Sujud Sunyi Siswa Smamdela: Cahaya Iman Sepertiga Malam

SMAMDELAGRES — Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Suara lembut panitia memecah keheningan lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme (31/10/2025). Udara dingin menyergap kulit, tetapi ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) bangun dari tidurnya. Dengan mata masih setengah terpejam dan langkah perlahan, mereka bergerak menuju masjid sekolah. Mereka melaksanakan salat lail berjamaah, sebuah momen paling sakral dalam rangkaian Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami).” Dunia seakan masih terlelap. Ratusan siswi Smamdela bangkit menjemput ketenangan, membiarkan diri mereka bersentuhan dengan sunyi dan ayat-ayat langit. Tidak ada hiruk pikuk yang terdengar, hanya suara gemerisik langkah di antara kain mukena dan hembusan angin yang menyingkap tirai malam. Dari kejauhan, cahaya lembut lampu menerangi wajah-wajah muda yang tengah belajar memaknai kedekatan dengan Sang Pencipta. Imam lantas mengangkat takbir, dan suasana berubah hening. Ratusan siswi berdiri sejajar, mengangkat tangan, menundukkan kepala, lalu bersujud dalam kesunyian yang nyaris sempurna. Di antara diam dan doa itu, muncul getaran yang sulit dijelaskan—seperti rindu yang akhirnya menemukan arah pulang. Bagi sebagian siswi, inilah kali pertama mereka melaksanakan salat malam secara berjamaah. Mereka tidak menunjukkan kantuk atau keengganan; justru kekhusyukan menyelimuti suasana sehingga segalanya terasa ringan dan indah. Beberapa siswi bahkan meneteskan air mata perlahan saat doa panjang selesai mereka panjatkan di ujung salat witir. Setelah salat, kegiatan mereka berlanjut dengan tadarus Al-Qur’an. Lantunan ayat suci terdengar lembut, menggema dari berbagai sudut. Suara mereka belum tentu fasih, namun ada kejujuran dalam setiap bacaan. Seolah setiap huruf menjadi jembatan antara hati dan langit. Sampaikan Pesan Tulus di Tengah Sunyi Di sela tadarus, panitia memberikan waktu bagi peserta yang telah siap untuk menyampaikan kultum singkat. Siswi-siswi maju satu per satu, berbicara dengan suara pelan tetapi penuh keyakinan. Tema yang mereka angkat sederhana saja, seperti bersyukur, menjaga hati, hingga pentingnya salat malam demi ketenangan batin. Meskipun singkat, setiap kata yang terucap terasa tulus dan memantul di dinding lapangan bagai gema yang enggan pergi. Salah satu guru pembina, Abdillah Rosyid, menyampaikan, sesi dini hari ini bukan hanya persoalan ibadah, melainkan latihan membangun kesadaran ruhani. “Kalian sedang belajar menemukan diri sendiri melalui sunyi,” ujarnya lirih, hampir seperti sebuah doa. Menjelang pukul empat, tadarus mereka tutup dengan zikir dan doa bersama. Wajah para siswi tampak tenang, lelah, tetapi damai. Tak sedikit yang saling tersenyum sambil menatap satu sama lain, seolah mereka berbagi rasa yang sama: keheningan malam itu telah mengajarkan sesuatu yang tak tertulis di buku pelajaran mana pun. Ketika azan Subuh berkumandang, cahaya jingga mulai menembus langit Cerme. Helaan napas panjang terdengar di antara barisan. Pagi itu, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga menapaki perjalanan batin yang membuat “iman” bukan lagi kata abstrak, melainkan rasa yang nyata di dada. Bagi siswi-siswi Smamdela, malam Mabit itu akan selalu mereka ingat bukan karena kantuk atau dingin, tetapi karena di sanalah mereka menemukan versi diri yang lebih tenang, lebih lembut, dan lebih dekat dengan Allah Swt. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Dari Tafsir Ayat ke Tafsir Diri, Merawat Nurani di Keheningan Malam

SMAMDELAGRES — Malam kian larut di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme. Lampu-lampu yang sejak sore menerangi kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) masih menyala lembut (31/10/2025). Cahaya hangat terpantul di wajah-wajah siswi yang duduk berkelompok di atas tikar. Suara lembut Siti Fatimah, S.Ag., Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme, yang beberapa jam lalu mengisi sesi Nurturing Diri masih terngiang di telinga mereka. Namun kali ini, siswa-siswi mengambil giliran berekspresi dan menafsirkan. Panitia Mabit mengajak mereka menyelami makna ayat Al-Qur’an pilihan yang berkaitan dengan materi sebelumnya tentang pergaulan, hubungan pertemanan, dan menjaga hati di masa remaja. Di tiap kelompok, selembar kertas karton besar terhampar di tengah lingkaran. Ada yang menggambar simbol hati dengan akar iman, ada pula yang menulis potongan ayat dengan warna-warni spidol. Beberapa kelompok terlihat berdiskusi serius, sementara kelompok lain tertawa pelan di sela perdebatan kecil tentang makna kata “qolbun salim” atau hati yang bersih. Suasana malam terasa hidup dengan cara yang berbeda. Siswi tenang tetapi penuh makna. Mereka menyingkirkan layar ponsel atau musik keras. Hanya kalimat suci yang mereka urai menjadi refleksi tentang diri. Refleksi Ayat, Merawat Hati Bersama Pembimbing dari panitia Mabit mengelilingi tempat kegiatan, memantau tiap kelompok dengan lembut. Mereka membantu mengaitkan ayat yang dibahas dengan tema Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami). Di sinilah makna “nurturing” terasa nyata: bukan sekadar teori, tetapi proses belajar merawat hati bersama-sama. Menjelang pukul sepuluh malam, tiap kelompok memajang hasil karya mereka di sisi lapangan. Warna-warna cerah menghiasi malam yang lembut. Ada kelompok yang menulis doa, ada pula yang menempelkan potongan kertas berbentuk bintang berisi kalimat reflektif. Dari jauh, lapangan itu tampak seperti taman pesan yang bercahaya. Setelah sesi refleksi dan presentasi singkat, pembina mengajak semua peserta menutup kegiatan malam dengan doa kafarotul majelis. Lantunan doa bergema pelan di udara, seolah menjadi pengantar menuju istirahat. Pukul 22.00, satu per satu siswi mulai membereskan alat tulis dan melipat selimut. Panitia mengingatkan agar mereka beristirahat cukup, karena pukul dua dini hari nanti panitia akan membangunkan mereka untuk salat lail berjemaah. Di antara mereka, mereka masih berbisik pelan, membicarakan ayat yang baru saja didiskusikan, seakan belum ingin melepas suasana. Angin malam Cerme berembus lembut. Di langit, bulan menggantung cerah, seolah menjadi saksi perjalanan kecil ratusan siswi yang sedang belajar mengenal dirinya melalui ayat-ayat Tuhan. Malam itu, Mabit Putri Smamdela berubah menjadi perjalanan spiritual yang sederhana namun dalam. Setiap kata dalam Al-Qur’an tidak hanya mereka baca, tetapi mereka rasakan, mereka renungi, dan mereka terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika akhirnya mata-mata muda itu terpejam dalam keheningan malam, mereka tahu, perjalanan menuju nurani baru saja dimulai: dari tafsir ayat, menuju tafsir diri. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Siswi Smamdela Diajak Merawat Taman Hati Perempuan

SMAMDELAGRES — Udara dini hari di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa sejuk dan menenangkan (31/10/2025). Lampu-lampu temaram masih menyala, menyoroti wajah-wajah siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) yang duduk melingkar dengan mata penuh rasa ingin tahu. Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri yang mengusung tema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami” berlanjut dengan sesi yang paling siswi nantikan. Ialah materi Nurturing Diri bersama Siti Fatimah, S.Ag, Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme yang akrab dengan sapaan Bu Fat. Begitu muncul, suasana langsung berubah hangat. Jarak antara pembicara dan peserta seolah sirna. Siti Fatimah memulai sesi dengan cara sederhana. Bukan ceramah panjang, melainkan obrolan ringan yang justru membuat para siswi merasa dekat. Ia membahas hal-hal yang paling akrab dengan kehidupan remaja. Yaitu pertemanan yang kadang melelahkan, hubungan yang menuntut pembuktian, hingga bagaimana mencintai diri sendiri tanpa harus selalu terukur dari perhatian orang lain. Topik-topik itu begitu dekat dengan keseharian mereka. Banyak siswi tampak mengangguk, bahkan tersenyum malu ketika Siti Fatimah menyinggung sikap remaja yang mudah merasa “tidak cukup” hanya karena perbandingan di media sosial. Di titik itulah, suasana menjadi hidup. Tawa kecil bersahutan, diselingi gumaman pelan, tanda banyak hati yang merasa terwakili. Rawat Taman Hati Perempuan Suasana semakin cair saat Siti Fatimah mengajak peserta merenung tentang nurturing hati. Ini tentang bagaimana menjaga sisi terdalam diri agar tetap lembut dan terarah. Ia menggambarkan hati perempuan seperti taman kecil yang perlu disiram setiap hari. Jika tidak, hati bisa layu karena lelah, kecewa, dan luka yang selama ini siswi simpan sendiri. Perlahan, suasana lapangan yang tadinya riuh berubah menjadi teduh. Semua siswi mendengarkan dengan diam, seolah takut kehilangan satu kata pun. Siti Fatimah berbicara dengan gaya yang menenangkan, membiarkan pesan-pesan halusnya meresap perlahan di antara keheningan malam. Ia tidak menasihati, tapi menuntun. Ia tidak menggurui, tapi menemani. Di sela sesi, beberapa siswi memberanikan diri untuk bertanya. Bukan satu atau dua, tetapi hampir setiap barisan mengangkat tangan. Mereka mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari cara menjaga pertemanan yang sehat hingga bagaimana menghadapi rasa sensitif sebagai seorang perempuan. Siti Fatimah menanggapi semuanya dengan sabar dan jenaka, membuat suasana terasa ringan tetapi penuh makna. Greesha Snejanara, siswi kelas XII, mengaku kagum dengan cara Siti Fatimah menyampaikan materi. Menurutnya, gaya Siti Fatimah yang santai tetapi mengena membuat teman-temannya sampai berebut ingin bertanya. “Rasanya seperti ikut sesi pengajian di hotel berbintang, tapi lebih keren, karena yang berbicara benar-benar memahami dunia kami,” ujarnya sambil tertawa. Pulang ke Ruang Penyembuhan Diri Dari luar, mungkin sesi itu tampak seperti obrolan malam biasa. Namun bagi para siswi, sesi itu menjadi semacam ruang penyembuhan kecil. Menjadi tempat mereka bisa mengenali kembali diri, memahami emosi, dan belajar mencintai diri dengan cara yang lebih tenang. Saat sesi berakhir, Siti Fatimah menutup dengan pesan lembut, “Kalau hatimu baik, hidupmu akan menemukan arah. Jagalah hatimu, karena dari situlah semua kebaikan tumbuh.” Siswi menyambut ucapan itu dengan senyum dan tepuk tangan pelan. Tidak ada teriakan atau sorakan, hanya rasa hangat yang mengalir di udara dini hari itu. Banyak siswi menunduk, mungkin sedang memeluk pelajaran yang baru mereka temukan, bahwa menjadi perempuan beriman bukan sekadar kuat, tetapi juga mampu merawat hati agar tetap lembut. Malam itu, lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga ruang pulang bagi banyak hati muda. Di bawah cahaya bulan yang samar, Mabit Putri Smamdela membuktikan satu hal: perjalanan menuju nurani sering kali dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mendengarkan, merenung, dan belajar kembali mencintai diri sendiri dengan iman. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Kabar Baik untuk Perempuan: Pesan Surga di Mabit Putri Smamdela

SMAMDELAGRES — Malam di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa berbeda. Langit yang baru saja menuntaskan senja diselimuti cahaya lembut lampu sorot, sementara angin membawa aroma tanah dan rumput yang lembap. Di antara hamparan tikar dan sajadah yang tersusun rapi, ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) duduk dengan wajah penuh antusias. Malam itu, mereka bersiap menapaki perjalanan hati dalam Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami.” Kegiatan yang bermula selepas salat Isya berjamaah membuka suasana teduh dan khusyuk, 30 Oktober 2025. Suara imam yang masih terngiang dari pengeras suara masjid sekolah seolah menjadi pengantar menuju malam yang penuh makna. Deretan siswi menyampaikan kultum secara bergantian yang singkat, tetapi sarat pesan. Ada yang berbicara tentang sabar, tentang menjaga lisan, hingga tentang rasa syukur sederhana. Walaupun dengan suara bergetar, isi kultum mereka menyentuh, menjadi refleksi kecil bahwa iman juga tumbuh dari keberanian untuk berbagi kebaikan. Selepas rangkaian kultum, seluruh peserta duduk lebih rapat, menatap ke arah depan di tengah lapangan. Angin berembus syahdu, menghadirkan suasana hangat meskipun malam makin larut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab, Lukman Arif, S.Pd.I, yang akrab dengan sapaan Pak Luk, maju memberi sambutan. Anugerah Hati Lembut Pembuka Pintu Surga Lukman Arif membuka sambutan dengan kalimat yang segera menarik perhatian, menggunakan suara yang lembut tetapi berwibawa. “Perempuan itu punya banyak kabar,” ujarnya, memandang lembut ke arah barisan siswi di depannya. “Kabar bahagianya, Allah memuliakan perempuan dengan cinta dan kelembutan. Tetapi kabar buruknya, perempuan juga disebut paling banyak di neraka,” ungkapnya. Sekejap suasana lapangan menjadi hening. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang terdengar. Banyak siswi yang tertegun, tetapi tak lama, Lukman Arif melanjutkan dengan senyum hangat. “Namun kabar baiknya… perempuan juga paling banyak masuk surga. Karena Allah menganugerahkan hati yang lembut. Dan bila perempuan menjaga imannya, kesabarannya, serta lisannya, surga akan dekat dengannya,” imbuhnya. Ucapan itu seperti menembus ruang hening malam. Beberapa siswi menunduk, sebagian tersenyum, dan ada pula yang menatap kosong ke depan, mungkin tengah merenungi kalimat demi kalimat yang menyentuh hati. Dalam sambutannya, Lukman Arif berbicara bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan menggugah kesadaran. Ia menyinggung bagaimana perempuan muda di zaman kini kerap tertantang untuk menjaga nilai dan jati diri di tengah derasnya arus tren dan teknologi. “Kalian hidup di masa yang serbacepat. Tetapi jangan sampai kehilangan arah. Menjadi Nurani itu berarti menumbuhkan iman dan nilai Islami di tengah kesibukan dunia yang sering melalaikan,” ucapnya. Refleksi dan Komitmen Muslimah Beriman Berikutnya, Lukman Arif menekankan, kegiatan Mabit bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan momen untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, membersihkan niat, dan memperbarui komitmen sebagai muslimah yang beriman. “Jangan remehkan kebaikan kecilmu,” tambahnya di penghujung sambutan. “Kadang surga itu tidak jauh, ia tersembunyi di balik sabarmu, maafmu, dan doa yang kamu ucapkan diam-diam malam ini.” Suasana lapangan mendadak terasa jauh lebih hangat. Beberapa siswi menatap teman di sebelahnya dengan senyum pelan, seolah mengamini pesan itu. Tepuk tangan kecil terdengar bukan karena seremonial, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas kata-kata yang menenangkan. Pembukaan Mabit Putri Smamdela malam itu terasa lebih dari sekadar acara. Ia adalah ruang pulang bagi ratusan hati muda yang sedang belajar mengenal Allah lebih dekat. Tema “Menjadi Nurani” seolah hidup dalam suasana malam itu: lembut, reflektif, dan penuh makna. Usai sambutan, suasana mencair dalam makan malam bersama. Celoteh dan tawa ringan terdengar di antara barisan siswi, menandai kehangatan yang tumbuh setelah perenungan. Malam itu bulan memancarkan kuningnya yang berpendar, berpadu dengan cahaya bintang yang malu-malu di langit Cerme disertai lantunan musik religi mengalun lembut. Di antara gemerlap cahaya dan suara lantunan lirik itu, satu hal menjadi jelas, malam itu bukan sekadar kegiatan sekolah. Melainkan perjalanan spiritual yang menyapa hati, menumbuhkan nurani, dan menyalakan kembali cahaya iman dalam diri setiap siswi Smamdela. Malam di Cerme itu menjadi bukti, iman bisa tumbuh dari suasana sederhana, dari kebersamaan, renungan, dan niat yang dijaga dengan nurani. Karena menjadi Nurani bukan sekadar tema, tetapi perjalanan agar setiap langkah dan niat selalu bertumbuh dari iman dan nilai Islami. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Kebun Stevia Bikin Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah Kagumi Taman Firdaus Smamdela

SMAMDELAGRES — Ahad pagi (26/10/2025), udara Gresik menyuguhkan kesejukan dan kebersihan setelah hujan semalam. Di halaman belakang SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), beberapa siswa asyik menyiram tanaman. Tawa renyah mereka berpadu mesra dengan aroma tanah basah. Di tengah taman kecil itu berdiri papan bertuliskan “Taman Firdaus”. Inilah kebun hasil karya siswa yang tumbuh dari ide sederhana pelajar untuk belajar mencintai alam lewat menanam. Pagi itu menjadi istimewa. Selesai Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cerme, sekolah kedatangan tamu spesial. Ialah Ketua LPCRPM Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Drs. H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi. Ia didampingi Bambang Suhermanto (PCM Cerme) dan Haris dari Majelis Tablig. Kunjungan mereka berupa silaturahmi ringan, tetapi berujung pada kejutan kecil: kebun Stevia buatan siswa Smamdela. Memasuki area taman, langkah Jamaludin terhenti di depan deretan tanaman hijau mungil yang tumbuh subur. Ia menatapnya penuh penasaran. “Saya tahu gula Stevia,” ujarnya pelan sambil tersenyum, “tapi baru kali ini saya melihat tanamannya langsung.” Ucapan sederhana itu sontak mengundang senyum lebar dari seluruh hadirin. Mereka tidak menyangka tanaman kecil yang rutin dirawat setiap pagi mampu memantik kekaguman seorang tokoh nasional Muhammadiyah. Tanam Nilai, Tuai Manfaat Kemudian, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Ahmad Rizal Azdka, S.Pd menjelaskan, Taman Firdaus adalah hasil kolaborasi siswa yang ingin belajar menanam tanaman bermanfaat. “Kami ingin anak-anak paham bahwa menanam bukan hanya soal biologi, tapi juga rasa tanggung jawab. Dari satu batang Stevia yang dulu mereka tanam, kini sudah tumbuh menjadi puluhan,” jelasnya. Stevia terkenal sebagai pengganti gula alami yang menyehatkan, cocok untuk penderita diabetes dan mereka yang ingin mengurangi konsumsi gula pasir. Dari daun kecil inilah siswa belajar, hal sederhana pun dapat membawa manfaat besar. Mereka belajar sabar menunggu tunas tumbuh, belajar merawat dengan konsisten, dan belajar memetik hasil tanpa tergesa. Bagi Jamaludin, kebun kecil ini menyimpan pesan besar. “Saya melihat semangat luar biasa di sini,” katanya saat berkeliling taman. “Anak-anak Smamdela tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam nilai. Nilai kepedulian, ketekunan, dan cinta terhadap ciptaan Allah.” Manis Sejati dari Niat Tulus Alhasil, kata-kata Jamaludin meneguhkan makna Taman Firdaus: taman yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual. Di sana, siswa belajar, kebaikan bisa tumbuh dari tanah yang sederhana, dan manis sejati bukan berasal dari gula, melainkan dari niat yang tulus. Ketika rombongan berpamitan, matahari perlahan sudah naik. Di antara deretan daun Stevia yang bergoyang lembut, tersisa semangat baru untuk terus menanam, belajar, dan berbagi manfaat. Taman Firdaus kini tidak hanya menjadi kebun sekolah, tetapi juga simbol kecil tentang bagaimana pendidikan dapat tumbuh manis seperti daun Stevia, yang membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum kagum. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Tim Futsal SMA Muhammadiyah 8 Gresik Raih Juara 3 di FISIP Futsal Competition UINSA

SMAMDELAGRES — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) melalui cabang olah raga futsal. Tim futsal Smamdela berhasil meraih Juara 3 dalam ajang FISIP Futsal Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Kompetisi tersebut digelar di GOR Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1–2 November 2025. Ajang ini diikuti oleh sejumlah sekolah menengah atas dari Surabaya dan Gresik, yang menampilkan pertandingan penuh semangat dan sportivitas. Sejak babak penyisihan, tim futsal Smamdela menunjukkan performa konsisten dengan permainan kompak dan disiplin. Di bawah asuhan dua pelatih berpengalaman, Ricky MF, SOr dan Arif Junaidi, SPd, para pemain terus memperlihatkan kerja sama tim dan determinasi tinggi di setiap laga. “Yang kami tekankan bukan hanya soal kemenangan, tetapi bagaimana mereka belajar menghargai proses, menghargai rekan satu tim, dan berani tampil percaya diri,” ujar Coach Arif Junaidi, Selasa (4/11/2025). Dalam pertandingan perebutan juara tiga, SMA Muhammadiyah 8 Gresik berhadapan dengan SMA Hangtuah 1 Surabaya. Pertandingan berlangsung ketat sejak menit awal. Berkat pertahanan solid dan serangan cepat yang efektif, tim Smamdela berhasil mengamankan kemenangan dengan skor tipis dan menempati posisi ketiga turnamen. Dukungan penuh dari suporter di tribun turut menjadi semangat tersendiri bagi para pemain. Adapun pemain yang memperkuat tim futsal Smamdela adalah: – Zulfikar Amirullah (Kiper) – M. Revan Ramadani (Anchor) – M. Dimaz Afriza (Flank) – Johan Armando (Flank) – Fachri Ilham Akmal (Pivot) – Revand Mahendra (Kiper) – Farell Firmansyah (Pivot) – Rasyah Dafa Alfianto (Flank) – Habibur Rahman (Flank) – Achmad Agus Amar Alamsyah (Flank) Penampilan impresif para pemain menjadi kunci keberhasilan Smamdela dalam kompetisi ini. “Kuncinya tetap fokus dan saling percaya. Kami bermain bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk membawa nama Smamdela dengan bangga,” ujar Zulfikar Amirullah, kiper utama yang tampil gemilang di bawah mistar gawang. Menurut Coach Ricky MF, S.Or, keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang dan latihan rutin yang konsisten. “Anak-anak sudah berproses cukup lama. Kami berlatih bukan hanya teknik, tapi juga membangun chemistry di lapangan. Dan hari ini mereka menunjukkan hasilnya,” ujarnya dengan bangga. Capaian Juara 3 FISIP Futsal Competition 2025 menjadi bukti nyata, bahwa kerja keras, kebersamaan, dan semangat juang tidak akan mengkhianati hasil. Lebih dari sekadar prestasi, keberhasilan ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh anggota tim futsal Smamdela untuk terus berproses dan berkembang di masa mendatang. Selamat kepada tim futsal SMA Muhammadiyah 8 Gresik atas prestasi membanggakan ini. Semoga semangat juang dan sportivitas yang telah ditunjukkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh pelajar Muhammadiyah untuk terus berprestasi di berbagai bidang. (*) Kontributor: Liset Ayuni Sumber : giri.mu
Pemimpin Muda Smamdela Tumbuh dari Keikhlasan

SMAMDELAGRES — Halaman SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik tampak ramai, Senin pagi (20/10/2025). Udara masih sejuk, barisan siswa berdiri rapi, dan semangat Pemilihan Raya (Pemira) Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sudah terasa sejak bel masuk berbunyi. Di tengah hiruk pikuk itu, Ulil Albab duduk dengan tenang dalam arak-arakan mengitari lapangan, bersiap menyampaikan orasi visi misi. Tak banyak yang tahu, pagi itu Ulil sedang menahan sakit hebat. Namun, ia tetap melangkah pasti. Tepat setelah apel, ia mulai berbicara di hadapan guru dan teman-temannya. Suaranya lembut namun mantap, mengalirkan gagasan tentang kepemimpinan yang lahir dari keikhlasan dan pelayanan. Sekitar pukul 07.30 WIB, orasi selesai. Tepuk tangan menggema di seluruh lapangan. Namun beberapa menit kemudian, tubuh Ulil goyah. Wajahnya pucat. Ia pun segera dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis. “Sejak malam memang agak lemas, tapi saya ingin tetap hadir. Ini bentuk tanggung jawab saya,” ujarnya pelan mengenang kejadian itu. Meski dokter menyarankan istirahat, siang harinya Ulil kembali ke sekolah. Ia datang tepat waktu untuk mengikuti Debat Publik pukul 12.30–14.00 WIB di aula. Langkahnya pelan, tapi sorot matanya penuh tekad. Ia berdiri di depan, memegang mikrofon, dan mulai bicara. Suaranya terdengar serak, namun setiap kalimat mengalir jujur. Ia berbicara tentang amanah, keikhlasan, dan pentingnya hadir untuk sesama. Teman-temannya yang duduk di bangku peserta memperhatikannya dalam diam, sebagian kagum, sebagian terharu. Dalam tubuh yang masih lemah, Ulil membuktikan satu hal, semangat melayani tak boleh terkalahkan oleh rasa sakit. Perjuangan Berlanjut Keesokan harinya, Selasa, 21 Oktober 2025, pagi-pagi sekali Ulil kembali ke puskesmas untuk mengambil hasil laboratorium. Namun bukannya beristirahat di rumah, ia justru melangkah lagi ke sekolah untuk mengikuti Pemira. yang dimulai pukul 10.15 di aula. Pemira mulai pukul 10.15 di aula. Ulil duduk di atas panggung bersama Bunga Revelian Nurjannah, kandidat lain Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik, Ulil menyaksikan satu per satu kader menyalurkan hak suaranya. Meski wajahnya masih tampak lelah, senyum kecil tak pernah lepas dari bibirnya. Suasana aula menegang saat panitia mulai membacakan hasil Pemira. Ketika nama Ulil Albab terkukuhkan sebagai Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik, ruangan seketika pecah oleh tepuk tangan. Beberapa teman yang tahu perjuangannya meneteskan air mata. Ulil menunduk, mengusap wajahnya pelan. “Kalau kemarin saya diuji dengan sakit, mungkin itu cara Allah mengajarkan arti ikhlas dalam pelayanan,” ucapnya lirih. Di tengah pelukan dan ucapan selamat, Ulil hanya tersenyum. Baginya, kemenangan ini bukan soal nama yang menang, melainkan tentang perjalanan belajar menyulam keikhlasan di tengah ujian. Kini, ia melangkah sebagai Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik yang baru dengan keyakinan sederhana, bahwa memimpin bukan berarti berdiri di depan, tetapi berjalan bersama dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Ketekunan Berbuah Prestasi, Siswa Smamdela Raih Juara 3 MHQ di Fashmu 2 PWM Jatim

SMAMDELAGRES — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela). Dalam ajang Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (Fashmu) ke-2 Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) pada Sabtu (4/10/2025), Abi Abdillah berhasil meraih Juara 3 pada cabang lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ). Ajang Fashmu ke-2 ini diikuti oleh ratusan pelajar Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia yang datang untuk menampilkan potensi terbaiknya di beragam cabang lomba. Dari Kabupaten Gresik sendiri, terdapat 30 peserta yang tergabung dalam satu kontingen, masing-masing mewakili cabang lomba yang berbeda. Abi Abdillah menceritakan bahwa proses latihan dijalani dengan penuh kesungguhan dan disiplin. Latihan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga mencakup kegiatan murajaah secara rutin agar bacaan dan tajwid tetap terjaga dengan baik. “Biasanya saya juga murajaah di rumah, orang tua juga ikut membantu menyimak. Jadi, selain latihan di sekolah, saya juga tetap menjaga kebiasaan murajaah di rumah,” ujarnya. Baginya, menjaga hafalan bukanlah hal mudah. Tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri. “Yang paling sulit adalah melawan rasa malas dan rasa iri saat melihat teman lain lebih cepat dalam murajaah. Tapi dari situ, saya belajar untuk mengubah rasa iri itu menjadi motivasi agar bisa lebih semangat lagi,” sambungnya. Ia juga menceritakan bahwa perjalanan menuju perlombaan dimulai sejak pagi buta. “Saya berangkat ba’da Subuh ke sekolah, lalu berangkat bersama Pak Lukman Arif, S.Pd.I., selaku Wakil Kepala Bidang Ismuba Smamdela,” tuturnya. Dari sekolah, lanjutnya, rombongan peserta melanjutkan perjalanan menuju Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) untuk bergabung dengan seluruh kontingen Fashmu dari Kabupaten Gresik. Abi Abdillah juga mengatakan bahwa pemberangkatan ke Universitas Muhammadiyah Surabaya dilakukan sekitar pukul 05.40 WIB. Seluruh rombongan berangkat dengan penuh semangat untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia. “Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Saat diumumkan juara 3, rasanya campur aduk antara syukur, lega, dan haru,” ungkapnya sambil tersenyum. Setelah mengikuti seluruh rangkaian lomba, rombongan kontingen Gresik kembali ke Gresik pada malam hari sekitar pukul 19.30 WIB, membawa pulang cerita, pengalaman, dan semangat baru dari arena perlombaan Bukan Sekadar Juara Bagi Abi Abdillah, kemenangan bukan semata soal membawa pulang piala. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai bentuk tanggung jawab untuk terus menjaga hafalan dan mempererat kedekatan dengan Al-Qur’an. “Alhamdulillah, saya senang bisa berkontribusi di Fashmu ke-2 ini. InsyaAllah, ke depan saya akan lebih semangat mengikuti kejuaraan dan terus belajar agar lebih baik dari sebelumnya,” katanya. Ia juga mengaku bahwa ajang seperti ini memberikan ruang bagi pelajar Muhammadiyah untuk mengasah potensi sekaligus meneguhkan nilai-nilai spiritual. “Kegiatan seperti ini bukan hanya tentang lomba, tapi juga tentang ukhuwah, tentang bagaimana kita bisa bertemu dengan teman-teman sesama penghafal Qur’an dari berbagai daerah,” tegasnya. Sementara itu, Lukman Arif yang turut mendampingi kontingen menyampaikan rasa syukurnya atas capaian tersebut. “Alhamdulillah, siswa-siswa kami kembali menunjukkan bahwa semangat dan kedekatan dengan Al-Qur’an dapat membawa keberkahan. Juara bukanlah tujuan utama, tetapi istiqamah dalam murajaah itulah yang selalu kami tanamkan,” ucapnya. Ia juga menambahkan bahwa pihak sekolah terus berupaya memberikan wadah bagi siswa yang memiliki bakat di bidang keislaman. “Kami ingin setiap siswa Smamdela merasa memiliki ruang untuk berprestasi sesuai dengan potensinya. Ada yang unggul di bidang akademik, ada yang menonjol di seni, dan ada pula yang berprestasi dalam bidang Al-Qur’an seperti ini,” imbuhnya. Bagi Lukman Arif, Prestasi ini menjadi inspirasi bagi pelajar Muhammadiyah lainnya untuk terus menjaga semangat belajar dan tidak berhenti dalam berproses. Dalam suasana kompetisi yang sehat, setiap peserta diajak menumbuhkan nilai fastabiqul khairat. “Dari sekolah ke panggung provinsi, ini bukanlah perjalanan yang singkat, tapi dengan niat dan semangat yang tulus, InsyaAllah Allah akan memberikan hasil yang terbaik,” pungkasnya. Penulis : Liset Ayuni Sumber : pwmu.co
Selamat Hari Batik Nasional

Selamat Hari Batik Nasional 📅 2 Oktober 2025 Batik adalah warisan luhur bangsa Indonesia yang bukan hanya sekadar motif indah di atas kain, melainkan simbol perjalanan sejarah, identitas, dan perjuangan. Setiap goresan canting menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, ketekunan, serta kebersamaan. Bagi Muhammadiyah, batik juga menjadi bagian dari jalan perjuangan. Profesi Kyai Dahlan sebagai pedagang batik membuat Muhammadiyah dikenal luas di berbagai wilayah. Melalui jaringan batik yang beliau bangun bersama para saudagar, dakwah Muhammadiyah pun menyebar dan memberi manfaat hingga berbagai kota di Jawa. Hari Batik Nasional menjadi pengingat bagi kita untuk terus melestarikan dan mencintai batik, bukan hanya sebagai busana, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang penuh makna. Mari bangga memakai batik, menjaga budaya, sekaligus melanjutkan perjuangan yang pernah ditorehkan oleh para pendahulu kita. ✨ Batik bukan sekadar budaya, tapi juga jalan perjuangan ✨ #HariBatikNasional #SMAMDELA #BatikIndonesia #BudayaBangsa #Muhammadiyah
Hari Kesaktian Pancasila

✨🇮🇩 Hari Kesaktian Pancasila 🇮🇩✨ 1 Oktober 2025 Hari ini kita mengenang kembali perjuangan para pahlawan bangsa yang telah gugur dalam mempertahankan ideologi Pancasila. Sebagai generasi penerus, mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam menjaga persatuan, menegakkan keadilan, dan merawat kebhinekaan. 🔸 Pancasila adalah jiwa bangsa 🔸 Pancasila adalah pemersatu kita 🔸 Pancasila adalah nafas Indonesia Mari terus mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam setiap langkah kehidupan kita 🙌 #HariKesaktianPancasila #1Oktober #SMAMDELA #Smamdelagres #PelajarPancasila