Kebun Stevia Bikin Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah Kagumi Taman Firdaus Smamdela

SMAMDELAGRES — Ahad pagi (26/10/2025), udara Gresik menyuguhkan kesejukan dan kebersihan setelah hujan semalam. Di halaman belakang SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), beberapa siswa asyik menyiram tanaman. Tawa renyah mereka berpadu mesra dengan aroma tanah basah. Di tengah taman kecil itu berdiri papan bertuliskan “Taman Firdaus”. Inilah kebun hasil karya siswa yang tumbuh dari ide sederhana pelajar untuk belajar mencintai alam lewat menanam. Pagi itu menjadi istimewa. Selesai Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cerme, sekolah kedatangan tamu spesial. Ialah Ketua LPCRPM Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Drs. H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi. Ia didampingi Bambang Suhermanto (PCM Cerme) dan Haris dari Majelis Tablig. Kunjungan mereka berupa silaturahmi ringan, tetapi berujung pada kejutan kecil: kebun Stevia buatan siswa Smamdela. Memasuki area taman, langkah Jamaludin terhenti di depan deretan tanaman hijau mungil yang tumbuh subur. Ia menatapnya penuh penasaran. “Saya tahu gula Stevia,” ujarnya pelan sambil tersenyum, “tapi baru kali ini saya melihat tanamannya langsung.” Ucapan sederhana itu sontak mengundang senyum lebar dari seluruh hadirin. Mereka tidak menyangka tanaman kecil yang rutin dirawat setiap pagi mampu memantik kekaguman seorang tokoh nasional Muhammadiyah. Tanam Nilai, Tuai Manfaat Kemudian, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Ahmad Rizal Azdka, S.Pd menjelaskan, Taman Firdaus adalah hasil kolaborasi siswa yang ingin belajar menanam tanaman bermanfaat. “Kami ingin anak-anak paham bahwa menanam bukan hanya soal biologi, tapi juga rasa tanggung jawab. Dari satu batang Stevia yang dulu mereka tanam, kini sudah tumbuh menjadi puluhan,” jelasnya. Stevia terkenal sebagai pengganti gula alami yang menyehatkan, cocok untuk penderita diabetes dan mereka yang ingin mengurangi konsumsi gula pasir. Dari daun kecil inilah siswa belajar, hal sederhana pun dapat membawa manfaat besar. Mereka belajar sabar menunggu tunas tumbuh, belajar merawat dengan konsisten, dan belajar memetik hasil tanpa tergesa. Bagi Jamaludin, kebun kecil ini menyimpan pesan besar. “Saya melihat semangat luar biasa di sini,” katanya saat berkeliling taman. “Anak-anak Smamdela tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam nilai. Nilai kepedulian, ketekunan, dan cinta terhadap ciptaan Allah.” Manis Sejati dari Niat Tulus Alhasil, kata-kata Jamaludin meneguhkan makna Taman Firdaus: taman yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual. Di sana, siswa belajar, kebaikan bisa tumbuh dari tanah yang sederhana, dan manis sejati bukan berasal dari gula, melainkan dari niat yang tulus. Ketika rombongan berpamitan, matahari perlahan sudah naik. Di antara deretan daun Stevia yang bergoyang lembut, tersisa semangat baru untuk terus menanam, belajar, dan berbagi manfaat. Taman Firdaus kini tidak hanya menjadi kebun sekolah, tetapi juga simbol kecil tentang bagaimana pendidikan dapat tumbuh manis seperti daun Stevia, yang membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum kagum. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co

Pemimpin Muda Smamdela Tumbuh dari Keikhlasan

SMAMDELAGRES — Halaman SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik tampak ramai, Senin pagi (20/10/2025). Udara masih sejuk, barisan siswa berdiri rapi, dan semangat Pemilihan Raya (Pemira) Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sudah terasa sejak bel masuk berbunyi. Di tengah hiruk pikuk itu, Ulil Albab duduk dengan tenang dalam arak-arakan mengitari lapangan, bersiap menyampaikan orasi visi misi. Tak banyak yang tahu, pagi itu Ulil sedang menahan sakit hebat. Namun, ia tetap melangkah pasti. Tepat setelah apel, ia mulai berbicara di hadapan guru dan teman-temannya. Suaranya lembut namun mantap, mengalirkan gagasan tentang kepemimpinan yang lahir dari keikhlasan dan pelayanan. Sekitar pukul 07.30 WIB, orasi selesai. Tepuk tangan menggema di seluruh lapangan. Namun beberapa menit kemudian, tubuh Ulil goyah. Wajahnya pucat. Ia pun segera dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis. “Sejak malam memang agak lemas, tapi saya ingin tetap hadir. Ini bentuk tanggung jawab saya,” ujarnya pelan mengenang kejadian itu. Meski dokter menyarankan istirahat, siang harinya Ulil kembali ke sekolah. Ia datang tepat waktu untuk mengikuti Debat Publik pukul 12.30–14.00 WIB di aula. Langkahnya pelan, tapi sorot matanya penuh tekad. Ia berdiri di depan, memegang mikrofon, dan mulai bicara. Suaranya terdengar serak, namun setiap kalimat mengalir jujur. Ia berbicara tentang amanah, keikhlasan, dan pentingnya hadir untuk sesama. Teman-temannya yang duduk di bangku peserta memperhatikannya dalam diam, sebagian kagum, sebagian terharu. Dalam tubuh yang masih lemah, Ulil membuktikan satu hal, semangat melayani tak boleh terkalahkan oleh rasa sakit. Perjuangan Berlanjut Keesokan harinya, Selasa, 21 Oktober 2025, pagi-pagi sekali Ulil kembali ke puskesmas untuk mengambil hasil laboratorium. Namun bukannya beristirahat di rumah, ia justru melangkah lagi ke sekolah untuk mengikuti Pemira. yang dimulai pukul 10.15 di aula. Pemira mulai pukul 10.15 di aula. Ulil duduk di atas panggung bersama Bunga Revelian Nurjannah, kandidat lain Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik, Ulil menyaksikan satu per satu kader menyalurkan hak suaranya. Meski wajahnya masih tampak lelah, senyum kecil tak pernah lepas dari bibirnya. Suasana aula menegang saat panitia mulai membacakan hasil Pemira. Ketika nama Ulil Albab terkukuhkan sebagai Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik, ruangan seketika pecah oleh tepuk tangan. Beberapa teman yang tahu perjuangannya meneteskan air mata. Ulil menunduk, mengusap wajahnya pelan. “Kalau kemarin saya diuji dengan sakit, mungkin itu cara Allah mengajarkan arti ikhlas dalam pelayanan,” ucapnya lirih. Di tengah pelukan dan ucapan selamat, Ulil hanya tersenyum. Baginya, kemenangan ini bukan soal nama yang menang, melainkan tentang perjalanan belajar menyulam keikhlasan di tengah ujian. Kini, ia melangkah sebagai Ketua Umum PR IPM Smamdela Gresik yang baru dengan keyakinan sederhana, bahwa memimpin bukan berarti berdiri di depan, tetapi berjalan bersama dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas. (#) Jurnalis Liset Ayuni  Sumber : Tagar.co

Podcast Oasis Smamdela Hadirkan Prof. Sukadiono, Kupas Empat Syarat Jadi Pemimpin

SMAMDELAGRES — Ahad pagi (28/9/2025) ruang podcast SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, terasa berbeda. Bukan hanya karena suasana akhir pekan yang tenang, tetapi karena hadirnya tamu istimewa: Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Dalam program Oasis—Obrolan Asik dan Inspiratif—ia berbincang santai selama 15 menit, namun penuh makna. Percakapan berlangsung di ruang podcast yang sederhana namun hangat. Prof. Sukadiono duduk berhadapan dengan saya sebagai host, sementara di antara kami ada rangkaian bunga oranye dan putih yang memberi sentuhan segar. Kehangatan itu membuat obrolan terasa akrab, seolah berlangsung di ruang tamu keluarga. Sosok Prof. Sukadiono tentu tak asing di Muhammadiyah. Sebelum menjabat Ketua PWM Jawa Timur, ia pernah memimpin Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai rektor tiga periode. Kini ia dipercaya mengemban amanah baru sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kemenko PMK RI. Jejak panjang kepemimpinannya di bidang pendidikan, kesehatan, dan organisasi membuat kehadirannya di Smamdela menjadi momen berharga untuk belajar langsung tentang makna menjadi pemimpin. Benih Kepemimpinan sejak Kecil Dalam obrolan, Prof. Sukadiono mengaku sejak kecil sering dipercaya sebagai ketua kelas atau koordinator kegiatan di sekolah dasar. “Entah kenapa, saya selalu didorong untuk maju, meskipun waktu itu belum paham betul apa arti kepemimpinan,” kenangnya sambil tersenyum. Kisah sederhana itu disambut tawa, namun menyiratkan pesan bahwa kepemimpinan sering lahir dari pengalaman kecil yang konsisten diasah. Meski kini dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, ia baru benar-benar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ketika kuliah. “Di daerah saya dulu (Jombang), organisasi Muhammadiyah belum sekuat sekarang. Jadi pengalaman saya ber-IPM justru baru saat mahasiswa,” ujarnya. Pengalaman itu, katanya, menegaskan bahwa tak ada kata terlambat untuk menapaki jalan organisasi. Kepada pelajar, dia menekankan pentingnya menjaga marwah diri. “Jangan sampai terseret perilaku nakal seperti judi atau miras, karena itu bisa merusak harga diri seorang pelajar,” pesannya. Menurutnya, pelajar yang baik bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan terbuka pada ilmu. Empat Syarat Pemimpin Dalam perbincangan yang santai namun sarat makna itu, Prof. Sukadiono kemudian menyinggung empat syarat utama yang menurutnya harus melekat pada diri seorang pemimpin. Pertama, pemimpin sejati harus senantiasa menjaga akhlakulkarimah. Baginya, akhlak bukan sekadar atribut, melainkan fondasi moral yang menjadi ukuran integritas seorang pemimpin. Kedua, seorang pemimpin wajib istikamah dalam menjalankan amanah. Konsistensi inilah yang akan membuat kepercayaan tumbuh dan kepemimpinan bisa bertahan. Ketiga, ia menekankan pentingnya sikap rendah hati untuk terus belajar. Membaca buku, memperluas wawasan, dan mencari ilmu dari berbagai sumber adalah jalan panjang yang tidak boleh ditinggalkan. Dan yang terakhir, ia mengingatkan satu hal yang sering dianggap sepele, tetapi justru menjadi sumber kekuatan batin: salat tahajud. Dengan nada tegas ia menuturkan, “Tahajud itu bukan hanya soal ibadah, tapi juga cara melatih kedekatan spiritual seorang pemimpin dengan Allah.” Faktor Internal dan Eksternal Ia juga menguraikan dua faktor dalam kepemimpinan. Faktor internal adalah bagaimana seorang pelajar menjaga dirinya: haus akan ilmu, berakhlak, dan berkomitmen. Sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan yang mendukung, mulai dari fasilitas sekolah hingga sistem yang menciptakan ruang aman untuk tumbuh. Bagi pelajar Muhammadiyah, sekolah disebutnya sebagai laboratorium kepemimpinan yang efektif. Di sinilah mereka tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga berlatih organisasi, belajar manajemen, melatih tanggung jawab, dan membangun jejaring positif. “Kalau pelajar Muhammadiyah bisa memaksimalkan sekolah dan organisasinya, insyaallah mereka siap melangkah lebih jauh di masa depan,” ucapnya penuh keyakinan. Pesan Penutup Meski singkat, percakapan 15 menit itu terasa padat. Ada tawa hangat saat ia mengenang masa kecil, ada pula keheningan hening saat ia menegaskan pentingnya tahajud. Semua berpadu menjadi potret sisi manusiawi sekaligus visioner dari seorang Ketua PWM Jawa Timur. Sebelum menutup obrolan, Prof. Sukadiono menyampaikan pesan yang menancap kuat: “Kalau akhlak dijaga, ilmu terus dicari, istiqomah dilatih, dan tahajud tidak ditinggalkan, insyaAllah pelajar bisa tumbuh jadi pemimpin yang membanggakan.” Podcast penuh inspirasi ini segera tayang di kanal YouTube Smamdela. Hanya 15 menit, tapi sarat makna—layak ditunggu oleh siapa saja yang ingin belajar kepemimpinan dari pengalaman langsung seorang pemimpin Muhammadiyah Jawa Timur. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co

Jelajah Alam Smamdela: Saat Belajar Kepemimpinan Jadi Petualangan Seru

SMAMDELAGRES — Suara riuh tawa dan langkah beriring terdengar sejak pagi ketika 37 peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) IPM SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) memulai Jelajah Alam. Kegiatan yang berlangsung 25–27 September 2025 di Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur,  ini menghadirkan suasana berbeda: para kader diajak keluar dari ruang villa, menyatu dengan alam, dan menemukan jeda di antara padatnya materi kepemimpinan. Menyatu dengan Sawah dan Sungai Perjalanan diawali dengan menapaki jalan setapak menuju area persawahan yang dialiri sumber mata air jernih. Begitu sampai, sebagian peserta langsung melepas alas kaki. Mereka menyusuri pematang, saling menciprat air, hingga tertawa lepas bersama. Gemericik air yang mengenai kaki dan teriakan heboh menciptakan momen penuh keceriaan. Suasana makin hangat ketika peserta berbaris dengan seragam oranye, topi biru, dan syal hijau. Mereka menyambut instruktur dengan tepuk semangat yang kompak, tangan terangkat tinggi seakan menyalurkan energi positif. Pemandangan itu menambah warna perjalanan, memperlihatkan antusiasme sekaligus kekompakan khas anak muda yang sedang belajar kepemimpinan. Kreativitas dari Alam Namun, perjalanan ini bukan sekadar bermain. Di setiap pos tersedia tantangan berbeda. Pos pertama dipandu Zulfikar yang mengajak peserta merangkai bunga dari tanaman sekitar. Aktivitas sederhana itu justru memunculkan kreativitas sekaligus kekompakan. Setiap rangkaian bunga membawa cerita, seolah simbol kebersamaan yang tumbuh di antara mereka. Langkah berlanjut ke Pos 2. Kali ini, Rafi Rasyidin dan Makhda Syadana mengajak peserta duduk melingkar untuk berbagi kisah. Dari pengalaman selama LDKS, refleksi ringan, hingga cerita personal mengalir apa adanya. Tidak ada jarak, semua setara. Suasana akrab membuat tawa dan renungan bergantian hadir, memperkuat ikatan emosional antar peserta. Basah Kuyup, tapi Penuh Makna Puncak keseruan tersaji di Pos 3 bersama Awalul Nanda dan Novianti Laura Angelis. Mereka mengulas kembali pengalaman jurit malam dengan santai, lalu menutup sesi dengan bermain di sungai kecil. Basah kuyup tak jadi masalah. Justru di situlah mereka merasakan kebersamaan paling lepas, tanpa beban, hanya rasa syukur karena bisa belajar sambil bersenang-senang. “Menurut saya, Jelajah Alam ini bagian paling menyenangkan. Rasanya seperti pulang ke masa kecil, main di sawah tanpa peduli kotor atau basah. Tapi lebih dari itu, kami belajar menikmati kebersamaan dengan cara sederhana,” ungkap Siti Rasyada, salah satu peserta LDKS. Belajar dari Tawa dan Peluh Jelajah Alam membuktikan bahwa LDKS bukan hanya soal teori kepemimpinan. Ada ruang untuk merawat jiwa, menumbuhkan kebersamaan, dan belajar menghargai hal-hal sederhana. Bagi kader IPM Smamdela, momen ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pemimpin yang tangguh lahir tidak hanya dari diskusi serius, melainkan juga dari tawa, peluh, dan kebersamaan yang dibagi di tengah alam. (#) Jurnalis Diesta Niken Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co

Tradisi Jalan Kaki LDKS Smamdela: Militansi dan Empati ala Pendaki Kalcer

SMAMDELAGRES — Kabut tipis masih menari di udara pegunungan ketika Kamis pagi (25/9/2025), 37 pelajar SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, berkumpul di Bundaran Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tepat pukul sembilan, langkah-langkah mereka serentak menapak, menyusuri jalur menanjak selama dua jam menuju Villa Asia Jaya, lokasi utama Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) tahun ini. Dengan wajah dicoret warna hitam dan bekal di tangan, para peserta meniti jalan menanjak dengan napas teratur dan irama langkah yang kompak. Tepat pukul sebelas siang, rombongan tiba dengan sorot mata berbinar. Bukan hanya karena berhasil menaklukkan rute yang melelahkan, tetapi juga karena rasa kebersamaan yang tumbuh di sepanjang perjalanan. Tradisi Jalan Kaki yang Jadi Identitas Bagi warga Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Smamdela, tradisi jalan kaki yang mereka sebut re-treat bukan sekadar kegiatan seremonial. Sejak lama, ia menjadi ritual pembuka LDKS—warisan yang dijaga dari generasi ke generasi. Dua pekan sebelum keberangkatan, panitia sudah menggembleng peserta dengan latihan fisik. Bukan semata melatih otot dan pernapasan, tetapi juga menanamkan disiplin, mengasah mental, sekaligus memupuk militansi. Coretan hitam di wajah pun bukan hiasan asal. Ia menjadi simbol keteguhan hati, keberanian menghadapi tantangan, sekaligus tanda kesiapan untuk masuk ke barisan calon pemimpin muda yang tidak mudah gentar. Vibes “Pendaki Kalcer” Di kalangan Gen Z, istilah “kalcer” kini populer sebagai gaya gaul menyebut culture. Dari situlah lahir istilah “pendaki kalcer”—pendaki yang naik gunung bukan sekadar menaklukkan puncak, melainkan untuk merayakan vibes kebersamaan, mengabadikan momen estetik, dan menikmati serunya perjalanan. Re-treat PR IPM Smamdela menghadirkan nuansa yang serupa. Perjalanan dari Bundaran Pacet ke Villa Asia Jaya bak pendakian mini: udara dingin, jalur menanjak, hingga rasa lega saat tiba di tujuan. Setiap langkah bukan hanya memendekkan jarak, tetapi juga menghidupkan empati, kerja sama, dan gairah kebersamaan layaknya komunitas pendaki kalcer. Grow Together, Lead with Character Tema LDKS 2025, “Grow Together, Lead with Character”, menemukan wujudnya sepanjang perjalanan itu. “Grow together” tercermin ketika 37 peserta berjalan seirama, saling menunggu dan saling menguatkan agar tak ada yang tertinggal. Sementara “lead with character” terlihat dari spontanitas memimpin kelompok kecil, memberi semangat kepada yang lelah, dan menunjukkan kepedulian tulus tanpa menunggu jabatan. “Pemimpin bukan hanya yang paling kuat, tetapi yang paling peduli,” ungkap A. Rizal Azdka, Wakil Kepala Smadea Urusan Kesiswaan Smamdela, saat menyambut rombongan dengan bangga. Sentuhan Lokal dan Kenangan yang Membekas Tahun ini panitia menambahkan sentuhan khas Gresik. Lima kelompok peserta dinamai berdasarkan makanan tradisional: Ayas, Pudak, Jubung, Krawu, dan Bonggolan. Identitas lokal itu menyatu dengan semangat kepemimpinan, menegaskan bahwa menjadi pemimpin juga berarti berakar pada budaya sendiri. Bagi para alumni, momen jalan kaki ini kerap jadi kenangan paling membekas, bahkan lebih berkesan daripada materi kelas. Ketika seluruh rangkaian LDKS usai, para peserta tak hanya pulang dengan sertifikat, tetapi dengan kesadaran bahwa kepemimpinan sejati adalah perjalanan panjang, penuh tanjakan, yang hanya bisa ditaklukkan bersama dengan empati dan militansi. Layaknya pendaki kalcer yang pulang membawa kisah, peserta LDKS PR IPM Smamdela kembali dengan cerita bahwa memimpin berarti berjalan bersama orang lain, dan justru di situlah karakter ditempa. Jurnalis Penyunting Mohammad Nurfatoni Sumber : Tagar.co

Futsal Smamdela Raih Juara 3

SMAMDELAGRES — Sorakan, pelukan, hingga air mata mewarnai perjalanan tim SMA Muhammadiyah 8 Cerme, Gresik, di ajang Raya Sport Futsal 2025 di Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP) Gresik, Sabtu (13/9/2025). Meski mimpi ke final harus runtuh karena undian koin, skuad muda ini pulang dengan kepala tegak, membawa trofi juara 3 kategori SMA/SMK. Menjadi cerita berharga tentang arti perjuangan tim futsal Smamdelagres, sebutan populer SMA Muhammadiyah 8 Gresik. Sejak awal, pelatih Arief Junaidi, S.Pd dan Ricky Maulana Ferdiansyah, S.Or menekankan lima fondasi tim: fisik, teknik, taktik, leadership, dan mental. Anak-anak disiplin latihan, menjaga pola makan, hingga istirahat tepat waktu. Hasilnya terlihat di lapangan. Setelah seri 3-3 melawan SMKM 1, mereka bangkit dengan kemenangan telak atas SMK YPI Darussalam 1 (3-0), dan SMAN 1 Kebomas B (4-0). Perjalanan makin panas di babak 8 besar ketika mereka menumbangkan SMKN 1 Duduksampeyan dengan skor tipis 1-0. Lalu tibalah semifinal. Skor 1-1 melawan SMAN 1 Kebomas A berlanjut ke adu penalti. Berakhir imbang 3-3. Lapangan hening. Semua mata tertuju pada undian nasib pada koin kecil yang dilempar. Koin jatuh menghentikan jalan menuju final . Pahit, tapi nyata. Namun dukungan dari tribun tak pernah padam. Casual M8, suporter setia Smamdela dengan atribut biru navy yang serasi dengan kostum tim berwarna biru, memenuhi tribun. Nyanyian bangga mereka menggema setiap kali Smamdelagres berlaga, jadi energi tambahan yang membuat tim tak kehilangan semangat. Di perebutan juara 3, mental baja itu terbukti. Smamdelagres menumbangkan SMK YPI Darussalam 1 dengan skor 3-1. Kapten tim, M. Revan Ramadhani (XI IPA 1), mengaku bangga dengan kerja keras rekan-rekannya. “Kami sudah berjuang sampai akhir. Walaupun gagal ke final, tapi semangat tim nggak pernah turun. Juara 3 ini buat sekolah dan semua yang dukung kami,” ujarnya dengan wajah lega. “Anak-anak sudah fight habis-habisan. Kalah di semifinal lewat toast koin memang pahit, tapi justru itu jadi pelajaran berharga. Yang penting mereka sudah menunjukkan karakter juara,” tambah coach Ricky. Apresiasi untuk Pemain Tim futsal Smamdelagres sebanyak 12 personel terdiri pemain inti dan cadangan. Revan Ramadhani (XI IPA 1) – Kapten Tim Fahcri Ilham Akmal Wahab (XI IPA 1) Zulfikar Amirullah (XII-3) Johan Armando Letlora (X-3) Habibur Rohman (XI IPS) Farell Firmansyah Salim (XII-2) – Cadangan Revand Mahendra (XII-3) – Cadangan Rasya Dafa Alfianto (XII-3) – Cadangan Rifal (XII-4) – Cadangan Fajar Arshavin (XI IPA 2) – Cadangan Moh. Rizky Ardiansyah (X-3) – Cadangan Aqilah Maheswara Putranto (X-3) – Cadangan Pemain dengan posisi masing-masing telah memberi warna permainan di lapangan. Setiap blok, tekel, gol, hingga dukungan dari bangku cadangan adalah bagian dari cerita kemenangan. Mereka pulang bukan hanya dengan piala, tapi juga pengalaman berharga bahwa kerja keras dan kebersamaan selalu jadi kunci kemenangan sejati. (#) Penulis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co

Tari Saman Smamdela Membuat Penonton Tersihir

SMAMDELAGRES — Suasana pagi di Lapangan SKB Cerme, Gresik, masih dipenuhi keceriaan warga yang berdatangan untuk mengikuti peringatan HUT ke-80 RI, Ahad (17/8/2025). Riuh rendah obrolan dan semangat merah putih sudah terasa. Dari kejauhan, derap tepukan tangan dan syair khas Tari Saman perlahan menghangatkan suasana, menarik perhatian setiap mata yang hadir. Tari Saman dari SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik tampil sebagai pengisi acara sebelum upacara dimulai. Permintaan tarian ini datang dari Camat Cerme Umar Hasyim dua hari sebelum acara. Koordinasi awal dilakukan dengan Waka Kesiswaan, Lukman Arif, S.Pd.I. Sejak saat itu, siswa-siswi yang tergabung dalam tim tari Saman langsung menyiapkan diri. Ketika latihan dimulai di awal Agustus, posisi Waka Kesiswaan Smamdela berganti dijabat oleh A. Rizal Azdka, S.Pd. yang mendampingi hingga penampilan di hari H. Latihan intensif berlangsung selama dua pekan. Nama-nama penampil dipilih melalui koordinasi di grup tari. Siapa saja yang bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan sekolah. “Paling sulit mengumpulkan 30 anak dengan jadwal berbeda-beda. Belum lagi tari Saman itu harus kompak. Kadang suara sound kurang terdengar keras, jadi aba-aba Ra pun tebak-tebakan,” cerita Safaatul, siswi kelas XII yang menjadi salah satu penampil sambil tersenyum mengenang masa latihan. Semua kesulitan terbayar ketika tibanya 17 Agustus. Pagi itu, 30 siswa penari Saman duduk rapi dalam satu barisan panjang di atas karpet yang mereka bawa sendiri. Biasanya tari Saman dimainkan dengan dua hingga tiga barisan, tapi kali ini tim harus menyesuaikan kondisi lapangan yang gersang dan berlubang untuk mengurangi risiko cedera. Dengan kostum cerah berwarna-warni, wajah para penari tampak berseri-seri, menebarkan senyum manis rupawan yang memikat penonton. Dentuman tepukan dan syair khas Aceh menggema, berpadu dalam gerakan yang kompak. Grogi yang sempat menyelimuti berubah jadi keberanian. “Awalnya deg-degan, tapi begitu musik dimulai, rasa itu hilang. Saya bangga sekaligus terharu bisa membawakan tari Saman di momen penting ini,” ujar Safaatul. Penonton memberi tepukan gemuruh atas penampilan itu yang rancak ini. Waka Kesiswaan, A. Rizal Azdka, S.Pd., merasa bangga dengan penampilan siswanya. “Ini bukti bahwa anak-anak Smamdela mampu berkontribusi nyata, bukan hanya di sekolah tapi juga di masyarakat. Tari ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk cinta pelajar pada budaya Indonesia,” ujarnya. Tari Saman Smamdela mempercantik panggung kemerdekaan di Cerme. ”Semoga penampilan kami memberi kesan baik, menghibur, sekaligus mengingatkan semua orang bahwa budaya Indonesia itu luar biasa kaya dan harus kita jaga bersama,” ujar Safaatul. Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co

Jalan Santai Menyusuri Tanggul Kali Lamong

SMAMDELAGRES — Lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme Gresik tak seperti biasanya, Selasa pagi (18/8/2025). Sejak pukul 07.00, ratusan siswa, guru, dan karyawan dari SD Al-Islam, SMP Muhammadiyah 7, SMA Muhammadiyah 8, hingga SMK Muhammadiyah 3 Gresik sudah berkumpul dengan wajah berbinar. Mereka bersiap mengikuti jalan santai yang menjadi bagian dari agenda puncak peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 di Perguruan Muhammadiyah Cerme. Rombongan siswa dan guru SMA Muhammadiyah 8 mengenakan seragam Hizbul Wathan (HW).  Ini berbeda dengan peserta lain yang mengenakan kaus olahraga. Pilihan seragam HW ini dengan pemikiran, kepanduan Muhammadiyah ini telah melahirkan banyak tokoh pejuang bangsa, seperti Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dengan balutan seragam HW, para siswa ingin merepresentasikan semangat sang jenderal: meski tubuh bisa lelah, semangat perjuangan tak boleh padam. Seperti pesan Jenderal Sudirman, “Menjadi kader Muhammadiyah itu berat. Ragu dan bimbang, lebih baik pulang.” Dentuman musik dan sapaan hangat mengantar langkah rombongan meninggalkan lapangan. Jalur yang ditempuh berbeda dari biasanya. Siswa diajak menelusuri tanggul Kali Lamong di belakang sekolah. Suasana rindang dan lapang menghadirkan keteduhan membuat siswa merasakan angin segar di alam terbuka. Namun jalan setapak di atas tanggul cukup licin. Peserta hanya bisa berjalan satu per satu, membuat barisan panjang mengular ke belakang. Di situlah suasana berubah menjadi lebih semarak. Kayyisil Fikri dan Dandy Firmansyah, dua siswa SMA Muhammadiyah 8, tiba-tiba melepas teriakan lepas ke udara. Suara mereka bergema, bersahut-sahutan dengan alam, seperti tengah bercakap dengan semesta. Gelak tawa segera menyusul, gurauan mereka disambut kawan-kawan lain. Alam yang semula hening mendadak riuh oleh energi remaja. “Jalan sehat ini menjadi sarana bagi siswa untuk melepaskan emosi mereka. Tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga menyehatkan jiwa,” tutur Bu Mely Tri,S.Pd, guru Ekonomi SMA Muhammadiyah 8 yang turut mendampingi. Menurutnya, rutinitas kelas sering membuat siswa terkungkung dalam ritme yang sama, sementara jalan sehat semacam ini memberi ruang untuk menyegarkan pikiran. Jalan sehat hari itu akhirnya berujung di garis akhir. Bagi keluarga besar Perguruan Muhammadiyah Cerme, kegiatan ini menjadi medium kebersamaan lintas jenjang yang mempererat ikatan persaudaraan. (#) Jurnalis Liset Ayuni  Sumber : Tagar.co

Rute Petualangan Self Discovery di Stand D-Gugu BK Smamdela

SMAMDELAGRES — Langkah kaki terasa ringan pagi itu, Rabu (13/8/2025). Lapangan SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik Jatim sudah disulap menjadi rimba mini. Suara tawa bercampur obrolan riuh terdengar di setiap sudut. Dari kejauhan, warna-warni kostum guru dan siswa bergerak lincah, serasa masuk ke dunia The Jungle of Jumanji. Hari itu kami menggelar D-Gugu (Unjuk Diri Guruku Guru Hebatku), tradisi tahunan di awal tahun pelajaran. Biasanya ini adalah ajang guru memamerkan media pembelajaran kreatif. Tahun ini kami mengemasnya seperti petualangan. Mengajak siswa berkeliling rimba D-Gugu untuk menemukan pengalaman belajar yang unik di setiap stan. Saya berada di rumpun umum yang menyebutnya sebagai Multivers. Singkatan dari Multivariable Universe. Rumpun ini memuat mata pelajaran DKV, PKN, BK, Seni Budaya, dan PJOK. Untuk tampil kompak, kami mengenakan atasan army, bawahan cream, rompi cream, dan jilbab cream. Di kepala, topi berhias burung mainan yang bisa mengepakkan sayap menjadi ciri khas kami. Burung ini melambangkan kebebasan untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Kenalan Sama Diri Sebagai guru BK bersama Noviya Wahyu Nuriya, S.Pd., kami sepakat membuat stan bertema Pameran Seru, Kenalan Sama Diri Sendiri. Kami ingin mengajak siswa bukan hanya bermain, tetapi juga mengenal dirinya sendiri melalui self-discovery. Kami mendesain aktivitas di stan BK seperti sebuah rute petualangan, di mana setiap tahap saling terhubung. Rute pertama, memancing ikan – menangkap kesadaran. Memulai perjalanan dari memancing ikan yang berisi pertanyaan reflektif. Ini adalah langkah awal untuk menangkap kesadaran siswa, tentang apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan alami. Ibarat memancing, kadang cepat mendapatkan jawaban, kadang butuh waktu dan kesabaran. Salah satu siswa, Qirania Indira dari kelas XI IPA 2, menjawab lantang saat ditanya cara membagi waktu. “Harus bagi prioritas, Bu. Kalau tidak, semua terasa numpuk,” ujar Qirania. Dari kesadaran inilah, petualangan berlanjut ke tahap berikutnya. Rute kedua, membuka kotak harta karun – menumbuhkan keyakinan diri. Setelah membawa hasil pancingan berupa kesadaran, selanjutnya mengajak siswa menuju kotak harta karun. Namun kuncinya bukan logam, melainkan mantra diri yang harus mereka ucapkan. Menariknya, mantra ini menggunakan bahasa Latin, seperti Ego in me credo yang berarti Aku percaya pada diriku. Filosofinya sederhana tapi kuat, yakni kepercayaan diri adalah kunci membuka peluang dan potensi diri. Kayyisil fikri, siswa XII-1, sempat bertanya sambil tersenyum terbata-bata membaca. “Apa arti maknanya, Bu?” tanyanya polos yang membuat suasana semakin hangat. Rute ketiga adalah tulis harapan di Papan I Wish – Tentukan Arah dan Tujuan. Setelah kesadaran muncul dan keyakinan diri tumbuh, saatnya menentukan arah. Di papan I Wish, siswa menuliskan harapan dan tujuan pribadi. Aktivitas ini melatih keterampilan goal setting, seperti dalam sesi konseling, agar dalam membuat target benar-benar spesifik, terukur, dan bermakna. Bonus Lollypop Rute keempat adalah Wordsearch Mengenal Diri – Asah Fokus dan Kesabaran. Selanjutnya, siswa menghadapi tantangan wordsearch berisi kata-kata positif tentangkepribadian dan potensi diri. Proses mencari kata ini mengasah fokus, sekaligus menjadi simbol bahwa menemukan jati diri adalah perjalanan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Dan terakhir, Lollypop – Penghargaan Proses Belajar. Menutup perjalanan dengan hadiah lollypop. Bukan sekadar permen, tapi simbol dopamine booster guna memancing rasa bahagia yang menjadi penutup manis dari proses belajar yang menyenangkan. Selaras Deep Learning Bagi saya, konsep ini sejalan dengan deep learning yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Deep learning mendorong siswa memahami materi secara mendalam. Mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman hidup, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta kesadaran diri. Kalau hanya paham teori tanpa pernah merasakannya, siswa akan cepat lupa. Tapi kalau mereka mengalami sendiri prosesnya, merasakan, merenungkan, lalu menarik kesimpulan, maka ilmu itu akan menetap. Itu inti deep learning. Lewat permainan ini, siswa bukan hanya menghafal teori self-awareness atau self-esteem, tetapi mempraktikkannya secara langsung, merasakannya, lalu membawa pulang pemahaman yang membekas. Menjelang akhir kegiatan, kami melihat siswa-siswa kembali ke kelas sambil tersenyum, tangan mereka memegang seonggok lollypop. Saat itu saya sadar, D-Gugu bukan sekadar pameran guru, melainkan perjalanan belajar yang hidup, menyenangkan, dan membekas. Karena pada akhirnya, mengenal diri adalah petualangan yang tak pernah benar-benar selesai. (#) Jurnalis Liset Ayuni. Sumber : Tagar.co

Membatik dari Sobekan Kertas

SMAMDELAGRES — Suasana berbeda tampak di meja Seni Budaya dalam pameran D-Gugu (Unjuk Diri Guruku Guru Hebatku) SMA Muhammadiyah 8 Gresik, Rabu (13/8/2025). Tidak hanya siswa yang antusias, juga juri Lomba Lingkungan Sekolah Madrasah Sehat (LLSMS) dari PDM Gresik ikut larut dalam aktivitas membatik dari potongan-potongan kertas. Alih-alih menggambar pola dari awal, para siswa diajak menempel potongan batik menjadi karya baru yang unik. Aktivitas sederhana namun kreatif. Hasilnya menggambarkan bahwa keindahan bisa lahir dari perbedaan. Sama seperti budaya Indonesia yang beragam tetapi tetap berpadu dalam harmoni. “Tujuan kami menghadirkan batik potongan ini, agar anak-anak belajar bahwa seni tidak harus rumit. Dari sesuatu yang sudah ada, kita bisa menciptakan makna baru. Sama halnya dengan budaya, berbeda tapi tetap satu,” ujar Ahmad Rizal Azdka, guru Seni Budaya Smamdela, sebutan populer SMA Muhammadiyah 8 Gresik. Kehadiran juri LLSMS membuat suasana semakin hidup. Mereka juga bergembira ikut menempel potongan kertas batik dengan hati-hati. Bahkan memberi komentar kagum pada hasil karya buatannya. Sorak kecil pun terdengar ketika motif yang ditempel perlahan membentuk pola batik yang indah. Aktivitas membatik ini merupakan bagian dari rumpun Multivers, yang menaungi mata pelajaran Seni Budaya, PJOK, BK, PKN, dan DKV. Multivers singkatan dari Multivariable Universe. Tahun ini, D-Gugu mengusung tema The Jungle of Jumanji, di mana setiap rumpun menjadi jalur petualangan yang mengajak siswa belajar lewat pengalaman nyata. Wakil Ketua PDM Gresik Ainul Muttaqin syuting bola basket ke keranjang saat berkunjung ke Smamdela. Shooting Basket Setelah itu riuh tepuk tangan terdengar di stan basket mini Smamdela. Di situ, siswa-siswi menjajal ketangkasan shooting bola basket yang menjadi bagian dari pameran D-Gugu (Demonstrasi Gugus Guru) bertema The Jungle of Jumanji. Siswa berbaris menunggu giliran. Lalu dengan penuh semangat melempar bola ke ring. Suasana terasa tegang sekaligus menyenangkan setiap kali bola hampir masuk. Ricky Maulana, S.Pd, guru PJOK, mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar permainan. “Shooting basket melatih fokus, koordinasi, dan konsistensi gerakan. Anak-anak belajar bahwa ketepatan tidak datang tiba-tiba, tapi dari latihan terus-menerus,” jelasnya. Di tengah rimba D-Gugu, stan PJOK menjadi tempat favorit. Keringat, tawa, dan semangat yang terpancar dari wajah siswa menunjukkan bahwa belajar bisa seseru ini ; seperti permainan, tapi penuh makna. (#) Jurnalis Liset Ayuni Sumber : Tagar.co

Bantuan

Pengaduan Layanan

Contact

smamuh8gresik@gmail.com

0812-3098-2066

(031) 7990357

© 2025 Copyright SMA MUHAMMADIYAH 8 GRESIK