SMAMDELAGRES — Jarum jam menunjuk pukul dua dini hari. Suara lembut panitia memecah keheningan lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme (31/10/2025). Udara dingin menyergap kulit, tetapi ratusan siswi SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) bangun dari tidurnya.
Dengan mata masih setengah terpejam dan langkah perlahan, mereka bergerak menuju masjid sekolah. Mereka melaksanakan salat lail berjamaah, sebuah momen paling sakral dalam rangkaian Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Putri bertema “Menjadi Nurani (Nurturing Iman dan Nilai Islami).”
Dunia seakan masih terlelap. Ratusan siswi Smamdela bangkit menjemput ketenangan, membiarkan diri mereka bersentuhan dengan sunyi dan ayat-ayat langit. Tidak ada hiruk pikuk yang terdengar, hanya suara gemerisik langkah di antara kain mukena dan hembusan angin yang menyingkap tirai malam. Dari kejauhan, cahaya lembut lampu menerangi wajah-wajah muda yang tengah belajar memaknai kedekatan dengan Sang Pencipta.
Imam lantas mengangkat takbir, dan suasana berubah hening. Ratusan siswi berdiri sejajar, mengangkat tangan, menundukkan kepala, lalu bersujud dalam kesunyian yang nyaris sempurna. Di antara diam dan doa itu, muncul getaran yang sulit dijelaskan—seperti rindu yang akhirnya menemukan arah pulang.
Bagi sebagian siswi, inilah kali pertama mereka melaksanakan salat malam secara berjamaah. Mereka tidak menunjukkan kantuk atau keengganan; justru kekhusyukan menyelimuti suasana sehingga segalanya terasa ringan dan indah. Beberapa siswi bahkan meneteskan air mata perlahan saat doa panjang selesai mereka panjatkan di ujung salat witir.
Setelah salat, kegiatan mereka berlanjut dengan tadarus Al-Qur’an. Lantunan ayat suci terdengar lembut, menggema dari berbagai sudut. Suara mereka belum tentu fasih, namun ada kejujuran dalam setiap bacaan. Seolah setiap huruf menjadi jembatan antara hati dan langit.
Sampaikan Pesan Tulus di Tengah Sunyi
Di sela tadarus, panitia memberikan waktu bagi peserta yang telah siap untuk menyampaikan kultum singkat. Siswi-siswi maju satu per satu, berbicara dengan suara pelan tetapi penuh keyakinan. Tema yang mereka angkat sederhana saja, seperti bersyukur, menjaga hati, hingga pentingnya salat malam demi ketenangan batin. Meskipun singkat, setiap kata yang terucap terasa tulus dan memantul di dinding lapangan bagai gema yang enggan pergi.
Salah satu guru pembina, Abdillah Rosyid, menyampaikan, sesi dini hari ini bukan hanya persoalan ibadah, melainkan latihan membangun kesadaran ruhani. “Kalian sedang belajar menemukan diri sendiri melalui sunyi,” ujarnya lirih, hampir seperti sebuah doa.
Menjelang pukul empat, tadarus mereka tutup dengan zikir dan doa bersama. Wajah para siswi tampak tenang, lelah, tetapi damai. Tak sedikit yang saling tersenyum sambil menatap satu sama lain, seolah mereka berbagi rasa yang sama: keheningan malam itu telah mengajarkan sesuatu yang tak tertulis di buku pelajaran mana pun.
Ketika azan Subuh berkumandang, cahaya jingga mulai menembus langit Cerme. Helaan napas panjang terdengar di antara barisan. Pagi itu, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga menapaki perjalanan batin yang membuat “iman” bukan lagi kata abstrak, melainkan rasa yang nyata di dada.
Bagi siswi-siswi Smamdela, malam Mabit itu akan selalu mereka ingat bukan karena kantuk atau dingin, tetapi karena di sanalah mereka menemukan versi diri yang lebih tenang, lebih lembut, dan lebih dekat dengan Allah Swt.
Jurnalis Liset Ayuni
Sumber : Tagar.co
