Papan Bekas Jadi Energi dengan Cara Ini

SMAMDELAGRES — Di Ruang Ujian Hasil SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Selasa pagi (21/1/2026), sebuah lampu LED kecil menyala pelan. Pukul 08.00–09.00 WIB, di hadapan penguji, cahaya itu menjadi penanda bahwa kincir angin mini yang dirakit Diesta Niken benar-benar bekerja. Bukan dari listrik utama, melainkan dari putaran angin yang menggerakkan dinamo sederhana. Presentasi tersebut merupakan bagian dari ujian hasil Project Based Learning (PjBL) kelas XII, sebuah program pembelajaran yang secara rutin dilaksanakan SMA Muhammadiyah 8 Gresik untuk membekali siswa sebelum terjun ke dunia setelah lulus SMA. Sebelumnya Niken telah melewati ujian proposal pada Desember 2025. Dia merancang papan bekas diubah menjadi kincir angin kecil yang menggerakkan dinamo listrik. Karya itu lantas dipresentasikan di hadapan guru penguji hari itu. Niken menjelaskan, karya ini berangkat dari isu polusi udara dan pemanasan global. Lantas dia merancang kincir angin mini sebagai alternatif energi ramah lingkungan. ”Bahannya sederhanan berupa papan bekas, dinamo, dan komponen yang dirangkai menjadi pembangkit listrik skala kecil,” katanya. Baginya, persoalan lingkungan bukan sekadar materi pelajaran, melainkan realitas yang menuntut sikap dan tindakan nyata. Proyek ini bukan tugas akademik semata, ujarnya. Dalam skema PjBL, siswa dituntut mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus mengasah hard skill dan soft skill. ”Karya ini dari pembelajaran lintas mata pelajaran Fisika, Matematika, dan Biologi yang dipadukan dalam satu rangkaian,” ujarnya. Dari Fisika, mempelajari prinsip perubahan energi angin menjadi energi listrik melalui putaran dinamo, yang kemudian dimanfaatkan untuk menyalakan lampu LED sebagai bukti fungsi alat. Keterbatasan alat ukur justru menjadi ruang belajar tersendiri. Pengganti alat pengukur, Niken menggunakan stopwatch pada ponselnya untuk menghitung Revolutions Per Minute (RPM) secara manual selama 15 detik. Lalu mengonversinya dengan perhitungan matematis sederhana. Proses ini melatih ketelitian, kejujuran data, sekaligus kemampuan berpikir analitis yakni kompetensi penting yang dibutuhkan setelah lulus sekolah. Di tengah padatnya aktivitas sebagai panitia berbagai kegiatan sekolah, Niken tetap menyempatkan diri menyempurnakan alatnya. Tantangan muncul saat pameran Synfest pada 27 Januari 2026 lalu, ketika kondisi angin tidak menentu membuat kincir sulit berputar stabil. Lantas ia menambahkan baterai dan sakelar agar sistem tetap berfungsi saat dipresentasikan. Pengambilan keputusan ini mencerminkan kemampuan problem solving dan adaptasi, bagian dari soft skill yang menjadi tujuan utama PjBL. Aspek Biologi menjadi landasan nilai dari proyek tersebut. Niken mengaitkan penggunaan energi terbarukan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca serta dampak energi fosil terhadap kesehatan lingkungan dan makhluk hidup. ”Dengan demikian, kincir angin mini ini tidak hanya berfungsi sebagai alat peraga sains, tetapi juga sebagai media edukasi kesadaran ekologis,” tuturnya. Karya tersebut mendapat apresiasi dari Emi Faizatul Afifah, M.Si, penguji yang juga Kepala SMA Muhammadiyah 8 Gresik. Menurut Emi, rangkaian PjBL yang dijalani siswa kelas XII menjadi bekal penting sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan tinggi maupun dunia kerja. “Yang kami nilai bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses berpikirnya. Di tengah keterbatasan alat dan waktu, siswa tetap mampu melakukan analisis, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Inilah esensi pembelajaran abad ke-21,” ujarnya. Ia menambahkan, pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa mengembangkan karakter, kreativitas, dan kepedulian sosial secara bersamaan. “Inovasi tidak harus mahal atau rumit. Dari kesederhanaan seperti inilah kesiapan mental dan kompetensi siswa untuk menghadapi dunia pasca SMA mulai dibentuk,” tambahnya. Meski menyadari masih terdapat keterbatasan, Niken merasa puas dengan hasil yang dicapai. “Walaupun alatnya sederhana dan penghitungan masih manual, setidaknya kincir ini bisa menyadarkan kita untuk mulai mencegah pemanasan global lewat energi alternatif,” ungkapnya. (#) Jurnalis Fahri Zaidan | Sumber : Tagar.co
Campus Festival Synfest 2026, Alumni Smamdela Buka Jalan ke Dunia Kampus

SMAMDELAGRES — Puluhan alumni kembali ke almamater dengan satu misi: membuka cakrawala masa depan adik-adik kelasnya. Itulah yang terasa dalam Campus Festival (Camfest), salah satu rangkaian utama kegiatan Synfest 2026 yang digelar SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), Selasa (27/1/2026). Sebanyak 40 alumni angkatan 2024–2025 yang kini menempuh studi di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) favorit hadir langsung menyapa para siswa. Mereka tidak sekadar datang bernostalgia, tetapi berbagi pengalaman nyata tentang dunia perkuliahan sebagai jenjang pendidikan setelah SMA. Baca juga: Synfest 2026, Etalase Pembelajaran Bermakna di SMA Muhammadiyah 8 Gresik Camfest dirancang sebagai ruang pertemuan inspiratif antara siswa dan alumni. Salah satu agenda yang paling menyedot perhatian adalah parade alumni kampus. Para alumni berjalan di hadapan peserta sambil membawa emblem almamater masing-masing—sebuah simbol keberagaman pilihan kampus sekaligus pesan bahwa setiap mimpi memiliki jalannya sendiri. Tak berhenti di situ, suasana semakin hidup saat booth kampus dibuka. Di titik-titik ini, siswa bebas berdialog langsung dengan para alumni: mulai dari cerita proses masuk perguruan tinggi, pemilihan program studi, sistem perkuliahan, hingga gambaran kehidupan mahasiswa sehari-hari. Percakapan berlangsung cair, penuh rasa ingin tahu, dan sarat motivasi. Fazar Izzul Muslimin (kiri) dalam parade Camfest 2026 (Tagar.co/Motreight) Momen reflektif sekaligus emosional datang dari Fazar Izzul Muslimin, Ketua IPM SMA Muhammadiyah 8 Gresik periode 2024–2025. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang telah membersamai perjalanan akademik para alumni. “Berkat bimbingan dan doa para guru di Smamdela, kami bisa menempuh jenjang kuliah sesuai dengan cita-cita kami,” ungkapnya. Fazar juga menyampaikan pesan penuh semangat kepada siswa Smamdela angkatan 2026 serta para tamu dari SMP dan MTs yang hadir. Ia mengajak mereka untuk berani bermimpi dan tidak ragu melangkah lebih jauh. “Jangan takut bermimpi tinggi. Dari sekolah sederhana ini, mimpi dibentuk dan cita-cita diperjuangkan. Smamdela mungkin berada di pinggiran dan jauh dari kata sempurna, tetapi justru di sinilah bakat-bakat digali, dibimbing, dan diarahkan hingga mampu meraih masa depan yang diinginkan. Berkat Smamdela, saya bisa meraih perguruan tinggi impian,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah. Rangkaian Campus Festival SYNFEST 2026 ditutup dengan foto bersama seluruh alumni, panitia, dan peserta di atas panggung. Momen ini menjadi penanda kuatnya ikatan almamater sekaligus harapan besar agar semakin banyak siswa Smamdela melangkah mantap menuju bangku perguruan tinggi. (#) Jurnalis Chintia Rizki | sumber : Tagar.co
Belajar Bahasa Inggris Seru bersama Guru Belanda

SMAMDELAGRES — Suasana aula SMA Muhammadiyah 8 Gresik tampak semarak pada Kamis (8/1/ 2026). Sekolah menggelar kegiatan Cross Culture bersama Mr. Robby Stabel, pengajar asal Belanda. Acara diikuti oleh 50 siswa SMA Muhammadiyah 8 dan 15 siswa SMP Muhammadiyah 7 Cerme. Belajar bahasa Inggris ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi berbahasa asing sekaligus memperluas pemahaman siswa terhadap perbedaan budaya lintas negara. Siswa berinteraksi langsung dengan guru Robby Stabel. Acara dibuka oleh Nanda Yuniar Zakirah Putri, siswi kelas XII, dan Kayla Aira Yasmine, siswi kelas XI. Teriakan yel SMA Muhammadiyah 8 Gresik menggema di aula menyambut kehadiran Mr. Robby Stabel. Who’s here today? Mr. Robby! From where? Netherlands! Welcome Mr. Robby! We’re so happy you’re here today! We’re students of Muhammadiyah Eight, full of spirit and pride, Let’s learn English together. Nice to meet you. Dalam sesi pengenalan budaya, Wildan dan Damar, siswa kelas X, mempresentasikan kue lapis sebagai makanan tradisional. Gaya Komunikasi Mr. Robby Stabel menyampaikan materi Cross Cultural Understanding dengan power point yang ditayangkan lewat LCD. Materi mencakup pengertian budaya lintas negara, perbedaan nilai dan kebiasaan sosial, gaya komunikasi, serta potensi kesalahpahaman yang kerap muncul akibat perbedaan budaya. Pembahasan difokuskan pada perbedaan budaya Indonesia dan Belanda, seperti gaya komunikasi langsung dan tidak langsung, ketepatan waktu, makna persetujuan, hubungan sosial, serta hierarki dalam dunia pendidikan. Untuk memperdalam pemahaman, siswa diajak mengikuti simulasi role-play, antara lain The Late Meeting, Yes… I Will Try, The Money Message, dan Honest Feedback. Kegiatan didampingi oleh guru Bahasa Inggris SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Ana Abidin, S.Pd., dan Ichda Sholikhatun Nisa’, S.Pd. Peserta aktif berdiskusi dan melafalkan bahasa Inggris dengan gaya penutur Indonesia dan Belanda sebagaimana dicontohkan Mr. Robby Stabel. Hawwa Zahra, siswi kelas XII-1, mengataka gembira mengikuti pembelajaran bersama native speaker. “Sering-sering ya, Miss, mendatangkan native speaker. Kita sangat senang karena bisa belajar bahasa Inggris secara langsung bersama penutur asli,” ujarnya. Siswa Aktif Mr. Robby Stabel menyampaikan apresiasi terhadap peserta. “The students of SMA Muhammadiyah 8 Gresik are very active and confident in trying. The class feels lively, especially when they practice English pronunciation in both Indonesian and Dutch styles,” katanya. Artinya, siswa dan siswi SMA Muhammadiyah 8Gresik sangat aktif dan berani mencoba. Kelas terasa hidup, terutama saat mereka mempraktikkan pelafalan bahasa Inggris dengan gaya Indonesia dan Belanda. ”The learning atmosphere here is dynamic and different from similar sessions I have conducted elsewhere, where students tend to feel hesitant and unsure of how to respond. Here, the students are able to create a much more engaging and vibrant classroom environment” sambung dia. Artinya, suasana belajar di sini terasa dinamis dan berbeda dibandingkan dengan kegiatan serupa di tempat lain. Siswa cenderung masih bingung dan ragu untuk merespon. Di sini, para siswa mampu menciptakan suasana kelas yang lebih hidup. Dalam sesi diskusi, Nanda Yuniar Zakirah Putri, siswi kelas XII, menjawab pertanyaan “How did communication solve the problem?” Ia menyampaikan, komunikasi yang dilandasi sikap saling menghormati, keterbukaan, dan pemahaman latar belakang budaya dapat menjadi kunci penyelesaian masalah dan mencegah kesalahpahaman. Jurnalis : Ichda S. Nisa | Sumber : Tagar.co
Lima Pesilat Smamdela Gresik Rajai Kejuaraan Silat

SMAMDELAGRES — Pagi di GOR Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Gresik mengalirkan ritmenya sendiri. Suara langkah peserta yang terburu-buru, denting senjata latihan, dan seruan pelatih dari sudut ruangan seakan menjadi musik latar kejuaraan besar tahunan itu. Namun, momen pada akhir November hingga pertengahan Desember 2025 terasa berbeda. Lima atlet Smamdela, SMA Muhammadiyah 8 Gresik, mencatatkan prestasi yang menorehkan kebanggaan baru bagi sekolah dan Gresik bagian selatan. Ajang ini bukan sembarang turnamen. Grissee Pencak Silat Championship II 2025, kompetisi resmi yang IPSI Kabupaten Gresik selenggarakan bekerja sama dengan Kodim 0817/Gresik. Menarik 1.775 pelajar dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK. Bertempat di Gedung WEP Gresik, kejuaraan ini berlangsung dalam dua gelombang. Yakni 25–28 November dan 9–11 Desember 2025. Ratusan laga penuh ketegangan dan energi muda pun hadir di sana. Dari ratusan pesilat, lima nama dari Smamdela bersinar sebagai bintang baru. Mereka tidak hanya mencatatkan prestasi, tetapi memamerkan ketenangan yang jarang dimiliki remaja seusia mereka. Emas Beruntun dari Lima Pesilat Muda Falrino Alfarezi dari kelas XI IPA 2 memulai rentetan kebanggaan itu. Berlaga di Kelas F Remaja Putra, Falrino melangkah mantap sejak babak penyisihan. Postur tubuhnya yang tinggi dan pukulan terukur meningkatkan kepercayaan dirinya. “Aku cuma fokus pada satu hal, nerapin arahan pelatih,” ungkapnya singkat. Tak kalah memukau, M. Satria Ramadhan dari kelas XII 4 yang turun di Kelas E Remaja Putra juga merebut Juara I. Satria tampil dengan agresivitas yang konsisten dan stamina menakjubkan. Setiap kali kakinya menjejak matras, penonton mengiringi dengan tepuk tangan. Ia menjadi salah satu pesilat yang wasit nilai paling stabil sepanjang hari itu. Di sisi arena lain, dua pesilat putri kelas X B, Putri Aulia dan Siti Rasyada Syamsiatika, membuktikan usia muda bukan penghalang untuk tampil matang. Putri Aulia meraih Juara I Kelas E Remaja Putri. Sementara itu, Rasyada yang turun di nomor Seni Tunggal Tangan Kosong memikat juri dengan ketelitian, keindahan gerak, dan ketenangan yang membuatnya tampak lebih dewasa. Keduanya membawa pulang medali emas yang sangat berarti. Satu lagi prestasi penting disumbangkan oleh Hilman Johary kelas X A. Bertanding di Kelas B Remaja Putra, Hilman berhasil merebut Juara II setelah melewati laga-laga berat sejak pagi. Meskipun tidak naik podium tertinggi, kerja keras dan pertarungan tanpa menyerahnya justru menjadi cerita favorit banyak teman di sekolah. Ofisial di Balik Kemenangan Di balik layar kemenangan ini, ada nama seorang siswa yang bekerja keras memastikan kelancaran tim. Maulana Rozaq, siswa kelas X B sekaligus atlet silat, berperan sebagai ofisial yang mewakili pelatihnya. Ia mengurus administrasi, memastikan jadwal bertanding, hingga menjaga mental rekan-rekannya. “Mereka berjuang, saya pastikan mereka siap,” tuturnya merendah. Kejuaraan ini bukan hanya tentang medali. IPSI Gresik merancang ajang ini sebagai wadah agar pesilat muda tidak “berlatih liar,” tetapi berkembang melalui jalur resmi yang sportif dan terukur. Lima juara dari Smamdela membuktikan anak-anak muda dapat tumbuh dengan karakter kuat saat diberi ruang yang tepat. Sore itu, saat lampu GOR WEP mulai meredup, lima nama dari Smamdela kembali dengan kebanggaan yang tidak hanya tertulis pada piagam, tetapi juga terpancar pada cara mereka melangkah lebih tegak. Mereka pulang sebagai juara, dan mungkin, menjadi calon atlet masa depan Gresik bahkan Nasional. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Guru dan Siswa Smamdela Juara Panahan

SMAMDELAGRES — Suara tepuk tangan menggema di Lapangan SOR Petrokimia Gresik selama dua hari, 6–7 Desember 2025. Di tengah teriknya cuaca dan hiruk-pikuk kompetisi panahan, nama Smamdela (SMA Muhammadiyah 8 Gresik) berkali-kali dipanggil ke podium kemenangan. Sekolah ini menyabet serangkaian medali, mulai dari kategori pelajar hingga umum. Pada gelaran Archery Competition Bupati Gresik Invitational 2025 yang Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Gresik selenggarakan, Smamdela tampil sebagai sekolah dengan perolehan prestasi terbanyak. Ajang panahan tingkat kabupaten yang diikuti 101 peserta dari berbagai sekolah dan klub ini berlangsung meriah. Ketua KONI Gresik, dr. Anis Ambiyo Putri, bersama Ketua Perpani Gresik, Dr. Ir. Ari Primantara, serta Kabidpora Disbudparpora Gresik, Kumala Wardani, S.A.P., resmi membuka kompetisi ini. Meskipun Wakil Bupati Gresik berhalangan hadir dan mewakilkan, suasana pembukaan tetap penuh antusiasme. Tim-tim panahan tampil percaya diri di tengah ratusan peserta. Namun, perhatian penonton tertuju pada rombongan Cerme Archery Club, yang di dalamnya tergabung para atlet dari Smamdela. Sejak awal pertandingan, kelompok pemanah muda berseragam putih-abu itu mencuri perhatian. “Anak-anak sudah mempersiapkan diri secara serius. Mereka rutin latihan bersama klub, dan hari ini kami hanya ingin menampilkan skill terbaik kami,” ujar Ahmad Rizal Azdka, S.Pd, Waka Kesiswaan Smamdela, yang setia mendampingi para atlet sejak pagi. Bertabur Juara Perlombaan berlangsung ketat, tetapi nama Smamdela mulai muncul satu per satu di papan unggulan. Arina F.R, siswi kelas XI, menunjukkan ketenangan luar biasa saat berhadapan dengan puluhan peserta putri lainnya. Konsistensi tembakannya mengantar Arina meraih Juara 1 Paralon SMA Putri. Tidak berselang lama, rekan setimnya, Nayla Aghniya, menjejak podium sebagai Juara 2. Dua puncak podium di kategori yang sama membuktikan dominasi pemanah putri Smamdela. Dari kategori putra, torehan prestasi mereka tidak kalah cemerlang. M. Rafa tampil impresif sejak babak penyisihan hingga final, membawa pulang Juara 1 Paralon SMA Putra. Zulfikar Amirulloh menyusul sebagai Juara 2. Adapun Daffa Fawwas Rabbani melengkapi podium dengan Juara 3. Tiga atlet menempati tiga posisi terbaik dalam satu kategori, membuat sorak penonton tak putus-putus. Keberhasilan ini bukanlah kebetulan. Para siswa Smamdela tergabung dalam Cerme Archery Club, sebuah wadah pembinaan panahan yang berfokus pada teknik dasar, mental kompetisi, hingga disiplin latihan. “Mereka tumbuh bersama, berlatih bersama, dan hari ini menuai hasil yang pantas mereka dapatkan,” tambah Rizal. Guru Smamdela Juara Kategori Umum Yang menjadikan gelaran ini semakin berkesan bagi Smamdela adalah dukungan penuh para guru. Guru tidak hanya mendampingi, salah satu guru bahkan ikut turun sebagai peserta. Lukman Arif, S.Pd.I, Wakil Kepala Sekolah Bidang Ismuba Smamdela, tampil di kategori umum. Dengan teknik barebow yang stabil, ia berhasil meraih Juara 1 Barebow 20 Meter Umum Putra, mengalahkan puluhan peserta dewasa lainnya. Aksi Lukman menjadi inspirasi tersendiri bagi siswa-siswi Smamdela. Banyak siswa bersorak ketika namanya disebut sebagai juara pertama. Beberapa siswa bahkan mendekat memberikan ucapan selamat, bangga melihat guru mereka naik ke podium bersama mereka. Prestasi yang Smamdela raih di Archery Competition Bupati Gresik Invitational 2025 ini membuktikan, sekolah tak hanya unggul dalam akademik. Tetapi juga dalam olahraga prestasi yang membutuhkan fokus, ketenangan, dan kedisiplinan tinggi. Semangat kompetitif yang sehat, dukungan sekolah yang kuat, serta kolaborasi bersama Cerme Archery Club membuktikan potensi siswa dapat berkembang optimal ketika sekolah memberi ruang berkarya. Pada akhirnya, gelaran panahan ini bukan hanya soal medali. Ini tentang keberanian mengasah bakat, konsistensi latihan, dan semangat untuk menjadi lebih baik. Smamdela pulang bukan hanya membawa deretan piala, tetapi juga rasa bangga karena guru dan siswanya telah mengharumkan nama sekolah di tingkat kabupaten. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Kuliah Tamu Smamdela Cetak Leaderpreneur Muda

SMAMDELAGRES — Pagi itu halaman Masjid Sabilul Muttaqin terasa lebih hidup dari biasanya, Senin (24/11/2025). SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) menggelar kuliah tamu bertema Mencetak Leaderpreneur Muda: Pelatihan Terpadu Kepemimpinan Visioner dan Inovasi Bisnis bagi Siswa. Ratusan siswa mengikuti dengan antusias sejak awal kegiatan. Kuliah tamu yang dimulai pukul 08.30 WIB ini menghadirkan dua dosen Universitas Muhammadiyah Gresik: Abdul Kadir Alamufi, SE., MM. dan Abi Hanif Dzulquarnain, S.KM., M.SM. Dipandu oleh Aluno Kenathra Saragosa, siswa kelas X, suasana acara terasa cair dan interaktif. Abdul Kadir membuka sesi dengan menegaskan pentingnya menjadi leaderpreneur, pemimpin muda yang berani menciptakan nilai baru melalui inovasi bisnis. “Pelajar harus punya growth mindset, pola pikir yang terus berkembang,” ujarnya. Dia mengaitkannya dengan fondasi karakter yang dapat dicontoh dari empat sifat rasulullah: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Melalui contoh-contoh nyata dari lapangan, Abdul Kadir menjelaskan bahwa visi adalah kompas seorang pemimpin. Visi bukan sekadar tulisan di atas kertas, tetapi arah jangka panjang yang harus dicapai melalui target yang disusun dengan sabar dan bertahap. Self Efficacy Setelah itu, acara mengalir ke materi berikutnya yang disampaikan oleh Abi Hanif Dzulquarnain. Dengan bahasa sederhana, dia mengenalkan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat penting dalam merancang bisnis modern. Mulai dari identifikasi pelanggan, nilai produk, hingga mitra strategis. “Setiap pengusaha harus punya self-efficacy. Tanpa keyakinan pada kemampuan diri, bisnis hanya akan berjalan di tempat,” tegasnya. Sesi tanya jawab menjadi momen paling dinamis. Dengan suara mantap, Muhammad Raihan Al-Muzakki, siswa kelas XC, mengangkat tangan dan bertanya, “Menurut Bapak, lebih penting mana antara strategi dengan modal?” Abdul Kadir menjawab lugas, “Keduanya penting. Tapi jika harus memilih, strategi tetap nomor satu. Modal tanpa strategi hanya membuat kita membakar uang tanpa hasil.” Jawaban itu mengundang anggukan puas dari para siswa, disusul pertanyaan lain seputar kepemimpinan, kewirausahaan, dan bisnis era digital. Kegiatan ditutup dengan harapan besar. Smamdela ingin melahirkan generasi leaderpreneur yang berani melihat peluang, menciptakan inovasi, dan membawa perubahan positif. Pagi yang semula dibuka dengan riuh antusias, kini ditutup dengan semangat baru. Seolah setiap siswa pulang membawa nyala kecil untuk masa depan mereka. (#) Jurnalis Aisyah Cindy. Sumber : Tagar.co
Sujud Sunyi Siswa Smamdela: Cahaya Iman Sepertiga Malam

SMAMDELAGRES — Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Suara lembut panitia memecah keheningan lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme (31/10/2025). Udara dingin menyergap kulit, tetapi ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) bangun dari tidurnya. Dengan mata masih setengah terpejam dan langkah perlahan, mereka bergerak menuju masjid sekolah. Mereka melaksanakan salat lail berjamaah, sebuah momen paling sakral dalam rangkaian Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami).” Dunia seakan masih terlelap. Ratusan siswi Smamdela bangkit menjemput ketenangan, membiarkan diri mereka bersentuhan dengan sunyi dan ayat-ayat langit. Tidak ada hiruk pikuk yang terdengar, hanya suara gemerisik langkah di antara kain mukena dan hembusan angin yang menyingkap tirai malam. Dari kejauhan, cahaya lembut lampu menerangi wajah-wajah muda yang tengah belajar memaknai kedekatan dengan Sang Pencipta. Imam lantas mengangkat takbir, dan suasana berubah hening. Ratusan siswi berdiri sejajar, mengangkat tangan, menundukkan kepala, lalu bersujud dalam kesunyian yang nyaris sempurna. Di antara diam dan doa itu, muncul getaran yang sulit dijelaskan—seperti rindu yang akhirnya menemukan arah pulang. Bagi sebagian siswi, inilah kali pertama mereka melaksanakan salat malam secara berjamaah. Mereka tidak menunjukkan kantuk atau keengganan; justru kekhusyukan menyelimuti suasana sehingga segalanya terasa ringan dan indah. Beberapa siswi bahkan meneteskan air mata perlahan saat doa panjang selesai mereka panjatkan di ujung salat witir. Setelah salat, kegiatan mereka berlanjut dengan tadarus Al-Qur’an. Lantunan ayat suci terdengar lembut, menggema dari berbagai sudut. Suara mereka belum tentu fasih, namun ada kejujuran dalam setiap bacaan. Seolah setiap huruf menjadi jembatan antara hati dan langit. Sampaikan Pesan Tulus di Tengah Sunyi Di sela tadarus, panitia memberikan waktu bagi peserta yang telah siap untuk menyampaikan kultum singkat. Siswi-siswi maju satu per satu, berbicara dengan suara pelan tetapi penuh keyakinan. Tema yang mereka angkat sederhana saja, seperti bersyukur, menjaga hati, hingga pentingnya salat malam demi ketenangan batin. Meskipun singkat, setiap kata yang terucap terasa tulus dan memantul di dinding lapangan bagai gema yang enggan pergi. Salah satu guru pembina, Abdillah Rosyid, menyampaikan, sesi dini hari ini bukan hanya persoalan ibadah, melainkan latihan membangun kesadaran ruhani. “Kalian sedang belajar menemukan diri sendiri melalui sunyi,” ujarnya lirih, hampir seperti sebuah doa. Menjelang pukul empat, tadarus mereka tutup dengan zikir dan doa bersama. Wajah para siswi tampak tenang, lelah, tetapi damai. Tak sedikit yang saling tersenyum sambil menatap satu sama lain, seolah mereka berbagi rasa yang sama: keheningan malam itu telah mengajarkan sesuatu yang tak tertulis di buku pelajaran mana pun. Ketika azan Subuh berkumandang, cahaya jingga mulai menembus langit Cerme. Helaan napas panjang terdengar di antara barisan. Pagi itu, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga menapaki perjalanan batin yang membuat “iman” bukan lagi kata abstrak, melainkan rasa yang nyata di dada. Bagi siswi-siswi Smamdela, malam Mabit itu akan selalu mereka ingat bukan karena kantuk atau dingin, tetapi karena di sanalah mereka menemukan versi diri yang lebih tenang, lebih lembut, dan lebih dekat dengan Allah Swt. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Dari Tafsir Ayat ke Tafsir Diri, Merawat Nurani di Keheningan Malam

SMAMDELAGRES — Malam kian larut di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme. Lampu-lampu yang sejak sore menerangi kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) masih menyala lembut (31/10/2025). Cahaya hangat terpantul di wajah-wajah siswi yang duduk berkelompok di atas tikar. Suara lembut Siti Fatimah, S.Ag., Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme, yang beberapa jam lalu mengisi sesi Nurturing Diri masih terngiang di telinga mereka. Namun kali ini, siswa-siswi mengambil giliran berekspresi dan menafsirkan. Panitia Mabit mengajak mereka menyelami makna ayat Al-Qur’an pilihan yang berkaitan dengan materi sebelumnya tentang pergaulan, hubungan pertemanan, dan menjaga hati di masa remaja. Di tiap kelompok, selembar kertas karton besar terhampar di tengah lingkaran. Ada yang menggambar simbol hati dengan akar iman, ada pula yang menulis potongan ayat dengan warna-warni spidol. Beberapa kelompok terlihat berdiskusi serius, sementara kelompok lain tertawa pelan di sela perdebatan kecil tentang makna kata “qolbun salim” atau hati yang bersih. Suasana malam terasa hidup dengan cara yang berbeda. Siswi tenang tetapi penuh makna. Mereka menyingkirkan layar ponsel atau musik keras. Hanya kalimat suci yang mereka urai menjadi refleksi tentang diri. Refleksi Ayat, Merawat Hati Bersama Pembimbing dari panitia Mabit mengelilingi tempat kegiatan, memantau tiap kelompok dengan lembut. Mereka membantu mengaitkan ayat yang dibahas dengan tema Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami). Di sinilah makna “nurturing” terasa nyata: bukan sekadar teori, tetapi proses belajar merawat hati bersama-sama. Menjelang pukul sepuluh malam, tiap kelompok memajang hasil karya mereka di sisi lapangan. Warna-warna cerah menghiasi malam yang lembut. Ada kelompok yang menulis doa, ada pula yang menempelkan potongan kertas berbentuk bintang berisi kalimat reflektif. Dari jauh, lapangan itu tampak seperti taman pesan yang bercahaya. Setelah sesi refleksi dan presentasi singkat, pembina mengajak semua peserta menutup kegiatan malam dengan doa kafarotul majelis. Lantunan doa bergema pelan di udara, seolah menjadi pengantar menuju istirahat. Pukul 22.00, satu per satu siswi mulai membereskan alat tulis dan melipat selimut. Panitia mengingatkan agar mereka beristirahat cukup, karena pukul dua dini hari nanti panitia akan membangunkan mereka untuk salat lail berjemaah. Di antara mereka, mereka masih berbisik pelan, membicarakan ayat yang baru saja didiskusikan, seakan belum ingin melepas suasana. Angin malam Cerme berembus lembut. Di langit, bulan menggantung cerah, seolah menjadi saksi perjalanan kecil ratusan siswi yang sedang belajar mengenal dirinya melalui ayat-ayat Tuhan. Malam itu, Mabit Putri Smamdela berubah menjadi perjalanan spiritual yang sederhana namun dalam. Setiap kata dalam Al-Qur’an tidak hanya mereka baca, tetapi mereka rasakan, mereka renungi, dan mereka terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika akhirnya mata-mata muda itu terpejam dalam keheningan malam, mereka tahu, perjalanan menuju nurani baru saja dimulai: dari tafsir ayat, menuju tafsir diri. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Siswi Smamdela Diajak Merawat Taman Hati Perempuan

SMAMDELAGRES — Udara dini hari di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa sejuk dan menenangkan (31/10/2025). Lampu-lampu temaram masih menyala, menyoroti wajah-wajah siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) yang duduk melingkar dengan mata penuh rasa ingin tahu. Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri yang mengusung tema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami” berlanjut dengan sesi yang paling siswi nantikan. Ialah materi Nurturing Diri bersama Siti Fatimah, S.Ag, Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Cerme yang akrab dengan sapaan Bu Fat. Begitu muncul, suasana langsung berubah hangat. Jarak antara pembicara dan peserta seolah sirna. Siti Fatimah memulai sesi dengan cara sederhana. Bukan ceramah panjang, melainkan obrolan ringan yang justru membuat para siswi merasa dekat. Ia membahas hal-hal yang paling akrab dengan kehidupan remaja. Yaitu pertemanan yang kadang melelahkan, hubungan yang menuntut pembuktian, hingga bagaimana mencintai diri sendiri tanpa harus selalu terukur dari perhatian orang lain. Topik-topik itu begitu dekat dengan keseharian mereka. Banyak siswi tampak mengangguk, bahkan tersenyum malu ketika Siti Fatimah menyinggung sikap remaja yang mudah merasa “tidak cukup” hanya karena perbandingan di media sosial. Di titik itulah, suasana menjadi hidup. Tawa kecil bersahutan, diselingi gumaman pelan, tanda banyak hati yang merasa terwakili. Rawat Taman Hati Perempuan Suasana semakin cair saat Siti Fatimah mengajak peserta merenung tentang nurturing hati. Ini tentang bagaimana menjaga sisi terdalam diri agar tetap lembut dan terarah. Ia menggambarkan hati perempuan seperti taman kecil yang perlu disiram setiap hari. Jika tidak, hati bisa layu karena lelah, kecewa, dan luka yang selama ini siswi simpan sendiri. Perlahan, suasana lapangan yang tadinya riuh berubah menjadi teduh. Semua siswi mendengarkan dengan diam, seolah takut kehilangan satu kata pun. Siti Fatimah berbicara dengan gaya yang menenangkan, membiarkan pesan-pesan halusnya meresap perlahan di antara keheningan malam. Ia tidak menasihati, tapi menuntun. Ia tidak menggurui, tapi menemani. Di sela sesi, beberapa siswi memberanikan diri untuk bertanya. Bukan satu atau dua, tetapi hampir setiap barisan mengangkat tangan. Mereka mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari cara menjaga pertemanan yang sehat hingga bagaimana menghadapi rasa sensitif sebagai seorang perempuan. Siti Fatimah menanggapi semuanya dengan sabar dan jenaka, membuat suasana terasa ringan tetapi penuh makna. Greesha Snejanara, siswi kelas XII, mengaku kagum dengan cara Siti Fatimah menyampaikan materi. Menurutnya, gaya Siti Fatimah yang santai tetapi mengena membuat teman-temannya sampai berebut ingin bertanya. “Rasanya seperti ikut sesi pengajian di hotel berbintang, tapi lebih keren, karena yang berbicara benar-benar memahami dunia kami,” ujarnya sambil tertawa. Pulang ke Ruang Penyembuhan Diri Dari luar, mungkin sesi itu tampak seperti obrolan malam biasa. Namun bagi para siswi, sesi itu menjadi semacam ruang penyembuhan kecil. Menjadi tempat mereka bisa mengenali kembali diri, memahami emosi, dan belajar mencintai diri dengan cara yang lebih tenang. Saat sesi berakhir, Siti Fatimah menutup dengan pesan lembut, “Kalau hatimu baik, hidupmu akan menemukan arah. Jagalah hatimu, karena dari situlah semua kebaikan tumbuh.” Siswi menyambut ucapan itu dengan senyum dan tepuk tangan pelan. Tidak ada teriakan atau sorakan, hanya rasa hangat yang mengalir di udara dini hari itu. Banyak siswi menunduk, mungkin sedang memeluk pelajaran yang baru mereka temukan, bahwa menjadi perempuan beriman bukan sekadar kuat, tetapi juga mampu merawat hati agar tetap lembut. Malam itu, lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga ruang pulang bagi banyak hati muda. Di bawah cahaya bulan yang samar, Mabit Putri Smamdela membuktikan satu hal: perjalanan menuju nurani sering kali dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mendengarkan, merenung, dan belajar kembali mencintai diri sendiri dengan iman. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co
Kabar Baik untuk Perempuan: Pesan Surga di Mabit Putri Smamdela

SMAMDELAGRES — Malam di lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme terasa berbeda. Langit yang baru saja menuntaskan senja diselimuti cahaya lembut lampu sorot, sementara angin membawa aroma tanah dan rumput yang lembap. Di antara hamparan tikar dan sajadah yang tersusun rapi, ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) duduk dengan wajah penuh antusias. Malam itu, mereka bersiap menapaki perjalanan hati dalam Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani—Nurturing Iman dan Nilai Islami.” Kegiatan yang bermula selepas salat Isya berjamaah membuka suasana teduh dan khusyuk, 30 Oktober 2025. Suara imam yang masih terngiang dari pengeras suara masjid sekolah seolah menjadi pengantar menuju malam yang penuh makna. Deretan siswi menyampaikan kultum secara bergantian yang singkat, tetapi sarat pesan. Ada yang berbicara tentang sabar, tentang menjaga lisan, hingga tentang rasa syukur sederhana. Walaupun dengan suara bergetar, isi kultum mereka menyentuh, menjadi refleksi kecil bahwa iman juga tumbuh dari keberanian untuk berbagi kebaikan. Selepas rangkaian kultum, seluruh peserta duduk lebih rapat, menatap ke arah depan di tengah lapangan. Angin berembus syahdu, menghadirkan suasana hangat meskipun malam makin larut. Wakil Kepala Sekolah Bidang Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab, Lukman Arif, S.Pd.I, yang akrab dengan sapaan Pak Luk, maju memberi sambutan. Anugerah Hati Lembut Pembuka Pintu Surga Lukman Arif membuka sambutan dengan kalimat yang segera menarik perhatian, menggunakan suara yang lembut tetapi berwibawa. “Perempuan itu punya banyak kabar,” ujarnya, memandang lembut ke arah barisan siswi di depannya. “Kabar bahagianya, Allah memuliakan perempuan dengan cinta dan kelembutan. Tetapi kabar buruknya, perempuan juga disebut paling banyak di neraka,” ungkapnya. Sekejap suasana lapangan menjadi hening. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang terdengar. Banyak siswi yang tertegun, tetapi tak lama, Lukman Arif melanjutkan dengan senyum hangat. “Namun kabar baiknya… perempuan juga paling banyak masuk surga. Karena Allah menganugerahkan hati yang lembut. Dan bila perempuan menjaga imannya, kesabarannya, serta lisannya, surga akan dekat dengannya,” imbuhnya. Ucapan itu seperti menembus ruang hening malam. Beberapa siswi menunduk, sebagian tersenyum, dan ada pula yang menatap kosong ke depan, mungkin tengah merenungi kalimat demi kalimat yang menyentuh hati. Dalam sambutannya, Lukman Arif berbicara bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan menggugah kesadaran. Ia menyinggung bagaimana perempuan muda di zaman kini kerap tertantang untuk menjaga nilai dan jati diri di tengah derasnya arus tren dan teknologi. “Kalian hidup di masa yang serbacepat. Tetapi jangan sampai kehilangan arah. Menjadi Nurani itu berarti menumbuhkan iman dan nilai Islami di tengah kesibukan dunia yang sering melalaikan,” ucapnya. Refleksi dan Komitmen Muslimah Beriman Berikutnya, Lukman Arif menekankan, kegiatan Mabit bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan momen untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, membersihkan niat, dan memperbarui komitmen sebagai muslimah yang beriman. “Jangan remehkan kebaikan kecilmu,” tambahnya di penghujung sambutan. “Kadang surga itu tidak jauh, ia tersembunyi di balik sabarmu, maafmu, dan doa yang kamu ucapkan diam-diam malam ini.” Suasana lapangan mendadak terasa jauh lebih hangat. Beberapa siswi menatap teman di sebelahnya dengan senyum pelan, seolah mengamini pesan itu. Tepuk tangan kecil terdengar bukan karena seremonial, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas kata-kata yang menenangkan. Pembukaan Mabit Putri Smamdela malam itu terasa lebih dari sekadar acara. Ia adalah ruang pulang bagi ratusan hati muda yang sedang belajar mengenal Allah lebih dekat. Tema “Menjadi Nurani” seolah hidup dalam suasana malam itu: lembut, reflektif, dan penuh makna. Usai sambutan, suasana mencair dalam makan malam bersama. Celoteh dan tawa ringan terdengar di antara barisan siswi, menandai kehangatan yang tumbuh setelah perenungan. Malam itu bulan memancarkan kuningnya yang berpendar, berpadu dengan cahaya bintang yang malu-malu di langit Cerme disertai lantunan musik religi mengalun lembut. Di antara gemerlap cahaya dan suara lantunan lirik itu, satu hal menjadi jelas, malam itu bukan sekadar kegiatan sekolah. Melainkan perjalanan spiritual yang menyapa hati, menumbuhkan nurani, dan menyalakan kembali cahaya iman dalam diri setiap siswi Smamdela. Malam di Cerme itu menjadi bukti, iman bisa tumbuh dari suasana sederhana, dari kebersamaan, renungan, dan niat yang dijaga dengan nurani. Karena menjadi Nurani bukan sekadar tema, tetapi perjalanan agar setiap langkah dan niat selalu bertumbuh dari iman dan nilai Islami. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co