semarak Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), Kamis (25/9/2025) sore. Wakil Kepala Urusan Kesiswaan sekaligus Pembina PR IPM Smamdela, Ahmad Rizal Azdka, S.Pd., yang akrab disapa Pak Ri, memantik semangat peserta dengan materi bertema “Disiplin dalam IPM”. Materi ini disampaikan pukul 15.00–16.00 WIB di Villa Asia Jaya, Pacet, Mojokerto. Dengan gaya lugas dan penuh energi, Pak Ri menekankan bahwa disiplin bukan sekadar rutinitas, tetapi nafas utama yang meneguhkan karakter kepemimpinan ; sejalan dengan tema besar LDKS tahun ini, “Grow Together, Lead with Character”. “Jangan benarkan yang biasa, tapi biasakan yang benar,” tegasnya di hadapan 37 peserta terpilih. Kalimat singkat itu menjadi kunci pemahaman disiplin yang relevan bukan hanya di IPM, tapi juga di kehidupan sekolah dan masyarakat luas. Disiplin: Pilar Kader IPM Dalam pemaparannya, Pak Ri menguraikan pengertian disiplin ber-IPM sebagai sikap konsisten, tepat waktu, dan taat aturan. Ia merinci tiga ruang lingkup disiplin: 1. Disiplin Ibadah: menjaga ketepatan waktu salat, tilawah, dan berbagai kegiatan keagamaan. 2. Disiplin Belajar: konsisten mengerjakan tugas, menjaga prestasi, dan menyeimbangkan akademik dengan organisasi. 3. Disiplin Organisasi: hadir tepat waktu, memegang komitmen program kerja, serta menghormati hasil musyawarah. Menurutnya, kedisiplinan yang kokoh akan berdampak pada produktivitas, kepercayaan, dan keberkahan organisasi. “Kalau kader IPM mampu menegakkan disiplin, otomatis menjadi teladan di sekolah. Itu baru pemimpin karakter,” ungkapnya. PPT Padat, Pesan Mengena Pak Ri memanfaatkan slide presentasi singkat berisi poin-poin inti. Bukan untuk menjejali peserta dengan teks, melainkan menegaskan struktur pemahaman. Tiap slide hanya menampilkan kata kunci seperti konsisten, taat aturan, dan komitmen yang kemudian ia jabarkan secara interaktif. Pendekatan ini membuat peserta fokus. Fahri Zaidan, salah satu panitia LDKS, mengakui bahwa cara Pak Ri menyampaikan materi memudahkan peserta menyerap pesan. “Materinya padat, tapi cara beliau memaparkan itu santai dan langsung ke inti. Jadi nggak terasa seperti ceramah panjang,” ujarnya. Disiplin yang Dihidupkan Panitia Bukan sekadar teori, panitia LDKS sendiri menjadi contoh nyata penerapan disiplin. D, salah satu panitia, mengisahkan pengalaman saat keberangkatan menuju Pacet. Sesuai jadwal, seluruh tim harus berangkat pukul 06.00 pagi. Namun D baru tiba sekitar pukul 06.30. Sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat bersama Pak Ri, keterlambatan dikenai denda khusus sebagai konsekuensi. “Itu bukan soal nominalnya, tapi soal komitmen. Saya jadi paham bahwa disiplin bukan untuk mengekang, tapi untuk melatih tanggung jawab,” ungkap D. Cerita itu menjadi pengingat bahwa disiplin bukan sekadar materi di slide, melainkan sikap yang harus dihidupkan dalam setiap aktivitas organisasi. Menguatkan Tema LDKS 2025 Semua pesan yang disampaikan Pak Ri sejalan dengan tema besar LDKS 2025, “Grow Together, Lead with Character”. Disiplin diposisikan sebagai fondasi kepemimpinan: menumbuhkan kebiasaan baik secara kolektif, dan memupuk karakter pemimpin yang tegas namun penuh empati. Pak Ri menutup sesi dengan menantang para peserta untuk terus menanamkan disiplin dalam setiap aspek kehidupan sekolah dan IPM. “Pemimpin itu dilihat bukan dari seberapa sering dia berbicara, tapi dari ketepatan dan konsistensinya menepati janji dan waktu,” tandasnya. Materi sore itu bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menggugah kesadaran. Disiplin yang diajarkan Pak Ri menegaskan bahwa membiasakan yang benar jauh lebih penting daripada membenarkan kebiasaan. Sebuah pesan yang terus terngiang bahkan setelah kegiatan LDKS usai. Penulis : Liset Ayuni Sumber : pwmu.co
Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) Semester Ganjil TA 2025/2026

Selamat menempuh Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) Ganjil bagi seluruh siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik kelas X, XI, dan XII. Semoga diberi kemudahan, kelancaran, serta hasil terbaik sesuai usaha yang telah dilakukan. 💪🎓 Tetap semangat, fokus, dan percaya diri! #SMAMDELA #PSTS #SemangatBelajar #SiswaBerprestasi #Muhammadiyah
Podcast Oasis Smamdela Hadirkan Prof. Sukadiono, Kupas Empat Syarat Jadi Pemimpin

SMAMDELAGRES — Ahad pagi (28/9/2025) ruang podcast SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, terasa berbeda. Bukan hanya karena suasana akhir pekan yang tenang, tetapi karena hadirnya tamu istimewa: Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Dalam program Oasis—Obrolan Asik dan Inspiratif—ia berbincang santai selama 15 menit, namun penuh makna. Percakapan berlangsung di ruang podcast yang sederhana namun hangat. Prof. Sukadiono duduk berhadapan dengan saya sebagai host, sementara di antara kami ada rangkaian bunga oranye dan putih yang memberi sentuhan segar. Kehangatan itu membuat obrolan terasa akrab, seolah berlangsung di ruang tamu keluarga. Sosok Prof. Sukadiono tentu tak asing di Muhammadiyah. Sebelum menjabat Ketua PWM Jawa Timur, ia pernah memimpin Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai rektor tiga periode. Kini ia dipercaya mengemban amanah baru sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kemenko PMK RI. Jejak panjang kepemimpinannya di bidang pendidikan, kesehatan, dan organisasi membuat kehadirannya di Smamdela menjadi momen berharga untuk belajar langsung tentang makna menjadi pemimpin. Benih Kepemimpinan sejak Kecil Dalam obrolan, Prof. Sukadiono mengaku sejak kecil sering dipercaya sebagai ketua kelas atau koordinator kegiatan di sekolah dasar. “Entah kenapa, saya selalu didorong untuk maju, meskipun waktu itu belum paham betul apa arti kepemimpinan,” kenangnya sambil tersenyum. Kisah sederhana itu disambut tawa, namun menyiratkan pesan bahwa kepemimpinan sering lahir dari pengalaman kecil yang konsisten diasah. Meski kini dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, ia baru benar-benar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ketika kuliah. “Di daerah saya dulu (Jombang), organisasi Muhammadiyah belum sekuat sekarang. Jadi pengalaman saya ber-IPM justru baru saat mahasiswa,” ujarnya. Pengalaman itu, katanya, menegaskan bahwa tak ada kata terlambat untuk menapaki jalan organisasi. Kepada pelajar, dia menekankan pentingnya menjaga marwah diri. “Jangan sampai terseret perilaku nakal seperti judi atau miras, karena itu bisa merusak harga diri seorang pelajar,” pesannya. Menurutnya, pelajar yang baik bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan terbuka pada ilmu. Empat Syarat Pemimpin Dalam perbincangan yang santai namun sarat makna itu, Prof. Sukadiono kemudian menyinggung empat syarat utama yang menurutnya harus melekat pada diri seorang pemimpin. Pertama, pemimpin sejati harus senantiasa menjaga akhlakulkarimah. Baginya, akhlak bukan sekadar atribut, melainkan fondasi moral yang menjadi ukuran integritas seorang pemimpin. Kedua, seorang pemimpin wajib istikamah dalam menjalankan amanah. Konsistensi inilah yang akan membuat kepercayaan tumbuh dan kepemimpinan bisa bertahan. Ketiga, ia menekankan pentingnya sikap rendah hati untuk terus belajar. Membaca buku, memperluas wawasan, dan mencari ilmu dari berbagai sumber adalah jalan panjang yang tidak boleh ditinggalkan. Dan yang terakhir, ia mengingatkan satu hal yang sering dianggap sepele, tetapi justru menjadi sumber kekuatan batin: salat tahajud. Dengan nada tegas ia menuturkan, “Tahajud itu bukan hanya soal ibadah, tapi juga cara melatih kedekatan spiritual seorang pemimpin dengan Allah.” Faktor Internal dan Eksternal Ia juga menguraikan dua faktor dalam kepemimpinan. Faktor internal adalah bagaimana seorang pelajar menjaga dirinya: haus akan ilmu, berakhlak, dan berkomitmen. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan yang mendukung, mulai dari fasilitas sekolah hingga sistem yang menciptakan ruang aman untuk tumbuh. Bagi pelajar Muhammadiyah, sekolah disebutnya sebagai laboratorium kepemimpinan yang efektif. Di sinilah mereka tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga berlatih organisasi, belajar manajemen, melatih tanggung jawab, dan membangun jejaring positif. “Kalau pelajar Muhammadiyah bisa memaksimalkan sekolah dan organisasinya, insyaallah mereka siap melangkah lebih jauh di masa depan,” ucapnya penuh keyakinan. Pesan Penutup Meski singkat, percakapan 15 menit itu terasa padat. Ada tawa hangat saat ia mengenang masa kecil, ada pula keheningan hening saat ia menegaskan pentingnya tahajud. Semua berpadu menjadi potret sisi manusiawi sekaligus visioner dari seorang Ketua PWM Jawa Timur. Sebelum menutup obrolan, Prof. Sukadiono menyampaikan pesan yang menancap kuat: “Kalau akhlak dijaga, ilmu terus dicari, istiqomah dilatih, dan tahajud tidak ditinggalkan, insyaAllah pelajar bisa tumbuh jadi pemimpin yang membanggakan.” Podcast penuh inspirasi ini segera tayang di kanal YouTube Smamdela. Hanya 15 menit, tapi sarat makna—layak ditunggu oleh siapa saja yang ingin belajar kepemimpinan dari pengalaman langsung seorang pemimpin Muhammadiyah Jawa Timur. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
LDKS IPM SMAMDELA Ajak Peserta Nesting dan Galakkan Zero Waste

SMAMDELAGRES — Selama tiga hari dua malam, 25-27 September 2025, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) PR IPM SMA Muhammadiyah 8 (SMAMDELA) Gresik digelar di villa Pacet, Mojokerto. Selama itu pula, peserta mengikuti kegiatan nesting, tradisi makan bersama yang berlangsung sekitar satu jam per sesi. Kegiatan itu menjadi bagian dari LDKS yang menekankan kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian lingkungan. Nesting bukan sekadar makan, tetapi juga filosofi praktis. Peralatan seperti panci, wajan, dan wadah dirancang bisa ditumpuk (nesting set), memudahkan penyimpanan dan transportasi saat berkegiatan di luar ruangan. “Kegiatan ini melatih peserta untuk menghargai makanan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan,” jelas Diesta Niken, salah satu panitia. Zero Waste dan Kebersamaan Seluruh peserta dan panitia diwajibkan membawa tumblr dan alat makan sendiri, sebagai bagian dari program zero waste. Langkah ini sederhana namun memberikan pembelajaran penting tentang peduli lingkungan. Kamis (25/9), saat tiba di villa, peserta makan siang menggunakan bekal yang dibawa dari rumah. Malam harinya, panitia menyajikan menu sederhana beras, telur, dan mie. Setelah makanan siap, mereka diberi lengser untuk menikmati hidangan secara berkelompok dengan filosofi yang menekankan kerja sama dan kebersamaan. Pada Jumat (26/9) malam, sebelum api unggun, panitia menambahkan hidangan nasi goreng meski peserta telah makan malam dengan nesting. Sesi ini membuat malam lebih hangat, sekaligus memberikan energi tambahan untuk kegiatan api unggun dan refleksi kelompok. Pada Sabtu (27/9), sebelum pulang, peserta kembali menerima hidangan dari panitia sebagai penutup rangkaian nesting. “Seru banget! Meski sederhana, makan bareng bikin suasana hangat,” ujar Niken Almira, salah satu peserta. Jumlah peserta LDKS sebanyak 37 orang dari total 47 siswa yang lolos seleksi dua tahap sejak Agustus 2025. Aktivitas nesting menjadi momen penting dalam rangkaian LDKS, melatih kedisiplinan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan secara langsung. Panitia menegaskan, kegiatan ini juga mengajarkan nilai kepemimpinan sederhana. Dengan bekerja sama dalam satu kelompok, peserta belajar menghargai setiap proses, saling berbagi, dan merasakan hasil kerja bersama. Filosofi lengser dan berbagi hidangan memperkuat nilai kebersamaan tersebut. Selain aspek edukatif, nesting juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk bercengkerama dan melepas penat setelah rangkaian materi LDKS. Aktivitas sederhana ini memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya tanggung jawab, kedisiplinan, dan kerjasama dalam kelompok. Dengan durasi sekitar satu jam tiap sesi, nesting menjadi kegiatan yang tak terlupakan bagi seluruh peserta. Tradisi ini bukan hanya soal makan, tapi menjadi bagian dari pengalaman membangun karakter, melatih kepedulian, dan mempererat hubungan antar peserta LDKS. Kontributor: Liset Ayuni Sumber : girimu.com
Jelajah Alam Smamdela: Saat Belajar Kepemimpinan Jadi Petualangan Seru

SMAMDELAGRES — Suara riuh tawa dan langkah beriring terdengar sejak pagi ketika 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) IPM SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) memulai Jelajah Alam. Kegiatan yang berlangsung 25–27 September 2025 di Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ini menghadirkan suasana berbeda: para kader diajak keluar dari ruang villa, menyatu dengan alam, dan menemukan jeda di antara padatnya materi kepemimpinan. Menyatu dengan Sawah dan Sungai Perjalanan diawali dengan menapaki jalan setapak menuju area persawahan yang dialiri sumber mata air jernih. Begitu sampai, sebagian peserta langsung melepas alas kaki. Mereka menyusuri pematang, saling menciprat air, hingga tertawa lepas bersama. Gemericik air yang mengenai kaki dan teriakan heboh menciptakan momen penuh keceriaan. Suasana makin hangat ketika peserta berbaris dengan seragam oranye, topi biru, dan syal hijau. Mereka menyambut instruktur dengan tepuk semangat yang kompak, tangan terangkat tinggi seakan menyalurkan energi positif. Pemandangan itu menambah warna perjalanan, memperlihatkan antusiasme sekaligus kekompakan khas anak muda yang sedang belajar kepemimpinan. Kreativitas dari Alam Namun, perjalanan ini bukan sekadar bermain. Di setiap pos tersedia tantangan berbeda. Pos pertama dipandu Zulfikar yang mengajak peserta merangkai bunga dari tanaman sekitar. Aktivitas sederhana itu justru memunculkan kreativitas sekaligus kekompakan. Setiap rangkaian bunga membawa cerita, seolah simbol kebersamaan yang tumbuh di antara mereka. Langkah berlanjut ke Pos 2. Kali ini, Rafi Rasyidin dan Makhda Syadana mengajak peserta duduk melingkar untuk berbagi kisah. Dari pengalaman selama LDKS, refleksi ringan, hingga cerita personal mengalir apa adanya. Tidak ada jarak, semua setara. Suasana akrab membuat tawa dan renungan bergantian hadir, memperkuat ikatan emosional antar peserta. Basah Kuyup, tapi Penuh Makna Puncak keseruan tersaji di Pos 3 bersama Awalul Nanda dan Novianti Laura Angelis. Mereka mengulas kembali pengalaman jurit malam dengan santai, lalu menutup sesi dengan bermain di sungai kecil. Basah kuyup tak jadi masalah. Justru di situlah mereka merasakan kebersamaan paling lepas, tanpa beban, hanya rasa syukur karena bisa belajar sambil bersenang-senang. “Menurut saya, Jelajah Alam ini bagian paling menyenangkan. Rasanya seperti pulang ke masa kecil, main di sawah tanpa peduli kotor atau basah. Tapi lebih dari itu, kami belajar menikmati kebersamaan dengan cara sederhana,” ungkap Siti Rasyada, salah satu peserta LDKS. Belajar dari Tawa dan Peluh Jelajah Alam membuktikan bahwa LDKS bukan hanya soal teori kepemimpinan. Ada ruang untuk merawat jiwa, menumbuhkan kebersamaan, dan belajar menghargai hal-hal sederhana. Bagi kader IPM Smamdela, momen ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pemimpin yang tangguh lahir tidak hanya dari diskusi serius, melainkan juga dari tawa, peluh, dan kebersamaan yang dibagi di tengah alam. (#) Jurnalis Diesta Niken Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co
Menjaga Spirit Islami, IPM SMAMDELA Bergilir Jadi Imam, Kultum, dan Pimpin Tadarus di LDKS 2025

SMAMDELAGRES — Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMA Muhammadiyah 8 Gresik (SMAMDELA) tak hanya melatih militansi dan kepemimpinan. Selama tiga hari dua malam pelaksanaan LDKS 2025, Kamis–Sabtu (25–27/9/2025), panitia juga meneguhkan pembiasaan nilai-nilai Islami: kultum (kuliah tujuh menit), imam sholat berjamaah, dan tadarus Al Quran. Jadwal kegiatan rohani itu tidak dibiarkan berjalan spontan. Panitia menyusun pembagian giliran per kelompok peserta yang dibentuk dengan nuansa khas Gresik: Jubung, Bonggolan, Ayas, Pudak, dan Krawu. Setiap kelompok mendapat jatah bergiliran untuk menjadi imam sholat, menyampaikan kultum, dan memimpin tadarus sesuai jadwal yang telah ditetapkan sejak awal. “Ini bukan sekadar mengisi waktu ibadah, tetapi melatih rasa tanggung jawab dan kepemimpinan berbasis nilai keislaman,” terang Safaatul, Ketua Panitia LDKS 2025. Menurutnya, para peserta tidak hanya dilatih memimpin forum diskusi dan kegiatan outbound, melainkan juga diharapkan siap memimpin dalam konteks ibadah, yang menuntut adab, ketenangan, dan kepekaan spiritual. Krawu Memulai Giliran Momentum pertama terasa pada Kamis siang (25/9/2025). Ketika waktu sholat Dhuhur tiba, seluruh peserta berkumpul di ruang utama Villa Asia Jaya, Pacet. Kelompok Krawu, yang hari itu mendapat jadwal pertama, melaksanakan tugas perdana menjadi imam sholat Dhuhur. Seusai sholat jamaah, mereka juga memimpin tadarus surat-surat pendek hingga waktu Asar menjelang. Adapun kultum perdana disampaikan pada malam harinya, selepas sholat Maghrib, oleh Kelompok Jubung. Materi yang mereka bawakan menyampaikan pesan dengan lugas dan penuh semangat, mengundang antusias seluruh peserta. Seluruh rangkaian tersebut erat dengan tema LDKS 2025: “Grow Together, Lead with Character.” Panitia menilai, kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola program atau memimpin rapat. Lebih dari itu, karakter pemimpin pelajar IPM dibangun dari kepekaan spiritual dan kemampuan menjadi teladan dalam ibadah. “Pembiasaan kultum, imam, dan tadarus adalah sarana nyata untuk menumbuhkan karakter pemimpin yang utuh,” jelas Lukman Arif, SPdI, Waka ISMUBA yang turut mendampingi. Lewat pembiasaan ini, lanjutnya, para kader IPM belajar, bahwa memimpin bukan hanya soal kecakapan organisatoris, tetapi juga tentang kesiapan mengarahkan jamaah dan menjaga kekhusyukan ibadah. Ini sejalan dengan semangat Grow Together, Lead with Character. Ricky Maulana Ferdiansyah, SOr, pendamping LDKS, menambahkan, bahwa pembiasaan ini menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kepedulian. “Saat mereka bergantian jadi imam, menyampaikan kultum, atau memimpin tadarus, terlihat sekali tumbuhnya keberanian dan empati. Mereka saling menguatkan, membenarkan bacaan, dan memberi dukungan satu sama lain. Itu modal penting bagi kader IPM untuk menjadi pemimpin yang berkarakter Islami,” ujarnya. Ghirah Kebersamaan Setiap kelompok mendapat jadwal bergilir selama tiga hari dua malam. Sistem rotasi ini membuat seluruh peserta merasakan tantangan dan tanggung jawab yang sama. Selain memupuk rasa percaya diri, pola ini menumbuhkan empati dan ghirah kebersamaan. Di akhir kegiatan, para peserta sepakat bahwa giliran kultum, imam, dan tadarus bukan sekadar agenda ibadah, tetapi pengalaman kepemimpinan yang mengesankan. Seperti diungkap Aluno Kenantha, “Rasanya beda ketika harus memimpin sholat atau tadarus. Kita belajar bukan hanya bicara, tapi mencontohkan langsung.” Tradisi bergiliran ini menjadi bukti nyata semangat “Grow Together, Lead with Character”: tumbuh bersama dengan karakter pemimpin yang mengakar kuat pada nilai-nilai Islam. (*) Kontributor: Liset Ayuni Sumber : girimu.com
Tradisi Jalan Kaki LDKS Smamdela: Militansi dan Empati ala Pendaki Kalcer

SMAMDELAGRES — Kabut tipis masih menari di udara pegunungan ketika Kamis pagi (25/9/2025), 37 pelajar SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, berkumpul di Bundaran Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tepat pukul sembilan, langkah-langkah mereka serentak menapak, menyusuri jalur menanjak selama dua jam menuju Villa Asia Jaya, lokasi utama Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) tahun ini. Dengan wajah dicoret warna hitam dan bekal di tangan, para peserta meniti jalan menanjak dengan napas teratur dan irama langkah yang kompak. Tepat pukul sebelas siang, rombongan tiba dengan sorot mata berbinar. Bukan hanya karena berhasil menaklukkan rute yang melelahkan, tetapi juga karena rasa kebersamaan yang tumbuh di sepanjang perjalanan. Tradisi Jalan Kaki yang Jadi Identitas Bagi warga Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Smamdela, tradisi jalan kaki yang mereka sebut re-treat bukan sekadar kegiatan seremonial. Sejak lama, ia menjadi ritual pembuka LDKS—warisan yang dijaga dari generasi ke generasi. Dua pekan sebelum keberangkatan, panitia sudah menggembleng peserta dengan latihan fisik. Bukan semata melatih otot dan pernapasan, tetapi juga menanamkan disiplin, mengasah mental, sekaligus memupuk militansi. Coretan hitam di wajah pun bukan hiasan asal. Ia menjadi simbol keteguhan hati, keberanian menghadapi tantangan, sekaligus tanda kesiapan untuk masuk ke barisan calon pemimpin muda yang tidak mudah gentar. Vibes “Pendaki Kalcer” Di kalangan Gen Z, istilah “kalcer” kini populer sebagai gaya gaul menyebut culture. Dari situlah lahir istilah “pendaki kalcer”—pendaki yang naik gunung bukan sekadar menaklukkan puncak, melainkan untuk merayakan vibes kebersamaan, mengabadikan momen estetik, dan menikmati serunya perjalanan. Re-treat PR IPM Smamdela menghadirkan nuansa yang serupa. Perjalanan dari Bundaran Pacet ke Villa Asia Jaya bak pendakian mini: udara dingin, jalur menanjak, hingga rasa lega saat tiba di tujuan. Setiap langkah bukan hanya memendekkan jarak, tetapi juga menghidupkan empati, kerja sama, dan gairah kebersamaan layaknya komunitas pendaki kalcer. Grow Together, Lead with Character Tema LDKS 2025, “Grow Together, Lead with Character”, menemukan wujudnya sepanjang perjalanan itu. “Grow together” tercermin ketika 37 peserta berjalan seirama, saling menunggu dan saling menguatkan agar tak ada yang tertinggal. Sementara “lead with character” terlihat dari spontanitas memimpin kelompok kecil, memberi semangat kepada yang lelah, dan menunjukkan kepedulian tulus tanpa menunggu jabatan. “Pemimpin bukan hanya yang paling kuat, tetapi yang paling peduli,” ungkap A. Rizal Azdka, Wakil Kepala Smadea Urusan Kesiswaan Smamdela, saat menyambut rombongan dengan bangga. Sentuhan Lokal dan Kenangan yang Membekas Tahun ini panitia menambahkan sentuhan khas Gresik. Lima kelompok peserta dinamai berdasarkan makanan tradisional: Ayas, Pudak, Jubung, Krawu, dan Bonggolan. Identitas lokal itu menyatu dengan semangat kepemimpinan, menegaskan bahwa menjadi pemimpin juga berarti berakar pada budaya sendiri. Bagi para alumni, momen jalan kaki ini kerap jadi kenangan paling membekas, bahkan lebih berkesan daripada materi kelas. Ketika seluruh rangkaian LDKS usai, para peserta tak hanya pulang dengan sertifikat, tetapi dengan kesadaran bahwa kepemimpinan sejati adalah perjalanan panjang, penuh tanjakan, yang hanya bisa ditaklukkan bersama dengan empati dan militansi. Layaknya pendaki kalcer yang pulang membawa kisah, peserta LDKS PR IPM Smamdela kembali dengan cerita bahwa memimpin berarti berjalan bersama orang lain, dan justru di situlah karakter ditempa. Jurnalis Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co
LDKS IPM SMAMDELA Ditutup dengan Apel, 37 Peserta Resmi Sandang Amanah Candradimuka

SMAMDELAGRES — Suasana pagi di villa kawasan Pacet, Mojokerto, terasa khidmat ketika 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMAM 8 Gresik (SMAMDELA) mengikuti apel penutupan. Kegiatan yang berlangsung sejak 25 September ini menjadi momen puncak setelah para peserta digembleng dengan berbagai materi kepemimpinan dan dinamika organisasi. Apel penutupan dipimpin langsung oleh Ahmad Rizal Azdka, SPd, selaku Pembina Apel. Prosesi berjalan dengan khidmat, dimulai dari penjemputan Pembina Apel oleh Aulia Salsabilla (XI IPA 2), dilanjutkan protokoler oleh Niken Almira (XC), pemimpin apel oleh Bintang Niagara (XB), serta doa penutup oleh Hilman Johary (XB). Momen paling simbolis adalah pelepasan tanda peserta LDKS yang diwakili Evan Quin (XI IPA 1) dan Salsabilla Safa (XC). Tanda peserta tersebut dilepas langsung oleh Ahmad Rizal Azdka, sebelum akhirnya diikuti seluruh peserta sebagai tanda resmi berakhirnya prosesi pembinaan. Dalam amanatnya, Ahmad Rizal menegaskan, bahwa 37 peserta yang dinyatakan lolos merupakan hasil seleksi ketat. “Kalian ini adalah 37 kader yang terpilih dari 47 peserta, dan saya nyatakan semuanya lolos 100%. Jaga amanah itu, jadilah brand ambassador sekolah yang mampu menjadi teladan bagi seluruh siswa lainnya. Peran kalian sebagai bagian dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolah harus terus dihidupkan, agar nilai-nilai kepemimpinan benar-benar terasa di lingkungan Smamdela,” ujarnya. Ahmad Rizal juga menambahkan, seluruh materi yang diberikan selama tiga hari diharapkan tidak berhenti pada pemahaman semata, tetapi mampu diimplementasikan dalam kehidupan organisasi dan aktivitas sekolah selama satu periode ke depan. Salah satu peserta, Aulia Salsabilla, membagikan pengalamannya. “LDKS tahun ini sangat seru. Meski saya sempat jatuh sakit, tapi itu tidak menyulutkan semangat saya untuk tetap berproses bersama teman-teman,” ungkapnya penuh semangat. LDKS sendiri telah menjadi tradisi tahunan di Smamdela. Namun, setiap tahun selalu ada cerita dan warna baru yang mewarnai perjalanan kaderisasi. Tahun ini, penekanan pada kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah menjadi titik tekan yang khas. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IPM di SMAMDELA memiliki peran penting dalam menumbuhkan iklim kepemimpinan pelajar. Melalui LDKS, para kader tidak hanya dibekali wawasan manajerial organisasi, tetapi juga nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan yang diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam mengemban amanah sebagai pelajar berkemajuan. Dengan berakhirnya apel penutupan ini, 37 peserta LDKS resmi menyandang amanah candradimuka. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan yang membawa semangat baru bagi IPM SMAMDELA sekaligus menebarkan teladan kepemimpinan di tengah siswa lain. (*) Kontributor: Liset Ayuni Sumber : girimu.com