LDKS IPM SMAMDELA Ajak Peserta Nesting dan Galakkan Zero Waste

SMAMDELAGRES — Selama tiga hari dua malam, 25-27 September 2025, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) PR IPM SMA Muhammadiyah 8 (SMAMDELA) Gresik digelar di villa Pacet, Mojokerto. Selama itu pula, peserta mengikuti kegiatan nesting, tradisi makan bersama yang berlangsung sekitar satu jam per sesi. Kegiatan itu menjadi bagian dari LDKS yang menekankan kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian lingkungan. Nesting bukan sekadar makan, tetapi juga filosofi praktis. Peralatan seperti panci, wajan, dan wadah dirancang bisa ditumpuk (nesting set), memudahkan penyimpanan dan transportasi saat berkegiatan di luar ruangan. “Kegiatan ini melatih peserta untuk menghargai makanan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan,” jelas Diesta Niken, salah satu panitia. Zero Waste dan Kebersamaan Seluruh peserta dan panitia diwajibkan membawa tumblr dan alat makan sendiri, sebagai bagian dari program zero waste. Langkah ini sederhana namun memberikan pembelajaran penting tentang peduli lingkungan. Kamis (25/9), saat tiba di villa, peserta makan siang menggunakan bekal yang dibawa dari rumah. Malam harinya, panitia menyajikan menu sederhana beras, telur, dan mie. Setelah makanan siap, mereka diberi lengser untuk menikmati hidangan secara berkelompok dengan filosofi yang menekankan kerja sama dan kebersamaan. Pada Jumat (26/9) malam, sebelum api unggun, panitia menambahkan hidangan nasi goreng meski peserta telah makan malam dengan nesting. Sesi ini membuat malam lebih hangat, sekaligus memberikan energi tambahan untuk kegiatan api unggun dan refleksi kelompok. Pada Sabtu (27/9), sebelum pulang, peserta kembali menerima hidangan dari panitia sebagai penutup rangkaian nesting. “Seru banget! Meski sederhana, makan bareng bikin suasana hangat,” ujar Niken Almira, salah satu peserta. Jumlah peserta LDKS sebanyak 37 orang dari total 47 siswa yang lolos seleksi dua tahap sejak Agustus 2025. Aktivitas nesting menjadi momen penting dalam rangkaian LDKS, melatih kedisiplinan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan secara langsung. Panitia menegaskan, kegiatan ini juga mengajarkan nilai kepemimpinan sederhana. Dengan bekerja sama dalam satu kelompok, peserta belajar menghargai setiap proses, saling berbagi, dan merasakan hasil kerja bersama. Filosofi lengser dan berbagi hidangan memperkuat nilai kebersamaan tersebut. Selain aspek edukatif, nesting juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk bercengkerama dan melepas penat setelah rangkaian materi LDKS. Aktivitas sederhana ini memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya tanggung jawab, kedisiplinan, dan kerjasama dalam kelompok. Dengan durasi sekitar satu jam tiap sesi, nesting menjadi kegiatan yang tak terlupakan bagi seluruh peserta. Tradisi ini bukan hanya soal makan, tapi menjadi bagian dari pengalaman membangun karakter, melatih kepedulian, dan mempererat hubungan antar peserta LDKS. Kontributor: Liset Ayuni Sumber : girimu.com
Jelajah Alam Smamdela: Saat Belajar Kepemimpinan Jadi Petualangan Seru

SMAMDELAGRES — Suara riuh tawa dan langkah beriring terdengar sejak pagi ketika 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) IPM SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) memulai Jelajah Alam. Kegiatan yang berlangsung 25–27 September 2025 di Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ini menghadirkan suasana berbeda: para kader diajak keluar dari ruang villa, menyatu dengan alam, dan menemukan jeda di antara padatnya materi kepemimpinan. Menyatu dengan Sawah dan Sungai Perjalanan diawali dengan menapaki jalan setapak menuju area persawahan yang dialiri sumber mata air jernih. Begitu sampai, sebagian peserta langsung melepas alas kaki. Mereka menyusuri pematang, saling menciprat air, hingga tertawa lepas bersama. Gemericik air yang mengenai kaki dan teriakan heboh menciptakan momen penuh keceriaan. Suasana makin hangat ketika peserta berbaris dengan seragam oranye, topi biru, dan syal hijau. Mereka menyambut instruktur dengan tepuk semangat yang kompak, tangan terangkat tinggi seakan menyalurkan energi positif. Pemandangan itu menambah warna perjalanan, memperlihatkan antusiasme sekaligus kekompakan khas anak muda yang sedang belajar kepemimpinan. Kreativitas dari Alam Namun, perjalanan ini bukan sekadar bermain. Di setiap pos tersedia tantangan berbeda. Pos pertama dipandu Zulfikar yang mengajak peserta merangkai bunga dari tanaman sekitar. Aktivitas sederhana itu justru memunculkan kreativitas sekaligus kekompakan. Setiap rangkaian bunga membawa cerita, seolah simbol kebersamaan yang tumbuh di antara mereka. Langkah berlanjut ke Pos 2. Kali ini, Rafi Rasyidin dan Makhda Syadana mengajak peserta duduk melingkar untuk berbagi kisah. Dari pengalaman selama LDKS, refleksi ringan, hingga cerita personal mengalir apa adanya. Tidak ada jarak, semua setara. Suasana akrab membuat tawa dan renungan bergantian hadir, memperkuat ikatan emosional antar peserta. Basah Kuyup, tapi Penuh Makna Puncak keseruan tersaji di Pos 3 bersama Awalul Nanda dan Novianti Laura Angelis. Mereka mengulas kembali pengalaman jurit malam dengan santai, lalu menutup sesi dengan bermain di sungai kecil. Basah kuyup tak jadi masalah. Justru di situlah mereka merasakan kebersamaan paling lepas, tanpa beban, hanya rasa syukur karena bisa belajar sambil bersenang-senang. “Menurut saya, Jelajah Alam ini bagian paling menyenangkan. Rasanya seperti pulang ke masa kecil, main di sawah tanpa peduli kotor atau basah. Tapi lebih dari itu, kami belajar menikmati kebersamaan dengan cara sederhana,” ungkap Siti Rasyada, salah satu peserta LDKS. Belajar dari Tawa dan Peluh Jelajah Alam membuktikan bahwa LDKS bukan hanya soal teori kepemimpinan. Ada ruang untuk merawat jiwa, menumbuhkan kebersamaan, dan belajar menghargai hal-hal sederhana. Bagi kader IPM Smamdela, momen ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pemimpin yang tangguh lahir tidak hanya dari diskusi serius, melainkan juga dari tawa, peluh, dan kebersamaan yang dibagi di tengah alam. (#) Jurnalis Diesta Niken Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co
Tradisi Jalan Kaki LDKS Smamdela: Militansi dan Empati ala Pendaki Kalcer

SMAMDELAGRES — Kabut tipis masih menari di udara pegunungan ketika Kamis pagi (25/9/2025), 37 pelajar SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, berkumpul di Bundaran Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tepat pukul sembilan, langkah-langkah mereka serentak menapak, menyusuri jalur menanjak selama dua jam menuju Villa Asia Jaya, lokasi utama Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) tahun ini. Dengan wajah dicoret warna hitam dan bekal di tangan, para peserta meniti jalan menanjak dengan napas teratur dan irama langkah yang kompak. Tepat pukul sebelas siang, rombongan tiba dengan sorot mata berbinar. Bukan hanya karena berhasil menaklukkan rute yang melelahkan, tetapi juga karena rasa kebersamaan yang tumbuh di sepanjang perjalanan. Tradisi Jalan Kaki yang Jadi Identitas Bagi warga Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Smamdela, tradisi jalan kaki yang mereka sebut re-treat bukan sekadar kegiatan seremonial. Sejak lama, ia menjadi ritual pembuka LDKS—warisan yang dijaga dari generasi ke generasi. Dua pekan sebelum keberangkatan, panitia sudah menggembleng peserta dengan latihan fisik. Bukan semata melatih otot dan pernapasan, tetapi juga menanamkan disiplin, mengasah mental, sekaligus memupuk militansi. Coretan hitam di wajah pun bukan hiasan asal. Ia menjadi simbol keteguhan hati, keberanian menghadapi tantangan, sekaligus tanda kesiapan untuk masuk ke barisan calon pemimpin muda yang tidak mudah gentar. Vibes “Pendaki Kalcer” Di kalangan Gen Z, istilah “kalcer” kini populer sebagai gaya gaul menyebut culture. Dari situlah lahir istilah “pendaki kalcer”—pendaki yang naik gunung bukan sekadar menaklukkan puncak, melainkan untuk merayakan vibes kebersamaan, mengabadikan momen estetik, dan menikmati serunya perjalanan. Re-treat PR IPM Smamdela menghadirkan nuansa yang serupa. Perjalanan dari Bundaran Pacet ke Villa Asia Jaya bak pendakian mini: udara dingin, jalur menanjak, hingga rasa lega saat tiba di tujuan. Setiap langkah bukan hanya memendekkan jarak, tetapi juga menghidupkan empati, kerja sama, dan gairah kebersamaan layaknya komunitas pendaki kalcer. Grow Together, Lead with Character Tema LDKS 2025, “Grow Together, Lead with Character”, menemukan wujudnya sepanjang perjalanan itu. “Grow together” tercermin ketika 37 peserta berjalan seirama, saling menunggu dan saling menguatkan agar tak ada yang tertinggal. Sementara “lead with character” terlihat dari spontanitas memimpin kelompok kecil, memberi semangat kepada yang lelah, dan menunjukkan kepedulian tulus tanpa menunggu jabatan. “Pemimpin bukan hanya yang paling kuat, tetapi yang paling peduli,” ungkap A. Rizal Azdka, Wakil Kepala Smadea Urusan Kesiswaan Smamdela, saat menyambut rombongan dengan bangga. Sentuhan Lokal dan Kenangan yang Membekas Tahun ini panitia menambahkan sentuhan khas Gresik. Lima kelompok peserta dinamai berdasarkan makanan tradisional: Ayas, Pudak, Jubung, Krawu, dan Bonggolan. Identitas lokal itu menyatu dengan semangat kepemimpinan, menegaskan bahwa menjadi pemimpin juga berarti berakar pada budaya sendiri. Bagi para alumni, momen jalan kaki ini kerap jadi kenangan paling membekas, bahkan lebih berkesan daripada materi kelas. Ketika seluruh rangkaian LDKS usai, para peserta tak hanya pulang dengan sertifikat, tetapi dengan kesadaran bahwa kepemimpinan sejati adalah perjalanan panjang, penuh tanjakan, yang hanya bisa ditaklukkan bersama dengan empati dan militansi. Layaknya pendaki kalcer yang pulang membawa kisah, peserta LDKS PR IPM Smamdela kembali dengan cerita bahwa memimpin berarti berjalan bersama orang lain, dan justru di situlah karakter ditempa. Jurnalis Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co
LDKS IPM SMAMDELA Ditutup dengan Apel, 37 Peserta Resmi Sandang Amanah Candradimuka

SMAMDELAGRES — Suasana pagi di villa kawasan Pacet, Mojokerto, terasa khidmat ketika 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMAM 8 Gresik (SMAMDELA) mengikuti apel penutupan. Kegiatan yang berlangsung sejak 25 September ini menjadi momen puncak setelah para peserta digembleng dengan berbagai materi kepemimpinan dan dinamika organisasi. Apel penutupan dipimpin langsung oleh Ahmad Rizal Azdka, SPd, selaku Pembina Apel. Prosesi berjalan dengan khidmat, dimulai dari penjemputan Pembina Apel oleh Aulia Salsabilla (XI IPA 2), dilanjutkan protokoler oleh Niken Almira (XC), pemimpin apel oleh Bintang Niagara (XB), serta doa penutup oleh Hilman Johary (XB). Momen paling simbolis adalah pelepasan tanda peserta LDKS yang diwakili Evan Quin (XI IPA 1) dan Salsabilla Safa (XC). Tanda peserta tersebut dilepas langsung oleh Ahmad Rizal Azdka, sebelum akhirnya diikuti seluruh peserta sebagai tanda resmi berakhirnya prosesi pembinaan. Dalam amanatnya, Ahmad Rizal menegaskan, bahwa 37 peserta yang dinyatakan lolos merupakan hasil seleksi ketat. “Kalian ini adalah 37 kader yang terpilih dari 47 peserta, dan saya nyatakan semuanya lolos 100%. Jaga amanah itu, jadilah brand ambassador sekolah yang mampu menjadi teladan bagi seluruh siswa lainnya. Peran kalian sebagai bagian dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolah harus terus dihidupkan, agar nilai-nilai kepemimpinan benar-benar terasa di lingkungan Smamdela,” ujarnya. Ahmad Rizal juga menambahkan, seluruh materi yang diberikan selama tiga hari diharapkan tidak berhenti pada pemahaman semata, tetapi mampu diimplementasikan dalam kehidupan organisasi dan aktivitas sekolah selama satu periode ke depan. Salah satu peserta, Aulia Salsabilla, membagikan pengalamannya. “LDKS tahun ini sangat seru. Meski saya sempat jatuh sakit, tapi itu tidak menyulutkan semangat saya untuk tetap berproses bersama teman-teman,” ungkapnya penuh semangat. LDKS sendiri telah menjadi tradisi tahunan di Smamdela. Namun, setiap tahun selalu ada cerita dan warna baru yang mewarnai perjalanan kaderisasi. Tahun ini, penekanan pada kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah menjadi titik tekan yang khas. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IPM di SMAMDELA memiliki peran penting dalam menumbuhkan iklim kepemimpinan pelajar. Melalui LDKS, para kader tidak hanya dibekali wawasan manajerial organisasi, tetapi juga nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan yang diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam mengemban amanah sebagai pelajar berkemajuan. Dengan berakhirnya apel penutupan ini, 37 peserta LDKS resmi menyandang amanah candradimuka. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan yang membawa semangat baru bagi IPM SMAMDELA sekaligus menebarkan teladan kepemimpinan di tengah siswa lain. (*) Kontributor: Liset Ayuni Sumber : girimu.com
24 Siswa Smamdela Berlaga di SMA Awards 2025, Optimistis Angkat Isu Digitalisasi

SMAMDELAGRES — SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik meneguhkan langkahnya di kancah nasional dengan mengirimkan 24 siswa terbaik dalam SMA Awards 2025. Ajang prestisius tingkat pelajar SMA ini diselenggarakan secara nasional dan melibatkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Kompetisi tersebut menjadi ruang unjuk bakat lintas bidang, mulai seni, olahraga, literasi, hingga keterampilan digital. Tahun ini, SMA Awards mengangkat isu besar digitalisasi sebagai benang merah perlombaan. Hal tersebut membuat Smamdela optimistis, sebab sekolah ini telah lama menerapkan digitalisasi dalam keseharian, baik pada proses pembelajaran berbasis platform digital, sistem administrasi sekolah, maupun inovasi kegiatan siswa. Kepala SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Emi Faizatul Afifah MSi menyatakan partisipasi siswanya dalam ajang ini merupakan wujud nyata dukungan sekolah terhadap pengembangan potensi dan daya saing generasi muda. Pembina lomba siswa, Dwi Kristanto SPd MM dalam wawancara pada Selasa (16/9/2025) menjelaskan bahwa seluruh karya telah berhasil diunggah sesuai tenggat, dengan pendampingan intensif dari guru maupun pelatih khusus untuk cabang tertentu seperti pencak silat. 24 Siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik Berlaga di SMA Awards 2025 (Liset Ayuni/PWMU.CO) Ia menegaskan, kesiapan teknis maupun mental para peserta menjadi modal penting untuk berkompetisi. Adapun siswa Smamdela Gresik yang siap berlaga dalam SMA Awards 2025 adalah: Fauziah Syifa Azzahra (XII 2) – Fotografi Ahmad Wildan Pradana (X C) – Jurnalistik Maulana Rozaq Herdyansyah (X B) – Pencak Silat Putra Siti Rasyada Syamsiatika (X B) – Pencak Silat Putri Muhammad Kinza Mika Rahil (XI IPA 1) – Kriya (Kerajinan Tangan) Ikbar Raditya (X C) – Desain Poster Naflah Shoofiyah Aatikah (XII 3) – Menyanyi Solo Putri Daffa Fawwaz Robbani Dot Com (X C) – Cipta dan Baca Puisi Falrino Alfarezi (XI IPA 2) – Sinematografi Jovan Rafael Susanto (XII 2) – Sinematografi Elvareta Raelana (XII 2) – Sinematografi Suci Aura Eka Pratiwi (XII 1) – Sinematografi Elvia Rafa Fradella (XII 1) – Sinematografi Icha Margareta Salsabila Rahayu (XII 3) – Sinematografi Fahri Zaidan Maulana (XII 2) – Sinematografi Diesta Niken Aurelia (XII 1) – Sinematografi Awalul Nanda Rizqia (XII 4) – Sinematografi Zulfikar Amirulloh (XII 1) – Sinematografi Revan Tri Aditya Putra (XI IPA 1) – Sinematografi Yudha Wahyu Sinagar (XI IPS) – Sinematografi Yuliati Nur Fikriani (XI IPS) – Sinematografi Muhammad Humam Fadlurahman (XI IPS) – Sinematografi Mudyazthity Oktarizki Ramadhani (XII 4) – Sinematografi Jasmine Azzura Revoliotta (X A) – Cipta Cerpen Dengan mengirimkan delegasi besar, Smamdela menempatkan diri sebagai sekolah yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mendukung pengembangan talenta siswa di bidang kreatif, olahraga, dan seni. Partisipasi di SMA Awards 2025 sekaligus menunjukkan posisi Smamdela sebagai sekolah yang adaptif, berdaya saing, dan siap mencetak pelajar berprestasi di era digital. Penulis : Liset Ayuni Sumber : pwmu.co
Futsal Smamdela Raih Juara 3

SMAMDELAGRES — Sorakan, pelukan, hingga air mata mewarnai perjalanan tim SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik, di ajang Raya Sport Futsal 2025 di Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP) Gresik, Sabtu (13/9/2025). Meski mimpi ke final harus runtuh karena undian koin, skuad muda ini pulang dengan kepala tegak, membawa trofi juara 3 kategori SMA/SMK. Menjadi cerita berharga tentang arti perjuangan tim futsal Smamdelagres, sebutan populer SMA Muhammadiyah 8 Gresik. Sejak awal, pelatih Arief Junaidi, S.Pd dan Ricky Maulana Ferdiansyah, S.Or menekankan lima fondasi tim: fisik, teknik, taktik, leadership, dan mental. Anak-anak disiplin latihan, menjaga pola makan, hingga istirahat tepat waktu. Hasilnya terlihat di lapangan. Setelah seri 3-3 melawan SMKM 1, mereka bangkit dengan kemenangan telak atas SMK YPI Darussalam 1 (3-0), dan SMAN 1 Kebomas B (4-0). Perjalanan makin panas di babak 8 besar ketika mereka menumbangkan SMKN 1 Duduksampeyan dengan skor tipis 1-0. Lalu tibalah semifinal. Skor 1-1 melawan SMAN 1 Kebomas A berlanjut ke adu penalti. Berakhir imbang 3-3. Lapangan hening. Semua mata tertuju pada undian nasib pada koin kecil yang dilempar. Koin jatuh menghentikan jalan menuju final . Pahit, tapi nyata. Namun dukungan dari tribun tak pernah padam. Casual M8, suporter setia Smamdela dengan atribut biru navy yang serasi dengan kostum tim berwarna biru, memenuhi tribun. Nyanyian bangga mereka menggema setiap kali Smamdelagres berlaga, jadi energi tambahan yang membuat tim tak kehilangan semangat. Di perebutan juara 3, mental baja itu terbukti. Smamdelagres menumbangkan SMK YPI Darussalam 1 dengan skor 3-1. Kapten tim, M. Revan Ramadhani (XI IPA 1), mengaku bangga dengan kerja keras rekan-rekannya. “Kami sudah berjuang sampai akhir. Walaupun gagal ke final, tapi semangat tim nggak pernah turun. Juara 3 ini buat sekolah dan semua yang dukung kami,” ujarnya dengan wajah lega. “Anak-anak sudah fight habis-habisan. Kalah di semifinal lewat toast koin memang pahit, tapi justru itu jadi pelajaran berharga. Yang penting mereka sudah menunjukkan karakter juara,” tambah coach Ricky. Apresiasi untuk Pemain Tim futsal Smamdelagres sebanyak 12 personel terdiri pemain inti dan cadangan. Revan Ramadhani (XI IPA 1) – Kapten Tim Fahcri Ilham Akmal Wahab (XI IPA 1) Zulfikar Amirullah (XII-3) Johan Armando Letlora (X-3) Habibur Rohman (XI IPS) Farell Firmansyah Salim (XII-2) – Cadangan Revand Mahendra (XII-3) – Cadangan Rasya Dafa Alfianto (XII-3) – Cadangan Rifal (XII-4) – Cadangan Fajar Arshavin (XI IPA 2) – Cadangan Moh. Rizky Ardiansyah (X-3) – Cadangan Aqilah Maheswara Putranto (X-3) – Cadangan Pemain dengan posisi masing-masing telah memberi warna permainan di lapangan. Setiap blok, tekel, gol, hingga dukungan dari bangku cadangan adalah bagian dari cerita kemenangan. Mereka pulang bukan hanya dengan piala, tapi juga pengalaman berharga bahwa kerja keras dan kebersamaan selalu jadi kunci kemenangan sejati. (#) Penulis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Siswi Smamdela Sabet Dua Medali di LPS Kejurnas Atletik dan Indonesia U-18 Open Championships 2025

SMAMDELAGRES — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh salah satu siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela). Salah satu siswi kelas XII-3, Nurus Syifa D. Nazarina, berhasil meraih dua medali pada ajang bergengsi LPS Kejuaraan Nasional Atletik dan Indonesia U-18 Open Championships 2025 pada Jumat (5/9/2025). Kejuaraan atletik tingkat nasional tersebut berlangsung di Stadion Sriwedari, Solo, dan mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kejuaraan yang diikuti ratusan atlet muda tersebut, Naza, sapaan akrabnya, berhasil mengharumkan nama sekolah dan daerah melalui prestasinya di nomor lempar. Ia sukses meraih Juara II Lontar Martil dan Juara III Lempar Cakram. Capaian ini terasa istimewa karena Naza tidak hanya bersaing dengan atlet sebaya, tetapi juga menghadapi peserta kategori U20 bahkan senior. Meski demikian, ia mampu menunjukkan performa terbaik dan berhasil naik ke podium juara. Di balik prestasi tersebut, tersimpan perjuangan panjang. Naza dikenal sebagai siswi yang disiplin dalam membagi waktu antara sekolah dan latihan. Hampir setiap sore ia menjalani latihan fisik dan teknik, meski harus rela mengorbankan waktu luang bersama teman-temannya. “Latihan memang melelahkan, apalagi menjelang pertandingan intensitasnya semakin ditambah. Tapi saya percaya, hasil tidak akan mengkhianati usaha,” ungkap Naza saat ditemui usai pertandingan. Bagi Naza, dukungan keluarga, guru, dan teman-teman di Smamdela menjadi energi tambahan untuk terus berjuang. “Kalau lagi capek, biasanya saya ingat pesan orang tua, yaitu jangan pernah berhenti sebelum mencoba sekuat tenaga,” ujarnya. Apresiasi Pihak Sekolah Kepala Smamdela, Emi Faizatul Afifah MSi, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian siswinya. “Alhamdulillah, prestasi ini menjadi kebanggaan bagi sekolah. Naza tidak hanya menunjukkan bakat olahraga, tetapi juga membuktikan bahwa siswa Smamdela bisa bersinar di tingkat nasional. Kami berharap prestasi ini dapat memotivasi siswa lainnya untuk berani mengembangkan minat dan bakatnya,” tutur Emi. Menurutnya, sekolah selalu berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang, baik di bidang akademik maupun nonakademik. “Kami percaya setiap anak memiliki keunggulan masing-masing. Tugas sekolah adalah mendampingi sekaligus memberi wadah agar potensi itu dapat berkembang secara maksimal,” imbuhnya. Bagi teman-teman di Smamdela, keberhasilan Naza menjadi motivasi tersendiri. Banyak yang merasa terinspirasi bahwa prestasi dapat diraih tidak hanya melalui nilai akademik, tetapi juga lewat bakat di bidang olahraga maupun seni. Salah satu rekannya, Safa, mengaku bangga memiliki teman seperti Naza karena rajin berlatih namun tetap tidak pernah tertinggal pelajaran di kelas. “Bangga sekali punya teman seperti Naza. Dia rajin latihan, tapi tetap tidak pernah tertinggal pelajaran di kelas,” ungkapnya. Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu membuahkan hasil, meski perjalanan yang ditempuh tidaklah mudah. Naza sendiri tidak ingin cepat puas. Ia bertekad terus mengasah kemampuan, bahkan menargetkan bisa mewakili Indonesia di ajang internasional. “Semoga prestasi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar. Saya ingin membuktikan bahwa anak daerah juga bisa berkompetisi di level dunia,” tegasnya. Dengan capaian tersebut, Smamdela kembali menegaskan jati dirinya sebagai sekolah yang mampu melahirkan generasi berprestasi sekaligus berkarakter. (*) Penulis : Liset Ayuni Sumber : pwmu.co
Tari Saman Smamdela Membuat Penonton Tersihir

SMAMDELAGRES — Suasana pagi di Lapangan SKB Cerme, Gresik, masih dipenuhi keceriaan warga yang berdatangan untuk mengikuti peringatan HUT ke-80 RI, Ahad (17/8/2025). Riuh rendah obrolan dan semangat merah putih sudah terasa. Dari kejauhan, derap tepukan tangan dan syair khas Tari Saman perlahan menghangatkan suasana, menarik perhatian setiap mata yang hadir. Tari Saman dari SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik tampil sebagai pengisi acara sebelum upacara dimulai. Permintaan tarian ini datang dari Camat Cerme Umar Hasyim dua hari sebelum acara. Koordinasi awal dilakukan dengan Waka Kesiswaan, Lukman Arif, S.Pd.I. Sejak saat itu, siswa-siswi yang tergabung dalam tim tari Saman langsung menyiapkan diri. Ketika latihan dimulai di awal Agustus, posisi Waka Kesiswaan Smamdela berganti dijabat oleh A. Rizal Azdka, S.Pd. yang mendampingi hingga penampilan di hari H. Latihan intensif berlangsung selama dua pekan. Nama-nama penampil dipilih melalui koordinasi di grup tari. Siapa saja yang bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan sekolah. “Paling sulit mengumpulkan 30 anak dengan jadwal berbeda-beda. Belum lagi tari Saman itu harus kompak. Kadang suara sound kurang terdengar keras, jadi aba-aba Ra pun tebak-tebakan,” cerita Safaatul, siswi kelas XII yang menjadi salah satu penampil sambil tersenyum mengenang masa latihan. Semua kesulitan terbayar ketika tibanya 17 Agustus. Pagi itu, 30 siswa penari Saman duduk rapi dalam satu barisan panjang di atas karpet yang mereka bawa sendiri. Biasanya tari Saman dimainkan dengan dua hingga tiga barisan, tapi kali ini tim harus menyesuaikan kondisi lapangan yang gersang dan berlubang untuk mengurangi risiko cedera. Dengan kostum cerah berwarna-warni, wajah para penari tampak berseri-seri, menebarkan senyum manis rupawan yang memikat penonton. Dentuman tepukan dan syair khas Aceh menggema, berpadu dalam gerakan yang kompak. Grogi yang sempat menyelimuti berubah jadi keberanian. “Awalnya deg-degan, tapi begitu musik dimulai, rasa itu hilang. Saya bangga sekaligus terharu bisa membawakan tari Saman di momen penting ini,” ujar Safaatul. Penonton memberi tepukan gemuruh atas penampilan itu yang rancak ini. Waka Kesiswaan, A. Rizal Azdka, S.Pd., merasa bangga dengan penampilan siswanya. “Ini bukti bahwa anak-anak Smamdela mampu berkontribusi nyata, bukan hanya di sekolah tapi juga di masyarakat. Tari ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk cinta pelajar pada budaya Indonesia,” ujarnya. Tari Saman Smamdela mempercantik panggung kemerdekaan di Cerme. ”Semoga penampilan kami memberi kesan baik, menghibur, sekaligus mengingatkan semua orang bahwa budaya Indonesia itu luar biasa kaya dan harus kita jaga bersama,” ujar Safaatul. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Paskibra Istimewa: Camat Cerme Percayakan Sepenuhnya kepada SMAMDELA

SMAMDELAGRES — Momen pengibaran bendera dalam rangka HUT ke-80 RI di Kecamatan Cerme, Ahad (17/8/2025), menjadi panggung istimewa bagi 27 siswa SMA Muhammadiyah 8 Gresik (SMAMDELA). Seluruh pasukan paskibraka pada upacara itu diminta langsung oleh Camat Cerme agar dibentuk dari siswa-siswi SMAMDELA. Permintaan khusus tersebut disampaikan sejak pertengahan Juli 2025. Saat itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Lukman Arif SPdI (sebelum digantikan A. Rizal Azdka SPd pada awal Agustus 2025), memberikan amanah besar kepada para siswa. Ia menegaskan bahwa kesempatan ini bukan sekadar prestise sekolah, tetapi juga ruang tumbuh bagi semua anak didik. Sebanyak 27 siswa terpilih berasal dari beragam ekstrakurikuler, mulai Pasus, Tapak Suci, Panahan, Tahfidz, Generasi Muda Pecinta Alam (GEMPA), hingga Futsal dan Basket. Selama hampir dua pekan, sejak 4–16 Agustus, mereka berlatih di lapangan Kecamatan Cerme setiap pukul 07.00–12.00 WIB. Latihan dipandu Samsul (Koramil Cerme) dan Wawang (Polsek Cerme). Dari dasar baris-berbaris hingga formasi pengibaran, seluruh proses dijalani dengan disiplin tinggi. Fahri Zaidan Maulana (XII-2), yang dipercaya sebagai Komandan Pasukan, menuturkan betapa berat sekaligus berharganya pengalaman ini. Sementara itu, Rafi Rasyidin Nugraha (XII-4), anggota Tapak Suci yang bergabung di pasukan 17, mengaku awalnya kaget dengan intensitas latihan. “Dari yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang baris-berbaris, sampai akhirnya bisa mengibarkan bendera dengan formasi lengkap, itu rasanya luar biasa. Capeknya terbayar dengan kebersamaan. Kami pulang bukan hanya membawa pengalaman, tapi juga rasa percaya diri baru,” kata Rafi. Nama yang Akan Dikenang Inilah 27 siswa SMAMDELA yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada HUT RI ke-80 di Kecamatan Cerme: Fahri Zaidan Maulana (XII-2) – Danpas Shirli Jannatusy Syahida (XII-3) – Pasukan 17 Novianti Laura Angelis (XII-1) – Pasukan 17 Suciana Ilmi (XII-4) – Pasukan 17 Awalul Nanda Rizqia (XII-4) – Pengibar Bendera Nabila Nirmala Chandra Rini (XII-1) – Pasukan 17 Davina Aulia Rahmah (XII-1) – Pasukan 17 Ni’mah Anggun Aulia (XI IPA 1) – Pasukan 17 Rachma Syahwa Ayu Rossila Mariana Herdiono (XI IPA 1) – Pasukan 17 Naurah Athirah Fahrudin (XI IPS) – Pasukan 17 Cherly Artalitha Aurelia (XI IPA 2) – Pembawa Baki Rafi Hari Setyawan (X-A) – Pasukan 8 Muhammad Bintang Nagara (X-B) – Pasukan 17 Erdiansyah Rachman (XI IPA 2) – Pasukan 8 Wisnu Gonggo Husodo (XI IPA 2) – Pasukan 17 Kevinndra Ridho Wibowo (XII-2) – Pasukan 8 Robbi Jonathan (XII-2) – Pasukan 17 Jhoanda Rohme Putra Bastia (XII-3) – Pengibar Bendera Akhtar Satria Widodo (X-A) – Pasukan 17 Rafi Rasyidin Nugraha (XII-4) – Pasukan 17 Muhammad Abi Abdillah Rusdianto (XII-4) – Pasukan 8 Ahmad Husen Ainur Rofiq (X-3) – Pasukan 17 Siti Nur Aisyah (X-3) – Pasukan 17 Vindry Dwi Salsabila (X-3) – Pasukan 17 Maulana Rozaq Hendryansyah (X-B) – Pengibar Bendera Johan Armando Letlora (X-3) – Pasukan 17 Jasmine Azzura Reviolitta (X-1) – Pasukan 17 Lebih dari Sekadar Upacara Meski hanya bertugas untuk pengibaran, momen itu meninggalkan kesan mendalam. Mereka membuktikan bahwa dengan kepercayaan dan dukungan, setiap siswa mampu menunaikan tugas kehormatan sekelas pengibaran Sang Merah Putih. (*) Penulis : Liset Ayuni Sumber : pwmu.co
Jalan Santai Menyusuri Tanggul Kali Lamong

SMAMDELAGRES — Lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme Gresik tak seperti biasanya, Selasa pagi (18/8/2025). Sejak pukul 07.00, ratusan siswa, guru, dan karyawan dari SD Al-Islam, SMP Muhammadiyah 7, SMA Muhammadiyah 8, hingga SMK Muhammadiyah 3 Gresik sudah berkumpul dengan wajah berbinar. Mereka bersiap mengikuti jalan santai yang menjadi bagian dari agenda puncak peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 di Perguruan Muhammadiyah Cerme. Rombongan siswa dan guru SMA Muhammadiyah 8 mengenakan seragam Hizbul Wathan (HW). Ini berbeda dengan peserta lain yang mengenakan kaus olahraga. Pilihan seragam HW ini dengan pemikiran, kepanduan Muhammadiyah ini telah melahirkan banyak tokoh pejuang bangsa, seperti Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dengan balutan seragam HW, para siswa ingin merepresentasikan semangat sang jenderal: meski tubuh bisa lelah, semangat perjuangan tak boleh padam. Seperti pesan Jenderal Sudirman, “Menjadi kader Muhammadiyah itu berat. Ragu dan bimbang, lebih baik pulang.” Dentuman musik dan sapaan hangat mengantar langkah rombongan meninggalkan lapangan. Jalur yang ditempuh berbeda dari biasanya. Siswa diajak menelusuri tanggul Kali Lamong di belakang sekolah. Suasana rindang dan lapang menghadirkan keteduhan membuat siswa merasakan angin segar di alam terbuka. Namun jalan setapak di atas tanggul cukup licin. Peserta hanya bisa berjalan satu per satu, membuat barisan panjang mengular ke belakang. Di situlah suasana berubah menjadi lebih semarak. Kayyisil Fikri dan Dandy Firmansyah, dua siswa SMA Muhammadiyah 8, tiba-tiba melepas teriakan lepas ke udara. Suara mereka bergema, bersahut-sahutan dengan alam, seperti tengah bercakap dengan semesta. Gelak tawa segera menyusul, gurauan mereka disambut kawan-kawan lain. Alam yang semula hening mendadak riuh oleh energi remaja. “Jalan sehat ini menjadi sarana bagi siswa untuk melepaskan emosi mereka. Tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga menyehatkan jiwa,” tutur Bu Mely Tri,S.Pd, guru Ekonomi SMA Muhammadiyah 8 yang turut mendampingi. Menurutnya, rutinitas kelas sering membuat siswa terkungkung dalam ritme yang sama, sementara jalan sehat semacam ini memberi ruang untuk menyegarkan pikiran. Jalan sehat hari itu akhirnya berujung di garis akhir. Bagi keluarga besar Perguruan Muhammadiyah Cerme, kegiatan ini menjadi medium kebersamaan lintas jenjang yang mempererat ikatan persaudaraan. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co